Pertarungan Ketat Pilkada Tangsel, Benyamin Pilar Bisa Kalah, Asal...

Minggu, 02 Agustus 2020, 03:40 WIB

Tiga pasangan bakal calon di Pilkada Tangsel 2020/Net

TIGA bakal pasangan calon yang maju di Pilkada Tangsel 2020, semuanya memiliki peluang sama besar untuk menang, menggantikan walikota dua periode Airin Rachmi Diany.

Kenapa? Karena ketiganya adalah representasi tiga kekuatan dinasti yang tidak bisa dianggap remeh.

Dinasti Airin Rachmi Diany-Atut (Ratu Atut Chosiyah)-Wawan (Tubagus Chaeri Wardana) diwakili Benyamin Davnie-Pilar Saga.

Pilar adalah anak Ketua DPD Golkar Banten, Ratu Tatu Chanasah yang tak lain adalah adik dari Ratu Atut. Sejauh ini, partai yang mengusung baru partai Golkar. Tapi sudah cukup untuk mencalonkan sendiri tanpa harus berkoalisi dengan partai lain.

Dinasti KH Maruf Amin diwakili anaknya, Siti Nur Azizah, yang berpasangan dengan Ruhamaben. Maruf Amin sendiri saat ini merupakan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pasangan ini diusung oleh partai Demokrat dan PKS yang sudah melebihi syarat minimal untuk bisa mencalonkan.

Kemudian, dinasti Prabowo Subianto mengamanatkan kepada keponakannya, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Selain Ketua Umum Partai Gerinda, Prabowo saat ini menjabat sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Anak dari Hasyim Djojohadikusomo ini berpasangan dengan Muhamad yang didukung oleh PDIP dan Gerindra.

Ketiga klan di atas memiliki sumberdaya politik yang sangat besar, yang jika mampu dimaksimalkan oleh ketiganya bakal terjadi persaingan yang luar biasa ketat.

Meskipun Benyamin Davnie sudah 10 tahun menjabat sebagai wakil walikota mendampingi Airin, tetapi di banyak tempat jarang seorang wakil mampu mendapatkan keuntungan politik elektoral seperti halnya orang nomor satu.

Apalagi posisi elektabilitas Benyamin Davnie masih di bawah 50 persen. Angka yang masih riskan untuk seorang (separuh) petahana.

Untuk itu, Ben-Pilar berpotensi kalah jika paslon lainnya maksimal mengerahkan sumberdaya politik yang dimiliki.

Syaratnya, Muhamad-Saras dan Azizah-Ruhamaben harus segera turun gunung mengejar ketertinggalan elektoral dari pasangan Ben-Pilar yang dalam hal ini sebenarnya memiliki banyak kerapuhan.

Apa saja kerapuhan Benyamin-Pilar?

Kerapuhan pertama adalah ada pada figur Benyamin Davnie sendiri yang terlalu 'bergantung', khususnya bergantung kepada keluarga dinasti Airin, baik secara politik apalagi finansial.

Ini problem serius, karena Benyamin tidak akan leluasa untuk melakukan kerja-kerja politiknya selama semuanya tergantung dan dikendalikan oleh Pilar Saga yang anak Tatu Hasanah, adik Atut Chosyiah.

Terlebih, jika ada masalah di tengah jalan selama Pikada di antara mereka bisa berakibat dihentikannya saluran logistik dari keluarga Pilar, Benyamin bisa tamat.

Lama kelamaan, publik tahu dan melihat ketergantungan Benyamin yang tinggi kepada keluarga dinasti Airin-Wawan ini. Publik juga tahu apa konsekuensi dari ketergantungan tersebut.

Kerapuhan kedua ada pada angka strong voters pemilih Ben-Pilar yang tidak sampai separuh dari total pemilih Ben-Pilar seperti terlihat dari banyak survei.

