Refleksi Milad Bung Hatta Ke-118, 12 Agustus 1902

Rabu, 12 Agustus 2020, 08:23 WIB

Bung Hatta/Net

“DAULAT tuanku (radja) mesti diganti dengan daulat rakjat! Tidak lagi seorang bangsawan, bukan pula seorang tuanku, melainkan rakjat sendiri jang radja atas nasibnja”. (Mohammad Hatta, Kumpulan Karangan, 1953, h. 75).

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi 12 Agustus 1902, di tengah kecamuk imprealisme kolonial. Keprihatinan terhadap nasib rakyat yang terus tertindas dan miskin, memantik  Hatta untuk bangkit, melawan.

Tatkala Hatta berusia enam tahun, praktik ketidakadilan dan ekspolitasi terlihat kasat mata. Hatta melihat, bagaimana keluarganya ditahan dan diangkut kereta ke Padang, kemudian disiksa tanpa jelas latar kesalahannya. Selain itu, praktik pemungutan pajak yang berlebihan terus membebani nasib rakyat.

Beranjak dari keprihatinan dan penderitaan rakyat itu, api nasionalisme Hatta terbakar. Tatkala melanjutkan studinya di Jakarta, Hatta kemudian mulai aktif di berbagai organisasi perjuangan. Dan sejak 1921, dia belajar di Belanda. Justru di Belanda, Hatta aktif di organisasi politik memperjuangkan nasib rakyat di Tanah Air.

Hatta mendeskripsikan struktur perekonomian Indonesia masa kolonial; ”...golongan atas ialah perekonomian kulit putih terutama bangsa Belanda ...Lapis ekonomi kedua yang menjadi perantara dan hubungan dengan masyarakat Indonesia berada kira-kira 90 persen di tangan orang Cihna dan orang Asia lainnya. Orang Indonesia yang dapat dimasukkan ke dalam lapis kedua ini paling banyak mengisi 10 persen dari lapis itu ... Lapis ketiga ialah perekonomian yang segala kecil; pertanian kecil, pertukangan kecil, perdagangan kecil dan lain-lain, itulah daerah ekonomi bangsa Indonesia. Pun pekerja segala kecil, kuli, buruh kecil dan pegawai kecil diambil dari dalam masyarakat Indonesia ini” (Hatta, 1985: 81).

Struktur itu hingga detik ini, belum berubah. Di tengah bergulirnya ”demokrasi politik”, partisipasi politik rakyat semakin terbuka, proses eksploitasi rakyat untuk kepentingan struktur lapisan atas terus berlanjut. Kondisi inilah yang disebut disarticulated socio-economic structure (Frank, 1972) dan backwash effect (Myrdal, 1973). Konsekuensinya, kesenjangan kian menganga.

Mengonfirmasi kondisi dipaparkan Hatta, menjadi jelas gagasan demokrasi ekonomi Hatta masih jauh ”panggang dari api”. Secara imperatif, Pancasila dan UUD 1945 yang diakui sebagai dasar negara wajib dilaksanakan sebagai raison d’etre demokrasi ekonomi.

Dalam demokrasi ekonomi rakyat yang berdaulat. Kata Hatta, rakyat itu jantung hati bangsa. Dan rakyat itulah yang menjadi ukuran tinggi derajat kita. Dengan rakyat itu kita akan naik dan dengan rakyat kita akan turun.

Namun, kondisi ekonomi rakyat belum mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan semakin sengsara. Dominasi penguasaan aset, jaringan dan informasi oleh pemilik modal kurang memberi ruang dan akses bagi tumbuh dan berkembangnya pelaku ekonomi rakyat.

Para pemiliki modal hanya menjadikan ekonomi rakyat sebagai obyek charity, belum ikhlas membangun kebersamaan dan persaudaraan, seperti yang diwantikan Bung Hatta. Demikian juga pemerintah, kebijakan pemihakan ekonomi rakyat baru sebatas ”proyek kemiskinan”.

Jelang ekonomi nasional memasuki pintu gerbang resesi saat ini, bahkan bisa jadi masuk dalam jebakan the great depression, ekonomi rakyat akan menjadi tulang punggung. Rakyat kembali akan ”dijual” sebagai sumber produksi. Dikorbankan untuk meningkatkan daya belinya melalui pelbagai fasilitas stimulasi ekonomi, agar ekonomi nasional tidak terkontraksi berulang-ulang.

Kelihatannya, ekonomi rakyat ditengok kembali jika ekonomi nasional terpuruk, itupun fasilitasi stimulasi itu tetap dikangkangi pemilik modal raksasa agar koridor ekonomi rakyat  berjalan sesuai keinginan politik dari pemilik modal yang bersekongkol dengan oligarki politisi.

Mukhaer Pakkanna
Rektor ITB Ahmad Dahlan Jakarta

Kolom Komentar


Sebelumnya

Mati Muda

Berikutnya

Profesi Laris

Video

BREAKING NEWS: Pasar Cepogo Boyolali Terbakar

Kamis, 17 September 2020
Video

Menguji Erick Thohir dan Jokowi, Kejanggalan Pertamina Gamblang Diurai Ahok

Jumat, 18 September 2020

Artikel Lainnya

Mati Muda
Publika

Mati Muda

20 September 2020 18:22
Profesi Laris
Publika

Profesi Laris

20 September 2020 17:06
Kisah Muhammad Dan Samir
Publika

Kisah Muhammad Dan Samir

20 September 2020 14:35
Sejarah Pengkhianatan PKI Akan Dihapus?
Publika

Sejarah Pengkhianatan PKI Ak..

20 September 2020 12:02
Mayoritas Dari Lima Prediksi LSI Denny JA Soal Virus Corona Sudah Dan Akan Terbukti
Publika

Mayoritas Dari Lima Prediksi..

20 September 2020 07:44
Peran K3 Dan Program Padat Karya Pemulihan Ekonomi Nasional
Publika

Peran K3 Dan Program Padat K..

20 September 2020 07:35
Penusuk Syekh Ali Jaber Pantasnya Kena UU Teroris
Publika

Penusuk Syekh Ali Jaber Pant..

20 September 2020 04:42
Jangan Sowan Rama Kiai Dulu
Publika

Jangan Sowan Rama Kiai Dulu

19 September 2020 08:37