No Trade-Off Antara Ekonomi Dan Kesehatan Masyarakat Atasi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020, 21:10 WIB

Ilustrasi/Net

DEWAN Perwakilan Rakyat (DPR) akan mulai bersidang dalam masa sidang ketiga pada Senin (30/3) dengan format tempat duduk baru yaitu diberikan jarak dua kursi saat rapat paripurna.

Hal tersebut dilakukan sebagai protokol khusus pencegahan Covid 19 yang diusulkan salah satu anggota dewan. Sikap Dewan tersebut perlu diapresiasi setelah polemik karpet merah tes CV19  khusus anggota dewan dan keluarganya.

Dewan sebenarnya punya kewenangan menunda satu pekan lagi untuk berparipurna, namun situasi yang demikian intens imbas penyebaran CV19, Dewan dibutuhkan masyarakat untuk mensetujui beberapa rencana pemerintah atasi virus corona. Masyarakat mendukung ide bahwa tak ada dikotomi (no trade off) antara ekonomi dan keselamatan jiwa anak bangsa.

Apa saja yang harus diperhatikan dewan dan pemerintah untuk menyerap aspirasi masyarakat tersebut?

Situasi Terakhir Covid 19: Disebar oleh yang Muda dan Beresiko Kematian pada yang Tua

Perbedaan penanganan CV19 antara Korea Selatan dan Italia adalah Korea Selatan melakukan tes massal random sedangkan Italia melakukan tes hanya kepada individu yang memiliki symptomatic cases. Hasilnya 40.7% positif CV19 adalah mereka usia 20-39 (milenial) di Korea bandingkan di Italia hanya 9,6% mereka pada usia sama. Sedangkan orang tua usia 60-80+ tahun terdapat kasus positif CV 19 sebesar 59.65% (Italia) dan 21% (Korea Selatan).

Mayoritas positif CV19 di Korsel adalah usia 20-39 tahun dan mayoritas di Italia adalah usia 60-80+. Ini menunjukan tidak ada pola yang seragam terhadap usia berapa yang paling memiliki exposure terhadap virus corona.

Meskipun tidak ada pola usia terhadap exposure penyebaran CV19, namun terdapat pola fatalitas kematian pada usia tertentu baik di Italia, Korea Selatan dan China. Individu berusia 60-80 keatas adalah yang paling beresiko kematian bila mereka terpapar virus tersebut. Italia fatality rate usia 60-69 sebesar 3.5%, usia 70-79 sebesar 12.5% dan usia diatas 80 sebesar 20.2%. Secara rata-rata fatality rate di Italia sebesar 6.8-7.2% paling tinggi dibandingkan China (2.3-4.0%) dan Korea (0.8-0.9%).

Kematian orang tua di Italia merupakan yang terbanyak tersebut tidaklah mengejutkan karena Italia adalah negara populasi tua dibandingkan Korea Selatan dan China.

Dibandingkan seluruh Eropa, konektivitas orang tua dengan orang muda Italia dan Spanyol adalah yang tertinggi dibandingkan dengan peers lainnya terutama Jerman. Italia mendapatkan 74,386 kasus dengan 7,503 meninggal dunia per kamis 26 maret 2020.

Saat ini Italia merupakan epicentrum terbesar di kawasan Eropa dan kematian tertinggi pertama melampaui China. Spanyol merupakan epicentrum kedua di Eropa dan kematian tertinggi kedua melampui China (49,515 kasus dengan 3,647 kematian).

Dapat disimpulkan bahwa CV19 menginfeksi semua orang tanpa mengenal usia, ras dan suku bangsa dan resiko kematian lebih banyak pada usia 60 tahun ke atas. Usia muda menjadi carrier (pembawa) virus dan mudah menyebarkan virus tersebut ke populasi lainnya. Kesimpulan data tersebut sangat penting dalam pencegahan fatalitas kematian akibat virus corona. Hindari orang tua dari virus corona.

Fokus Sektor Kesehatan ke Penurunan Replikasi Virus Corona

Jumlah yang meninggal di Indonesia terus bertambah menjadi 78 jiwa dari 893 kasus per Kamis 26/3. Jumlah kematian tersebut adalah yang tertinggi di ASEAN sehingga harus menjadi konsen dewan dan pemerintah. Banyaknya yang meninggal harus diintervensi dengan sejumlah kebijakan. Salah satunya adalah kebijakan kesehatan nasional.

Kebijakan kesehatan nasional sangat tergantung sekali dengan kapasitas fasilitas kesehatan kita. Kebijakan kesehatan akan sangat membantu di jangka pendek. Kebijakan saat ini melalui social distancing dan testing-isolation perlu dievaluasi. Dua kebijakan tersebut terkesan lambat dan tidak sepenuhnya diikuti oleh warga negara.

