Perkutut Manggung: Keselarasan Alam Kembali?

Pemandangan alam di Gunung Merapi/Ist

SELAMA pandemik virus corona baru (Covid-19) ini, tanpa sengaja saya secara amatur mengamati jenis burung beterbangan di sekitar rumah dan di sepanjang jalan ketika bersepeda. Di pepohonan perdu, rerambatan, puring, bunga sepatu, dan tanaman rendah terlihat beberapa burung cit madu atau sriganti (Nectarinia jugularis). Status burung ini tidak dalam bahaya kepunahan.

Sriganti berbadan kecil dan lincah, berparuh panjang lancip, berbulu mengkilap, dan hinggap ke sana kemari dengan indahnya. Tarian burung ini sering memaksa saya terpukau dalam duduk lama di sekitar pagar rumah untuk menikmati gerak-geriknya dalam menghisap bunga-bunga flexi flora merambat.

Di atas pohon yang lebih tinggi, seperti jati, cemara, randu, sukun, sengon, atau wadang, bernyanyilah kutilang (Pycnonotus aurigaster). Sepertinya populasi kutilang juga meningkat di Yogyakarta.

Di gunung Merapi, lebih banyak lagi terdengar nyanyian jenis jalak (Sturnus contra), kacer (Copsychus saularis), dan lain-lain. Di sawah-sawah, ketika petani membajak dikerubuti kuntul putih (Egretta garzetta). Alam sedang berbaik hati, burung-burung adalah hadiahnya untuk mata dan telinga kita.

Yang mengejutkan adalah seringnya bergetar hati ini, karena terhibur oleh sahutan merdu bunyi perkutut (Geopelia striata). Burung yang mengandung makna mistis dalam budaya Jawa dan sudah menjadi lambang Daerah Istimewa Yogyakarta ini sering terbang rendah di jalan dan halaman rumah. Bahkan beberapa kali sepasang perkutut hinggap di genting rumah dan manggung dengan lantangnya. Seperti suasana mistis dan waktu berputar ke arah tempo dulu.

Bagi generasi yang terlahir tahun 1960-an dan 1970-an tentu mengalami berburu burung di desa-desa. Anak-anak usia sekolah dasar sampai remaja memegang katapel terbuat dari cabang pohon berbentuk segitiga untuk menembak burung dengan kerikil bulat. Mereka juga mencari sarang burung untuk diunduh.

Anak-anak burung (piyik) akan dipelihara dari kecil disuapi dengan ulat atau belalang supaya jinak. Masa kecil era 1970-an hingga 1980-an belum mengenal game, telfon genggam, komputer, sinyal atau pulsa. Semua permainan disediakan oleh alam.

Bagi generasi yang lahir di tahun 1990-an atau setelahnya masuk di abad dua puluh satu, yaitu setelah tahun 2000, sawah, sungai, lumpur, kerbau, dan burung tidak termasuk dalam daftar mainan. Anak-anak milenial lebih akrab dengan alat-alat teknologi untuk menghibur diri. Pelepah pisang, pelepah pinang, daun jati, dan batang bambu bukan hiburan lagi. Alam sempat dilupakan dan kesenangan berganti. Terutama ketika dunia sudah daring, permainan teka-teki juga diambil dari internet, mencari sarang burung bukanlah permainan yang mengasyikkan.

Generasi abad dua puluh dan abad dua puluh satu berbeda selera, karena sedari kecil permainan mereka sudah berlainan. Alam menjadi asing bagi generasi milenial. Gawai adalah teman mereka.

Ketika lahan menyempit, sawah berkurang, sungai telah kotor oleh sampah plastik, udara terpolusi bahan bakar, anak-anak abad dua puluh satu lebih memilih bermain di kamar sendiri dengan menyentuh layar gawai android.

Pada tahun 1980-an, sungai adalah tempat bermain, dengan ban bekas, sarung, dan batang pisang. Anak milenial saat ini lebih asyik mencuci mata di mall, yang juga menyediakan tempat bermain lebih asyik.

Saat musim pandemik Covid-19, muda dan tua, di kota-kota Indonesia bersepeda lagi. Alam kembali diingat bagi generasi tua. Yang muda baru mengenal dengan kacamata yang berbeda.
Tetapi ada hikmah tersembunyi dengan gemarnya anak-anak bermain gawai, komputer, dan benda berteknologi.

Generasi millenial sepertinya tidak sempat mengganggu alam. Burung-burung bebas membuat sarang, bertelur dan mengeram hingga telur menetas, karena tidak ada yang menembak atau mengambilnya sebagai permainan.

Sering munculnya burung cit madu, kutilang, jalak, kacer, dan perkutut menunjukkan bahwa makhluk-makluk bertulang belakang dan bersayap (aves) ini siap hidup lagi berdampingan dengan manusia. Dalam hal ini, kita patut bersyukur.

