Jalur Sepeda Dan Tantangan Anies

Sabtu, 21 September 2019, 12:18 WIB
Oleh: DR. Syahganda Nainggolan

Anies Baswedan/Net

ALKISAH menteri dari Jakarta berkunjung ke Denhaag, Belanda di era Orde Baru untuk meminta bantuan uang dan berbagai bantuan kerjasama kepada pemerintah Belanda.

Dengan mobil mewah khas pejabat Indonesia jika berkunjung ke luar negeri, saat itu, plus jas dan sepatu mewah, berusaha memberikan impresi tingginya pejabat Indonesia yang sedang berkunjung ini.

Di tengah jalan mendekat Binnenhof, tempat perdana menteri dan para menteri Belanda bekerja, menteri Indonesia ini terkaget-kaget melihat Perdana Menteri Belanda dan menteri yang akan dia temui sedang di sisi jalan menuju kantor naik sepeda.

Sebenarnya menteri itu tidak perlu kaget kalau mengetahui moda transportasi sepeda di Belanda hanyalah sebuah opsi atau alternatif orang-orang bepergian ke kantor, belanja, jalan-jalan dengan anak bayinya, berpacaran, dan lain-lain. Alternatif artinya pilihan itu sama baiknya dengan mengendarai mobil ataupun transportasi umum.

Sebagai gambaran saja, jumlah mobil per 1000 penduduk di Belanda adalah 487 (2017), sedang di Indonesia hanya 87 mobil (2015).

Jakarta saat ini tengah membangun 17 jalur sepeda. Keinginan Anies mempercepat jalur sepeda di Jakarta meliputi 17 jalur pada tahun ini. Jalur itu terbentang dari Jalan Pemuda di Jakarta Timur, menuju Jalan Pramuka, lalu Jalan Dipanegoro, Jalan Matraman, Jalan Imam Bonjol, Jalan Thamrin dan Jalan Merdeka Selatan di Jakarta Pusat.

Anies Baswedan beberapa hari lalu mencoba bersepeda melihat rute-rute jalur sepeda yang akan dibangun itu.

Tentu ini sebuah pekerjaan besar bagi Anies. Sebab, persoalan bersepeda bukan hanya persoalan infrastruktur, namun juga soal kultur. Begitupun, ini harus dipecahkan, sebab kecaman dunia bahwa Jakarta tempat terpolusi di dunia harus dipatahkan.

Ya, Jakarta telah ditetapkan sebagai tempat terpolusi di dunia. Orang-orang mencaci Anies Baswedan. Pencaci maki Anies ini tidak mencaci maki Jokowi meski bertanggung jawab atas kematian bayi akibat asap kebakaran hutan atau ular-ular langka berkaki tiga di Riau, atau ular-ular besar dan anak-anak monyet di Kalimantan.

Mungkin karena Anies berkuasa atas sebuah kota, di mana orang-orang pintar bermukim, gampang dilihat dan dihina.

Rencana mendorong moda transportasi sepeda Ini adalah sebuah revolusi perkotaan. Yang dapat ditiru kota-kota lain berdataran rendah/tidak berbukit. Jika sepeda bisa menjadi andalan transportasi masyarakat Jakarta sebanyak 5 persen-10 persen, maka reduksi polusi udara akan menurun drastis.

Tentu strategi ini komplementer dengan strategi transportasi secara umum, yakni meliputi juga pengembangan trotoar lebar untuk pejalan kaki dan berbagai kemudahan transportasi publik, yang mengurangi pemakai sepeda motor, khususnya, dan mobil.

Oh, ya, saat ini jumlah sepeda motor yang digunakan di Jakarta mencapai sekitar 15 juta. Menurut KPBB (Komite Penurunan Bensin Bertimbal), kontribusi motor ini pada polusi udara mencapai kisaran 45 persen. Dan industri motor serta pejabat kementerian industri selalu berpikir pasar otomotif harus dikejar terus, karena masih jauh dibanding, misalnya, Taiwan.

Di Indonesia perbandingan motor dan orang, 1 motor untuk 4 orang, sedang di Taiwan sudah 1:1. Namun, pikiran ini tidak menghiraukan aspek non marketing, seperti jalan yang over kapasitas serta polusi yang mematikan.

Tantangan Anies

Saya mengetahui beberapa pejabat DKI bersepeda ke kantor seperti dulu Sandiaga Uno atau kepala Kesbangpol Taufan Bakri. Namun, sebagaimana juga kelompok "Bike To Work", gerakan pelopor individual atau group seperti itu kurang besar pengaruhnya bagi mendorong diadopsinya moda bersepeda oleh masyarakat luas.

Untuk bersepeda menjadi moda transportasi penting, kehadiran negara sangat penting. Besarnya tantangan yang dihadapi akan dapat di atasi jika pemerintahan DKI all out dalam program ini.