Indonesia memiliki tempat tidur rumah sakit sebanyak 281,082 unit secara nasional yang terdiri dari tempat tidur di RS umum propinsi/kota sebanyak 94,878 unit beds, RS tentara/polisi sebanyak 17,482 unit beds, RS dikelola Kemenkes 11,086 unit beds, RS BUMN sebanyak 6,054 unit dan sisanya tersedia di RS swasta yaitu 129,141 unit beds.

Secara per 1000 populasi, Indonesia hanya memiliki 1.2 unit beds lebih sedikit dibandingkan Italia (3.4 unit), China (4.2 unit), Vietnam (2.6 unit), Malaysia (1.9 unit). Kelangkaan tempat tidur harus menyadari para pengambil keputusan kesehatan nasional bahwa mengandalkan RS umum nasional untuk mengobati pasien CV19 tidak mencukupi harus diambil tindakan mitigasi lain.

Untuk negara dengan kapasitas tempat tidur dibawah 100 per 100 ribu populasi mitigasi yang paling tepat adalah isolasi/lockdown atau karantina rumah total dan social distancing untuk individu berusia diatas 70 tahun. Indonesia berada di level 120 sehingga secara teori yang paling tepat adalah Isolasi/lockdown atau karantina rumah tangga.

Pilihan kebijakan kesehatan nasional yang tepat seharusnya antara isolasi total dan isolasi terbatas dengan social distancing yang ketat. Evaluasi kebijakan kesehatan Indonesia saat ini kurang tepat karena mengambil kebijakan social distancing yang moderat. Negara yang tepat mengambil social distancing moderat adalah mereka yang memiliki tempat tidur diatas  150-200 unit per 100 ribu populasi.

Karena kapasitas tempat tidur Indonesia sekitar 120 unit per 100 ribu populasi dan pilihan moderat social distancing yang diambil maka tenaga medis kewalahan dan sumber daya kesehatan nasional kedodoran akibatnya jumlah kematian meningkat terus. Kebijakan kesehatan tersebut dapat dikatakan lack of competency.

Bila Indonesia masih terus mempertahankan social distancing level moderatnya maka pengambil keputusan perlu menambah ketersedian tempat tidur dan layanan rumah sakit darurat sampai tersedia paling sedikit 180 unit beds per 100 ribu populasi.

DPR dan Pemerintah perlu mengadakan kekurangan gap (180 dikurang 120 unit) yaitu 60 unit bed per 100 ribu populasi. Dengan Populasi Indonesia 2020 berjumlah 271.066.000 jiwa maka diperlukan tambahan tempat tidur dan perlengkapannya sebanyak 162,640 unit.

Merahnya Indikator Ekonomi Imbas Covid-19

Berdasarkan model pertumbuhan dari London Business School dalam the economics of a pandemic pertumbuhan China pada Q1 2020 akan negatif -0.5% yoy dan diprediksi China hanya tumbuh di Q2 2020 sebesar negatif -2.5% yoy; Italia tumbuh Q1 2020 sekitar 0% (qoq) dibandingkan triwulan 4 2019 dan diprediksi tumbuh negatif -1.7% (qoq) di Q2 2020 dibandingkan Q1 2020.

Kondisi ekonomi di China dan Italia tersebut harus menjadi pelajaran bagi Indonesia, China yang penuh kesigapan dan mulai pulih di akhir Q1 2020 mengalami penurunan yang tajam. sedangkan Italia yang terlambat lockdown menderita lebih dalam lagi baik dari sisi keselamatan warganya maupun sisi ekonominya.

Wabah CV 19 tidak hanya mempengaruhi supply side maupun juga demand side dalam ekonomi. Berbeda dengan great recession 2007-09 asal krisis adalah disrupsi sisi suplai di sektor keuangan begitu juga dengan peristiwa bencana alam dimana gangguan sisi suplai ekonomi terjadi karena kehancuran bangunan atau kehilangan tenaga kerja.

Namun wabah CV19 selain menganggu sisi suplai secara global, mengurangi suplai pekerja karena karantina juga mempengaruhi sisi permintaan (demand side) dimana para tenaga kerja kehilangan pendapatan, rumah tangga meningkatkan tabungan untuk kondisi siaga dan perusahaan kekurangan likuiditas dan terhentinya investasi.

Wabah CV 19 tidak diragukan lagi akan menghancurkan economic surplus. Economic surplus adalah teori yang merefer kepada penjumlahan dari producer surplus dan konsumen surplus. Economic Surplus dikenal sebagai total kesejahteraan (Marshallian Surplus atau Total Welfare).

Semakin kecil economic surplus semakin berkurang kesejahteraan populasi. Wabah CV 2 akan mengurangi kemampuan suplai ekonomi sehingga melahirkan kontraksi pada permintaan ekonomi, menyebabkan berkontraksi suplai ekonomi kembali dan akhirnya membawa kepada kerusakan yang signifikan pada kesejahteraan masyarakat (economic surplus).

