Aktivitas Relaksasi Redam Hoax Corona

Selasa, 14 Juli 2020, 08:18 WIB

Gurubesar FK Universitas Airlangga, Abdurachman/Net

TAK ada lagi tempat aman di seluruh muka bumi. Virus corona telah di-hoax-kan melayang di udara selama 8 jam. Muncul kepanikan paling anyar. Apalagi hoax ini diberitakan dari organisasi kesehatan dunia (WHO). Masker selamanya harus digunakan, baik sendiri maupun di kerumunan orang?

Segera saja Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melalui dr. Reisa Broto Asmoro selaku tim komunikasi publik melakukan press release menepis berita sesat itu.

Kepanikan terhadap Covid-19 yang melampaui batas? Banyak orang menempatkan diri pada upaya yang tidak semestinya. Bukankah kecemasan kronis justru menekan sistem imun tubuh dan malah meningkatkan risiko terpapar?

Kecemasan tentang hal yang tidak diketahui dengan tepat, dapat membuat pusat rasa takut di otak yang disebut amigdala menjadi hiperaktif. Di dalam neuroanatomy amigdala merupakan salah satu bagian otak yang tertua, cara kerjanya cukup primitif.

Ia bertindak sebagai alarm pemicu senang, berinteraksi dengan sistem stres untuk menjaga tubuh dan pikiran individu dalam siaga tinggi terutama selama individu merasa cemas. Penelitian menunjukkan bahwa informasi ringan tentang bahaya, terutama jika bahaya itu tidak pernah dialami, sudah cukup memicu amigdala dan mengaktifkan respons stres. Inilah yang membuat orang terjaga di malam hari, berbaring di tempat tidur mengkhawatirkan hoax baru, corona “beterbangan”.

Kekhawatiran terus-menerus tentang Covid-19, ditambah hoax yang menggelisahkan, meningkatkan kerentanan tubuh terhadap infektan dengan menciptakan ketidakseimbangan imun. Ini dikarenakan sistem imun bereaksi “panik”, waspada berlebihan sehingga bisa menyebabkan banyak kekeliruan.

Sebagaimana peristiwa 11 September 2001 terhadap menara kembar di Amerika Serikat. Respons petugas keamanan yang berlebihan bisa menangkap orang atau barang bawaan yang sebenarnya bukan masalah. Respons demikian mirip dengan yang terjadi terhadap sistem imun.

Cemas berlebihan dapat memicu respons imun meningkatkan peradangan, memicu badai sitokin. Pada saat infeksi virus, inflammasom akan diaktifkan. Ia akan menimbulkan respons peradangan yang malah membahayakan. Peradangan yang tak terkendali justru lebih berbahaya, malah bukan melindungi; itu menderegulasi fungsi kekebalan tubuh, justru meningkatkan risiko infeksi virus.

Dampak psikologis dari pandemi Covid-19 menyebabkan tekanan yang luar biasa. Sering terlihat di beberapa ruas jalan mobil-mobil yang lewat disemproti. Siang menjelang sore di kota Surabaya mobil pemadam kebakaran menyemprotkan cairan ‘anti-covid’ ke daerah perumahan.

Ketika hendak masuk tempat berkumpulnya orang, rumah ibadah, kantor instansi, para pengunjung dipersilakan masuk ‘kotak’ desinfektan.  Dalam keadaan normal, perilaku ini akan tampak aneh, tetapi dalam iklim pandemik perilaku ini mungkin bisa diterima.

Meskipun upaya di atas dianggap penting dalam mengantisipasi bahaya pandemik, namun panik berlebihan malah membahayakan. Aktivitas fisik yang disenangi, olahraga yang menghasilkan relaksasi dapat membantu melindungi sistem kekebalan tubuh dari efek stress.

Tubuh manusia digerakkan oleh sepasang mekanisme yang berlawanan. Sebut saja otot. Ada otot yang berfungsi menekuk, berpasangan dengan otot yang berperan meluruskan. Ditemukan otot yang menggerakkan bagian tubuh mendekati garis tengah, berpasangan dengan otot yang menjauhkan.

Selain otot, contoh lain adalah sistem saraf otonom. Ada yang aktif ketika tubuh membutuhkan energi (simpatis) dan ada yang bekerja ketika tubuh beristirahat (parasimpatis). Bila aktivitas sepasang komponen di dalam tubuh berada dalam keadaan harmonis, seimbang sesuai dengan situasi dan kondisi, itu disebut rileks.