Beberapa tantangan utama adalah sebagai berikut: 1) kultur. Sejak tahun 70 an, ketika sepeda motor membanjiri kita sebagai alat transportasi, sepeda mulai tersingkir. Yogyakarta adalah kota terakhir di mana sepeda menjadi alat penting transportasi. Sejak era 2000an ketika sepeda motor di jual dengan kredit perbankan besar2an, praktis puluhan juta sepeda motor menghiasi jalanan.

Pilihan sepeda motor atas sepeda dalam perkembangan awal ditandai dengan alasan status sosial dan prestise, yang bercampur dengan keperluan inti sebagai alat transportasi itu. Naik sepeda ke sekolah dianggap berstatus sosial rendah.

Fase motor sebagai status sosial mereda ketika kemampuan masyarakat membeli motor merata. Namun, keterlanjuran terjadi, sepeda sebagai alat transportasi sudah hilang dari ingatan masyarakat kita.

Ketika gerakan bersepeda muncul di era SBY (bike to work), di luar niat mereka yang baik, muncul kesan baru bahwa sepeda-sepeda dalam club itu adalah sepeda-sepeda mahal, yang juga memperlihatkan status sosial mereka. Ini khas anak-anak alumni Amerika, Andi Malarangeng dkk, di mana sepeda dan gaya hidup berhubungan, sebaliknya tidak di Belanda. Sehingga, praktis belum mendorong niat berbagai kelompok sosial, khsususnya kelas bawah, ikut bersepeda.

Tantangan kedua adalah dari industri otomotif. Industri otomotif mencatat penjualan sepeda motor sebanyak 6,3 juta unit tahun lalu. Belum lagi penjualan mobil sekitar 1,1 juta. Pembelinya bisa dipastikan dominan di Jabotabek. Bisa dipastikan mereka ini akan terganggu jika moda bersepeda digemari masyarakat.

Ruas jalan sepeda. Tantangan atas ruas jalan sepeda adalah sebagai berikut. a) ruas jalan ini harus terlindungi dari kenderaan bermotor. Seperti jalan busway, jalur sepeda tidak boleh hanya dipisahkan oleh garis atau perbedaan warna. Dibeberapa tempat seperti itu, umumnya tidak dihiraukan motor dan mobil. Apalagi di Jakarta, trotoar pejalan kaki saja sering dijalani motor. Jadi ruas jalan ini harus aman.

b) jalan sepeda ini harus di desain bisa memudahkan orang-orang menuju tujuannya. Mudah artinya selain jalur utama yang 17 jalur, harus dibangun jalur cabang ke dalam blok bisnis dan perkantoran, sehingga tujuan akhir bersepeda benar-benar maksimal. c) jalur sepeda harus nyaman. Panas dan debu di Jakarta harus dikurangi serangannya kepada persepeda. Seperti membangun titik ber AC/blower kipas berair, peneduh dan lain-lain. Di beberapa ruas jalan di Kuala Lumpur, misalnya, ada trotoar yang diteduhi atap, yang bisa dicontoh.

Tantangan keempat ketersedian sepeda. Pemerintah DKI perlu menyediakan sepeda (sewa atau gratis) pada rute jalur sepeda dan di beberapa distrik/blok perkantoran atau bisnis tertentu. Hal ini untuk mendorong munculnya kegemaran bersepeda dikalangan eksekutif dan masyarakat. Juga menyediakan gerbong khusus kereta api dan MRT untuk membawa sepeda (di Belanda untuk diluar jam sibuk).

Tantangan kelima keteladanan. Pemimpin-pimpinan DKI harus menjadi teladan dalam menggunakan transportasi sepeda. Jika simbol pejabat DKI identik dengan mobil mewah, maka gerakan bersepeda ini akan kandas. Sebab, rakyat tetap membutuhkan contoh bahwa bersepeda itu tidak mengenal kelas atau golongan masyarakat. Hanya menteri Indonesia (jaman dulu) yang bingung melihat menteri dan perdana menteri di Belanda bersepeda. Jika Anies biasa bersepeda, maka rakyat Jakarta akan senang juga bersepeda.

Itulah mungkin beban Anies dalam mewujudkan moda transportasi sepeda sebagai andalan Jakarta. Beban itu harus ditempuhnya, demi menghalau polusi dan menjadikan rakyat Jakarta sehat, segar, bugar, dan menghemat pengeluaran bensin.

Semoga Anies dan jajarannya berhasil.

Penulis adalah dari Jakarta Development Initiative, alumni Pascasarjana Studi Pembangunan ITB, pernah bermukim di Rotterdam, Belanda.

Kolom Komentar


Video

Tim Ekonomi Jilid Satu Harus Dirombak Total

Senin, 14 Oktober 2019
Video

Gibran, Pemuda Dengan Tulang Punggung yang Muda Membungkuk

Selasa, 15 Oktober 2019
Video

KPK Tangkap Tangan Bupati Indramayu

Selasa, 15 Oktober 2019