Seharusnya seperti di India, Malaysia atau Singapura dimana burung-burung gagak dan jalak bebas berkeliaran di halaman rumah dan jalanan, anak-anak Indonesia jika mempertahankan diri tidak tergoda untuk menembak, memikat, dan menangkap burung liar, alam negeri ini akan seindah alam negeri tetangga.

Perlu diingat bahwa kerusakan alam Indonesia dengan hilangnya habitat banyak burung sangatlah parah, tanpa harus mengundang ahli biologi dan burung untuk mengatakan ini. Banyak makhluk liar telah ditangkap, ditangkarkan, diperjualbalikan, atau disantap.

Ingat Covid-19 bermula dari pemerkosaan hak hewan liar berupa kelelawar (Chiroptera), dikerangkeng lalu mayatnya dihidangkan. Virus yang seharusnya diasuh oleh makhluk malam penghuni gua-gua ini lalu pindah ke tubuh manusia. Rantai ekosistem alam terganggu. Manusia menangung akibatnya.

Sayangnya, keseimbangan alam belum masuk dalam prioritas program pemerintah ataupun kesadaran masyarakat kita. Akhlak, moral, dan norma masyarakat masih perlu diingatkan untuk keselarasan alam.

Program politik juga belum menekankan pentingnya kesadaran adanya pemanasan global. Para pengkhotbah dan pendakwah agama belum menyentuh isu-isu lingkungan. Keseharian kita masih jauh dari penghormatan pada alam dan lingkungan.

Ingatlah bahwa manusia ini hanyalah bagian dari alam, bukan penguasanya. Indonesia dipercaya oleh Tuhan dengan kekayaan biodiversitasnya yang luar biasa. Seharusnya, cara bersyukurnya dengan berkomitmen untuk menjaga dan melindunginya, bukan menghabiskan semuanya sampai tak tersisa dan tak seimbang.

Kita tak tahu persis apakah nyanyian burung kutilang, cit madu, jalak dan dengungan perkutut menandakan suka atau duka. Jika itu perlambang suka, berarti burung-burung itu mengumumkan kembalinya mereka ke mata kita.

Jika suara mereka itu hanya jeritan atau tangisan, mungkin itu maknanya mereka ikut berbelasungkawa atas banyaknya manusia yang berguguran di era pandemi ini.

Handai taulan dan sahabat banyak yang berduka di tembok-tembok ratapan Facebook dan cuitan twitter. Burung-burung itu sepertinya ikut mengantar kepergian sebagian dari kita.

Camkanlah bahwa manusia dan burung statusnya sama, keduanya hanyalah makhluk. Keduanya hanya terbuat dari debu pecahan bintang supernova yang meledak jutaan tahun yang lalu.

Semua zat di tubuh kita mengandung zat-zat bintang mati yang meledak. Kita hanyalah serpihan, burung atau manusia. Terbang, berjalan, atau berfikir, kita hanyalah penopang semesta yang terus berputar dan bergerak.

Penulis adalah Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kolom Komentar


Video

Jokowi: Saya Tidak Tahu Sebabnya Apa, Minggu-minggu Terakhir Ini Masyarakat Khawatir Covid-19

Senin, 03 Agustus 2020
Video

FRONT PAGE | CATATAN KAMI, Dr Ahmad Yani

Jumat, 07 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Pertumbuhan Ekonomi Minus 5,32 Persen, Malapetaka Bagi PLN
Publika

Pertumbuhan Ekonomi Minus 5,..

09 Agustus 2020 00:29
Datuk Jalil Ali Telah Pergi
Publika

Datuk Jalil Ali Telah Pergi

08 Agustus 2020 21:45
Presiden-Presiden Dengan Rasa Malu & Sikap Tau Diri
Publika

Presiden-Presiden Dengan Ras..

08 Agustus 2020 19:01
Makin Ngawur Soal Gibran
Publika

Makin Ngawur Soal Gibran

08 Agustus 2020 07:19
Resesi Dihadapi Dengan Kedunguan
Publika

Resesi Dihadapi Dengan Kedun..

08 Agustus 2020 01:59
Bagaimana Individu Bersiap Hadapi Resesi
Publika

Bagaimana Individu Bersiap H..

07 Agustus 2020 20:44
HMP Versus Pengecut
Publika

HMP Versus Pengecut

07 Agustus 2020 10:03
Mereka Berteriak Dan Mempolitisasi Soal Reklamasi, Kita (Ancol) Memikirkan Kemanusiaan Di Saat Pandemik
Publika

Mereka Berteriak Dan Mempoli..

07 Agustus 2020 09:22