Rileks membuat orang lebih tenang. Dalam keadaan tenang orang memiliki kualitas imun yang tinggi, ketahanan fisik lebih baik, endurance-kemampuan melakukan aktivitas lebih berkualitas dan lebih lama. Itu antara lain karena kadar radikal bebas yang rendah.

Ketenangan, mampu menurunkan kesengajaan orang menebarkan berita hoax, baik karena usil atau karena kepanikan di luar batas.

Olahraga yang menimbulkan rileks memiliki pengaruh anti-inflamasi yang dimediasi melalui berbagai jalur. Kesimpulan ilmiah ini dipublikasikan Elsevier Mei 2019 dengan judul, “The Compelling Link Between Physical Activity and The Body's Defense System”.

Optimalisasi imun tubuh melalui olahraga menepis dugaan bahwa aktivitas latihan justru menekan sistem imun. Artikel berjudul,“Debunking the Myth of Exercise-Induced Immune Suppression: Redefining the Impact of Exercise on Immunological Health Across the Lifespan”, Membantah Mitos Penekanan Imun yang Diinduksi oleh Latihan: Mendefinisikan-ulang Dampak Latihan terhadap Kesehatan Imunologis di Semua Usia. Riset ini dipublikasikan oleh Campbell, J. P.  dan Turner, J. E. melalui PubMed Central (PMC) pada April 2018.   

Latihan aerobik berintensitas sedang dan kuat, selama kurang dari 60 menit, menyebabkan peningkatan aktivitas anti infeksi makrofag (sel darah putih yang memakan infektan) jaringan. Peningkatan itu bersamaan dengan naiknya kadar imunoglobulin, sitokin anti-inflamasi, neutrophil (sel darah putih), sel NK (natural killer), limfosit-T sitotoksik, dan limfosit-B pemula. Semua itu memainkan peran penting dalam aktivitas pertahanan imun dan metabolisme tubuh yang sehat.  

Olahraga yang disenangi sehingga menimbulkan rileks, bukan memaksakan diri, selama kurang dari 60 menit meningkatkan kualitas imun tubuh, meningkatkan endurance, menurunkan radikal bebas.

Olahraga yang berlebihan, terutama jika dilakukan dengan terpaksa apalagi menimbulkan keluhan sakit di beberapa bagian tubuh justru menimbulkan stres. Kondisi ini malah memperburuk imun tubuh.

Mari berolahraga atau melakukan aktivitas fisik yang berdampak relaksasi. Aktivitas fisik seperti melakukan pekerjaan di rumah dan menyenanginya, sesuai dengan kapabilitas yang mampu diperbuat oleh masing-masing diri. Badan sehat, rasa bahagia meningkat, tak ada keluhan, mampu mengelola pekerjaan apa pun dalam rentang waktu lebih lama dan tidak mudah lelah. Bathin senang tidak sibuk menebar hoax!

Abdurachman

Gurubesar FK Universitas Airlangga, yang juga Past President of Indonesia Anatomists Association (IAA), Past President APICA-6, dan Executive Board Member of APICA

Kolom Komentar


Video

Jokowi: Saya Tidak Tahu Sebabnya Apa, Minggu-minggu Terakhir Ini Masyarakat Khawatir Covid-19

Senin, 03 Agustus 2020
Video

FRONT PAGE | CATATAN KAMI, Dr Ahmad Yani

Jumat, 07 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Bagaimana Individu Bersiap Hadapi Resesi
Publika

Bagaimana Individu Bersiap H..

07 Agustus 2020 20:44
HMP Versus Pengecut
Publika

HMP Versus Pengecut

07 Agustus 2020 10:03
Mereka Berteriak Dan Mempolitisasi Soal Reklamasi, Kita (Ancol) Memikirkan Kemanusiaan Di Saat Pandemik
Publika

Mereka Berteriak Dan Mempoli..

07 Agustus 2020 09:22
Krisis Akibat Covid-19 Sudah Masuk Tahap Kronis, Dan Recovery Sudah On The Track
Publika

Krisis Akibat Covid-19 Sudah..

07 Agustus 2020 08:47
Boedi Djarot Ribut Khilafah
Publika

Boedi Djarot Ribut Khilafah

06 Agustus 2020 19:41
Pertanian Adalah Kunci
Publika

Pertanian Adalah Kunci

06 Agustus 2020 11:18
Efektif, Resonan, Berpengaruh
Publika

Efektif, Resonan, Berpengaru..

06 Agustus 2020 08:52
Resesi Dan Pertumbuhan Negatif, Apa Yang Mesti Dilakukan?
Publika

Resesi Dan Pertumbuhan Negat..

06 Agustus 2020 07:43