Grafik Suplai AS0 berpindah ke AS1, AS1 pindah mempengaruhi berkurangnya permintaan menjadi AD1 dari AD0. Permintaan yang berkurang AD1 akan pengaruhi grafik permintaan ke posisi baru yaitu AS2 dari AS1. AS2 direspon dengan permintaan ekonomi yang terus berkurang menjadi Q’’’ sehingga melahirkan grafik permintaan baru AD2.

Jelas sekali bahwa, resesi global tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi wabah corona tersebut. Secara umum, permintaan ekonomi akan jauh terpengaruhi daripada gangguan awal pada sisi permintaan ekonomi.

Ketidakpastian kebijakan dan kepanikan melahirkan kejatuhan yang lebih dalam pada sisi permintaan. Masyarakat kehilangan penghasilan karena tidak bekerja, perusahaawn harus mengurangi jumlah karyawan dan akhirnya karyawan tidak punya penghasilan sama sekali.

Kejatuhan permintaan ekonomi akan melahirkan banyak perusahaan akan tutup dan akhirnya mendorong PHK besar-besaran dan kejatuhan lebih lanjut sisi konsumsi dan akhirnya ekonomi masuk ke pusaran depresi ekonomi.

Untuk menghindari pusaran depresi ekonomi diperlukan langkah cepat kebijakan makroekonomi diantaranya adalah:

Pertama, peningkatan signifikan terhadap goverment spending pada sektor kesehatan masyarakat.

Kedua, pemberian tax relief, tax cut, tax holiday dan tax insentive kepada perusahaan dan UMKM.

Ketiga, memberikan jaring pengaman sosial (social safety net) kepada rumah tangga bukan hanya yang membutuhkan tapi seluruh rumah tangga untuk menghindari jatuhnya permintaan ekonomi lebih lanjut.

Keempat, meluncurkan program quantitative easing untuk memberikan perusahaan mendapatkan likuiditas darurat sehingga terhindar dari terhentinya operasional perusahaan.

Keempat kebijakan tersebut harus dilakukan sekarang dan besarnya harus signifikan. Ukuran signifikan tersebut kami hitung sebesar 5-10% PDB atau sebesar Rp794 triliun sampai dengan Rp1,580 triliun.

Pemerintah melalui informasi menko perekonomian sudah mengeluarkan Rp158,2 trilun untuk stimulus jilid 1, 2 dan pelebaran defisit 2.5% untuk stimulus jilid 3, namun stimulus pemerintah tersebut sangat kecil dan terlalu terlambat. Salah satu, stimulus jilid 2 yang kurang sesuai adalah pemberian kartu prakerja, selain tidak sesuai dengan kebijakan social distancing, pemberian kartu prakerja juga mendorong terjadinya mobilisasi para penganggur ke BLK, tentu saja hal ini meresahkan para pengajar BLK karena berpotensi terpapar CV19.

Darimana sumber pendanaannya stimulus besar yang diusulkan tersebut? salah satu opsi sumber pendanaan terdekat adalah memperbesar defisit melalui penerbitan SUN baru (surat berharga negara pandemik corona) dan relaksasi aturan defisit maksimal 3%, bila diperlukan keluarkan perppu untuk keterlibatan dari institusi keuangan dan bank sentral untuk membeli SBN di pasar primer dalam membiayai stimulus tersebut.

Dalam mekanisme protokol QE (quantitave easing) Bank Indonesia dapat membeli surat utang negara (SUN) dengan kupon 5% di pasar primer selain dana hasil realokasi anggaran APBN 2020, SAL dan SILPA.

Program stimulus harus dimulai dari health expenditure (biaya penyediaan tempat tidur RS, APB tenaga medis dan rumah sakit darurat) terlebih dahulu baru diikuti dengan pendistribusian tunjangan kepada seluruh rumah tangga dan pengusaha.

Untuk memperlancar stimulus diperlukan koordinasi pemerintah dan DPR, kebijakan fiskal dan moneter, serta kerjasama internasional yang kuat.

Kinerja tim ekonomi Indonesia saat ini sangat dipertaruhkan bila salah langkah dengan memberikan stimulus  ekonomi yang kecil dan telat maka ekonomi Indonesia runtuh adalah taruhannya.

Kita dukung agar tim ekonomi menunjukan kinerja kelas dunianya untuk menghindari ekonomi masuk ke jurang yang lebih dalam daripada 1997/1998.

Achmad Nur Hidayat dan Fadhil Hasan
Pengamat Kebijakan Publik dan Ekonom Senior Indef

Kolom Komentar


Video

SARI MADJID: Ketika Seni | Puisi Hari Ini

Selasa, 07 April 2020
Video

Warung Makar Lieus Sungkharisma Bagi-bagi Makanan Untuk Ojol

Selasa, 07 April 2020
Video

Kisah Perjuangan Sembuh Pasien Positif Corona di Merauke

Selasa, 07 April 2020