Mengenang Persahabatan Gus Dur Dengan Paus John Paul II

Sabtu, 11 Juli 2020, 03:31 WIB

KH Abdurahman Wahid (Gus Dur)/Net

GUS DUR mengenang Paus John Paul II (Paulus Yohanes II), dalam sebuat surat yang disiarkan beberapa media pada April 2005. Surat berjudul 'In Memoriam Sri Paus Yohanes Paulus II' yang ditulis Gus Dur untuk memperingati wafatnya Paus Vatican itu.

Gus Dur menulis ungkapan bela sungkawa atas wafatnya Paus Yohannes Paulus II, yang merepresentasikan kedekatan dan wawasan mendalamnya dalam dialog antar agama.

"Di tengah-tengah berbagai bencana alam, seperti gempa bumi di Pulau Nias dan Pulau Simeuleu, sikap Paus Yohanes Paulus II itu menunjukkan sesuatu yang sangat menyegarkan dalam hubungan antar manusia," demikian tulis Gus Dur.

Gus Dur menambahkan betapa Paus Yohannes orang yang sangat pemaaf, bahkan kepada seorang yang berniat menembak mati dirinya.

"Perlu diingat akan sikap Paus Yohanes Paulus II yang memberikan maaf kepada Mehmet Ali Agca seorang berkebangsaan Turki yang menembaknya, disamping sikap-sikapnya yang menentang perang, menunjukkan kepribadian Beliau yang sangat menarik."

Dalam sepanjang hidupnya, Gus Dur berupaya membangun dialog antar pemuka agama untuk mencari solusi atas masalah-masalah kemanusiaan di level internasional. Gus Dur tidak lelah bergerak, berpikir, menyuarakan gagasan sekaligus memperjuangkan kebijakan dan program-program strategis untuk membela minoritas seraya menguatkan komunikasi lintas pemuka agama.

Ketika Paus John Paul II mengirimkan ucapan Idul Fitri pada Maret 1999, Gus Dur sangat mengapresiasi. "Muslim leaders could learn a lesson (from the pope). We should not think we are the most correct and behave as if we do not need other people," demikian tanggapan Gus Dur atas ucapan Idul Fitri dari Vatikan, yang disampaikan Paus John Paul II.

Gus Dur ketika menerima pesan damai Idul Fitri dari Vatikan (UCA News, 21 Maret 1999). Pesan damai dari Vatican, terkait Ramadhan dan Idul Fitri merupakan tradisi tahunan, untuk menjadi ruang dialog antara komunitas Kristen dan Islam di lintas negara. KH Abdurrahman Wahid (nama lengkap Gus Dur) merespons baik pesan damai Vatican itu, sebagai representasi pemimpin muslim Indonesia.

Wall Street Journal (WSJ), pada tahun 2005 menulis dalam sebuah op-ed kolom, bahwa Gus Dur.. "nothing less than a global struggle for the soul of Islam..". Gus Dur dianggap sebagai pejuang, intelektual dan aktivis muslim yang tidak lelah bersuara dan menyampaikan gagasan, mengabdikan diri untuk perdamaian dunia.

Relasi diplomatik Indonesia dan Vatican memang spesial. Tidak hanya disebabkan relasi agama, tapi juga dalam diplomasi politik internasional. Vatican merupakan negara Eropa pertama yang  mengakui kemerdekaan Indonesia. Perwakilan Vatican secara resmi menyatakan dukungan pada 6 Juli 1947. Sebulan sebelumnya, pada 10 Juni 1947, Mesir juga mendukung kemerdekaan Indonesia.

Vatican membuka hubungan diplomatik di Jakarta pada 1947, pada tingkat Apostolic Delegate, yakni misi diplomatik setara dengan Kedutaan Besar namun tanpa konsulat dan tanpa kewenangan mengeluarkan visa. Selanjutnya, pada 25 Mei 1950, hubungan diplomatik antara Indonesia dan Vatikan secara  resmi disepakati, yang terus berkembang hingga kini.

Presiden Soekarno pernah empat kali berkunjung ke Vatikan. Bung Karno memang dikenal punya hubungan diplomatik yang kuat di level internasional, dengan gagasan yang kuat dan jernih. Pada 1970, Paus Paulus VI melakukan lawatan diplomatik ke Indonesia. Dan, sembilan belas tahun kemudian, pada 1989, Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke Indonesia.

Dalam seluruh catatan sejarah hidupnya, Gus Dur memang dekat dengan pemuka agama-agama. Gus Dur tidak hanya dekat dengan Paus dari Vatican, tapi juga dengan Rabbi Yahudi dari Jerusalem, hingga pemimpin agama-agama timur di China, Nepal, Tibet hingga India.

Sepanjang karir, pengabdian dan perjuangan hidupnya, Gus Dur memiliki tiga gagasan besar. "First was that true belief required religious freedom. Second, was his belief that the fundamental requirement for democracy or any form of just government,  is equal treatment for all citizen before the law. Third, that respect for minorities is essential for social stability and national unity, particularly for Indonesia with its  extraordinary diversity," demikian tulis Paul Wolfowitz (WSJ, 6/01/2010).

Dalam esai di Wall Street Journal, 6 Januari 2010, Wolfowitz mengungkapkan kekaguman kepada sosok Gus Dur yang memiliki dukungan luas di Indonesia. Dalam catatan Wolfowitz, Gus Dur merupakan sosok lengkap dengan beberapa kelebihan sebagai pemimpin muslim yang berpengaruh besar di Indonesia dan level internasional.

Gus Dur dianggap sebagai tokoh yang didengarkan kaum muda, mampu menyandingkan gagasan agama dan sains, sekaligus memperjuangkan demokrasi. Paul Wolfowitz merupakan mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia.

Ketika Gus Dur wafat, Wolfowitz sedang menjadi peneliti tamu di American Interprise Institute. Ia menuliskan obituari penting mengenang perjuangan Gus Dur, yang terbit di WSJ berjudul 'Wahid and the Voice of Moderate Islam'.


Munawir Aziz
Penulis adalah Sekretaris Umum PCINU United Kingdom

Kolom Komentar


Video

Gempa Mamuju, Ustad Das\'ad Latif Nyaris Jadi Korban

Jumat, 15 Januari 2021
Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021

Artikel Lainnya

Membandingkan Demokrasi Indonesia Dan Amerika Serikat
Publika

Membandingkan Demokrasi Indo..

18 Januari 2021 04:47
Codot, Corona dan Normal Baru
Publika

Codot, Corona dan Normal Bar..

18 Januari 2021 00:23
Doktor Rizal Ramli Dan Kemampuan Prediktif Berdasar Data Dan Simulasi
Publika

Doktor Rizal Ramli Dan Kemam..

17 Januari 2021 15:09
Transisi Damai Di Amerika?
Publika

Transisi Damai Di Amerika?

17 Januari 2021 14:16
Sim Salabim, Vaksin Datang Masalah Dianggap Hilang
Publika

Sim Salabim, Vaksin Datang M..

17 Januari 2021 01:58
Pertamina Digugat Mozambik Rp 40 Triliun, Pemerintah Bertanggungjawab!
Publika

Pertamina Digugat Mozambik R..

16 Januari 2021 21:47
Begawan Ciptaning
Publika

Begawan Ciptaning

16 Januari 2021 15:58
Dr. Rizal Ramli, Multikrisis Dan Drama Angin Sorga...
Publika

Dr. Rizal Ramli, Multikrisis..

16 Januari 2021 14:59