Artinya lebih dari separuh pemilih Ben-Pilar berpotensi untuk berubah dan berpindah pilihan, meskipun tidak mudah untuk berpindah atau berubah karena perlu banyak alasan dan faktor.

Tetapi peluang tetap sangat terbuka dari aspek swing voters ini. Belum lagi ditambah dengan masyarakat yang belum mennentukan pilihan yang jumlahnya masih sangat tinggi, berkisar pada 20-30 persen.

Ketiga, situasi Covid-19 seperti saat ini membuat banyak sekali perubahan di masyarakat kita, termasuk dalam prilaku politik pemilih. Perubahan tersebut meniscayakan kebutuhan jumlah logistik yang jauh lebih banyak karena masyarakat dalam situasi susah dan tertekan secara ekonomi, masyarakat akan semakin permisif terhadap politik uang.

Problemnya, Benyamin Davnie yang bergantung dari logistik Tb Chairi Wardana atau Wawan kondisinya tidak seperti dulu. Wawan sekarang masih dikejar dengan masalah hukum dan TPPU yang belum selesai, saluran logistik bisa terhambat.

Belum lagi, Ibu dari Pilar Saga, Tatu Hasanah, pada saat yang sama juga sedang membutuhkan logistik yang tidak sedikit untuk mempertahankan jabatan yang kedua di Kabupaten Serang.

Akan tetapi, kerapuhan paslon Ben-Pilar itu tidak akan ada pengaruhnya sama sekali secara elektoral jika dua paslon lainnya tidak maksimal dan efektif memobilisasi sumberdaya politik yang dimiliki.

Jadi, Benyamin yang saat ini unggul atas dua paslon lainnya berdasarkan hasil survei, bisa dikalahkan. Asal dua paslon lainnya segera turun dan langsung masuk pada kecepatan maksimum.

Tentu saja diperlukan pendekatan-pendekatan baru yang lebih kreatif dan variatif, karena ruang kampanye akibat pendemik menjadi terbatas dan waktu yang dimiliki juga sangat pendek.

Harus diingat, kerja politik itu di manapun tidak ada yang instan. Diperlukan perencanaan yang matang dan kerja-kerja politik yang komprehensif.

Ali Irvan

Direktur Visi Research and Consulting 
EDITOR: AGUS DWI

Kolom Komentar


Video

Jokowi: Saya Tidak Tahu Sebabnya Apa, Minggu-minggu Terakhir Ini Masyarakat Khawatir Covid-19

Senin, 03 Agustus 2020
Video

FRONT PAGE | CATATAN KAMI, Dr Ahmad Yani

Jumat, 07 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Presiden-Presiden Dengan Rasa Malu & Sikap Tau Diri
Publika

Presiden-Presiden Dengan Ras..

08 Agustus 2020 19:01
Makin Ngawur Soal Gibran
Publika

Makin Ngawur Soal Gibran

08 Agustus 2020 07:19
Resesi Dihadapi Dengan Kedunguan
Publika

Resesi Dihadapi Dengan Kedun..

08 Agustus 2020 01:59
Bagaimana Individu Bersiap Hadapi Resesi
Publika

Bagaimana Individu Bersiap H..

07 Agustus 2020 20:44
HMP Versus Pengecut
Publika

HMP Versus Pengecut

07 Agustus 2020 10:03
Mereka Berteriak Dan Mempolitisasi Soal Reklamasi, Kita (Ancol) Memikirkan Kemanusiaan Di Saat Pandemik
Publika

Mereka Berteriak Dan Mempoli..

07 Agustus 2020 09:22
Krisis Akibat Covid-19 Sudah Masuk Tahap Kronis, Dan Recovery Sudah On The Track
Publika

Krisis Akibat Covid-19 Sudah..

07 Agustus 2020 08:47
Boedi Djarot Ribut Khilafah
Publika

Boedi Djarot Ribut Khilafah

06 Agustus 2020 19:41