46 Tahun Malari, Hariman Siregar Tetap Menjadi Bintang, Kadrun Bin Taha Mencari Negara

Kamis, 16 Januari 2020, 09:03 WIB
Oleh: Teguh Santosa

Salam komando Hariman Siregar dan Djoko Santoso dalam peringatan 46 tahun Malari/RMOL

PERISTIWA itu terjadi pada 15 Januari 1974, hingga kini sering disingkat Malari. Ia kembali diperingati ratusan aktivis di Pusat Perfilman Usmar Ismail, di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (15/1).

Tokoh legendaris Malari, Hariman Siregar, tetap menjadi bintang.

Pria kelahiran Padang Sidempuan, Sumatera Utara, 1 Mei 1950 ini rasanya sudah pantas disebut sebagai Bapak Demonstran Indonesia. Seperti matahari, ia adalah epicentrum tata surya demonstran Indonesia hari ini. Sejak 46 tahun lalu. Sejak kemenangannya dalam pemilihan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia ditorpedo kekuasaan melalui tangan Ali Murtopo.

Sejak ia turun ke jalan, sejak demonstrasi mahasiswa di Jakarta menolak ketergantungan ekonomi dan utang luar negeri pada Jepang berubah menjadi kerusuhan pada peristiwa Malari itu. Menewaskan sekian orang, membenturkan faksi-faksi yang ada di lingkaran kekuasaan. 

Dalam sesi potong tumpeng di awal peringatan, juga seperti bintang dalam sistem tata surya, Hariman yang mengenakan batik bernuansa gelap, celana coklat dan sepatu kets, dikeliling sejumlah tokoh senior.

Ada Judilhery Justam yang bersama Hariman mendekam di penjara pasca Malari. Ada mantan Ketua Umum Partai Bintang Reformasi (PBR) Bursah Zarnubi yang kini menghimpun aktivis dari kalangan generasi milenial di Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK).

Juga ada dua mantan petinggi TNI. Mantan Panglima TNI (2007-2010) Jenderal (purn) Djoko Santoso, dan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (2008-2009) Laksmana Tedjo Edhy Purdijanto yang pernah menjadi Menko Polhukam (2014-2015).

Dan aktivis-aktivis lain, lintas kelompok, golongan, dan partai yang semuanya menaruh hormat pada Hariman Siregar.

Dalam orasinya, Hariman curhat tentang banyak hal yang menjadi karakter politik Indonesia hari ini. Katanya: demokrasi dibajak oligarki dan pemilik modal, demokrasi hanya sebatas prosedural, korupsi merajalela, dan pemerintah lemah di hadapan kesenjangan dan ketimpangan.

Dia mengeluh, kebanyakan masyarakat yang katanya tidak menyadari neoliberalisme dan neo kapitalisme di negeri ini.

Uang, sambungnya, hanya akan terkumpul pada golongan tertentu.

“Golongan ini yang nantinya akan menguasai politik,” kata dia.

Di atas panggung, sudah duduk empat pembicara dalam diskusi yang bertajuk “Mendengar Suara Rakyat”. Keempatnya adalah Wijayanyo. Ph.D., Bilal Dewansyah. S.H., M.H, Bhima Yudhistira, M.Sc., dan Zainal Airlangga, S.Hum., M.I.P.

Juga moderator Herdi Sahrasad, pengajar Universitas Paramadina.

“Pemerintah tidak pernah memikirkan itu, terus saja seperti pada jaman Soeharto yang menggencarkan investasi. Sekarang pun sama saja, arahnya ke sana lagi,” masih katanya.

Investasi menurut Hariman bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Namun menggantungkan pertumbuhan ekonomi pada investasi asing akan berbuah celaka semata.

“Apakah pemerintah mendengarkan suara rakyat? Yang penting itu lapangan kerja. Kalau semua investor asing masuk tanpa ada benefit pada masyarakat, buat apa? Harusnya fokus utama pemerintah itu membuat lapangan kerja seluas-luasnya," kata Hariman Siregar lagi. Semua mengamini.

Pencarian Kadrun Bin Taha

Setelah pemotongan tumpeng, sebelum Hariman Siregar berbicara di atas panggung utama, di pelataran lobi ada Kadrun Bin Taha yang sedang mencari-cari negara.

Kadrun adalah figur imajinatif yang dibawakan dengan apik oleh aktivis Bambang Isti Nugroho. Digambarkan sebagai rakyat jelata yang lugu, mengenakan baju koko dan sarung kotak-kotak serta peci hitam yang miring, juga menyandang ransel biru.

Berjalan dengan air muka muram penuh tanya. Ia sedang mencari-cari negara.

Ikuti monolognya:

“Saya Kadrun. Kadrun bin Taha. Saya sudah berhari berjalan, mencari keberadaan negara.

Gunung tinggi aku daki, lautan aku seberangi. Tetapi tidak juga aku temui negara.

Entah ketlingsut dimana.

Aku sudah pergi dari desa ke desa, dari dusun ke dusun, dari kabupaten ke kabupaten, kota-kota, seluruh negeri ini. Tetapi negara tidak ada disana.

Yang ada para bupati, para walikota sibuk nyumputin uang hasil korupsi.

Saya sudah ke desa-desa, ke dusun-dusun. Dan sekarang banyak desa ada alamatnya, ada papan namanya tetapi desanya tidak ada, kantor desanya tidak ada. Jangankan warganya, kepada desanya pun tidak nyata.

Namanya desa dumay, desa dunia maya. Juga disebut desa hantu.

Desa hantu dunia maya ini ada alamatnya tetapi tidak bakal ketemu di google map. Tetapi yang jelas, desa dunia maya ini punya rekening bank.

Saya Kadrun, sudah berhari-hari mencari negara.

Tadi saya sudah ke Istana Negara. Di sana tidak ada negara. Yang ada cuma Projo, Pro Jokowi. Yang ada cuma Seknas Jokowi. Yang ada KSP, Kantor Staf Presiden.

Eh, saya juga ketemu Fadjroel. Fadjroel penampilannya keren sekarang.

Nah, apakah Projo, Seknas, KSP ini adalah ejawantah negara?

Yang saya tahu Projo itu sudah tidak bisa lagi melakukan apa-apa. Atau mungkin karena targetnya sudah tercapai, ketuanya jadi wamen.

Ada istilah olahraga, wamensana korporesano. Pengennya ke sana, eh malah ke sono.

Ada juga KSP. Ah, mungkin KSP ini tempat negara bersembunyi.

Coba aku mau ke sana. Mau bertanya ke Pak Moeldoko. Apakah dia tahu di mana negara.

Aku ke ruangan KSP mau mencari Pak Moeldoko. Tetapi Pak Moeldoko tidak ada. Yang ada hanya Jiwasraya kami.”

Kolom Komentar


Video

NOORCA M. MASSARDI: Ketika Kasih | Puisi Hari Ini

Selasa, 25 Februari 2020
Video

Penangkapan Komplotan Pengganjal ATM di Semarang

Selasa, 25 Februari 2020
Video

Negatif Corona, WNI Crew Kapal Diamond Princes Minta Dievakuasi

Selasa, 25 Februari 2020