Emak Militan, Veteran Gerakan Mahasiswa

Senin, 13 Mei 2019, 06:44 WIB

Foto: Ilustrasi

EMAK militan atau emak jaman now, demikian sebutan bagi kaum ibu milenial perindu perubahan. Ketika ada sejumlah peristiwa politik dan sosial kemasyarakatan terjadi, para ibu ini tak segan mengkritisi sebagai bentuk rasa iba terhadap negeri ini. Mereka pun tak jarang turun ke jalan melakukan demonstrasi. Tahun 2018 lalu, mereka cukup populer dengan sebutan Barisan Emak Militan (BEM). Istilah tersebut sebagai plesetan dari kepanjangan BEM, Badan Eksekutif Mahasiswa.

Yang teranyar, diantaranya ketika aksi massa di depan Bawaslu beberapa hari lalu, dalam rangka melaporkan dugaan kecurangan Pilpres 2019. Tak ayal, emak-emak pun menjadi sosok yang begitu disorot atas militansinya justru ketika di saat yang sama kalangan mahasiswa dirasa mulai kendor semangat dan kritisannya terhadap berbagai ketimpangan yang terjadi. Fenomena problem di masyarakat saat ini tidak sesuai antara idealitas dengan realitas yang terjadi dalam kehidupan. Problem sosial di negeri ini terjadi di berbagai tempat secara kompleks–sistemik–struktural.

Negara ini telah terperosok dalam sistem demokrasi-kapitalisme-liberal yang kini telah terderivasi menjadi turunannya yang paling mengerikan, yakni neoimperialisme dan neoliberalisme. Pada dua aspek inilah terdapat “The Invisible Hands”, dimana penjajahan itu tak kasat mata, namun nyata terasa. Bukti paling jelas di negeri adalah adanya kebijakan tentang serba impor, tapi di sisi lain segala aset negara malah dijual. Ini menunjukkan bahwa negara makin berlepas tangan dari perannya sebagai pengatur urusan rakyatnya. Maka, solusi bagi negeri ini jelas harus sistemik dengan pendekatan ideologis.

Konon, emak militan era milenial ini adalah mantan aktivis gerakan mahasiswa di masa mudanya. Karena itu, tak heran jika jiwa kritis mereka tak surut, apalagi padam di kemudian hari, kendati usia sudah menjelang paruh baya. Para emak tadi bersikap kritis, pasti karena ada yang salah. Pernah aktif sebagai aktivis gerakan mahasiswa ketika usia muda tentu menjadi modal yang potensial untuk tetap menjaga semangat menjadi pelaku perubahan. Bukankah perubahan itu harus diupayakan? Dan bukankah Allah tidak akan mengubah keadaan mereka, selama mereka tidak mengubah sebab-sebab kemunduran mereka? Jadi, tak usah heran jika kini mereka masih garang menyuarakan kebenaran meski telah menjadi veteran.

Sejenak berkaca melalui perkataan Umar bin Khaththab ra, khulafaur rosyidin ke-2. Beliau pernah berkata “Barang siapa ingin menggenggam nasib suatu bangsa, maka genggamlah para pemudanya”. Mahasiswa, sebagai kalangan berusia muda, maka modal terbesarnya adalah kekuatan fisik yang prima. Modal besar inilah yang akan mengelevasi kesuksesan dengan percepatan yang bersifat eksponensial.

Kampus memang tempat mencetak generasi unggul. Keunggulan ini nampak pada anugerah akal yang Allah anugerahkan kepada mahasiswa. Melalui proses pendidikan, akal ini berkembang dan kemudian menjadikan mahasiswa berkapasitas sebagai pemikir (intelektual). Termasuk untuk berpikir tentang politik. Di mana definisi politik yang dimaksud berupa pengaturan urusan masyarakat. Ini terkait erat dengan potensi mahasiswa yang berperan besar sebagai pilar perubahan dan penjaga peradaban. Jika kemudaan usia mereka betul-betul berpadu dengan daya intelektualitasnya, pun dengan kekuatan pemikiran ideologis yang unggul dan luhur, ini akan sangat kuat korelasinya dengan kemajuan suatu bangsa.

Para emak sang veteran gerakan mahasiswa, mereka tak lain adalah sang agen perubahan yang idealnya akan selalu memerlukan bara yang membakar secara benar. Semata untuk menjaga panasnya idealisme yang ia miliki.

Menilik hal ini, kita dapat saksikan bahwa kapan pun dan di mana pun, kaum muda adalah variabel produktivitas. Aktivis mahasiswa tahun 1998, boleh dikata paling melegenda. Karena mereka berjasa melengserkan rezim Orde Baru yang telah 32 tahun berkuasa di Indonesia.
Namun apa mau dikata, tuntutan reformasi 1998 tak diiringi konsep perubahan kehidupan yang hakiki. Para mahasiswa pilar pergerakan saat itu toh nyatanya tak sedikit yang akhirnya memilih jalan kompromi dan masuk ke dalam sistem yang sejatinya sama dengan Orde Baru.
Sungguh, Orde Reformasi hanyalah Orde Baru yang berganti nama. Akibatnya, mereka yang sebelumnya dikenal sebagai aktivis dan juga mahasiswa kritis, harus berakhir ironis dalam sikap pragmatis. Hanya puas dengan euforia perubahan sesaat. Mereka bungkam saat diberi jabatan karena merasa aspirasinya selama ini telah didengar.

Jelaslah, mahasiswa memang betul-betul perlu tungku. Ini tak lain agar bara perubahan yang berperan memanaskan mereka akan senantiasa menyala. Agar bara itu tak mudah tertiup angin yang segar sesaat, yang di balik itu justru membuat idealisme mereka mudah terbeli. Maka, bara itu tak lain adalah mabda (ideologi) Islam. Dan tungku itu adalah institusi pergerakan yang benar.

Dengan kata lain, kita semestinya meyakini bahwa bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya. Agar manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain yang benar sehingga mampu mengantarkan kepada perubahan.

Nah wahai emak, problematika ada di depan mata. Tetaplah menjadi kalangan dengan paradigma pikir yang berani beda sebagaimana ketika kita masih mahasiswa. Memikirkan urusan masyarakat, adalah paradigma mutakhir dalam mewujudkan peradaban cemerlang. Buka mata, bersihkan hati, dan jernihkan pikiran. Ingatlah, perubahan itu hanya bisa ditempuh jika kita memiliki visi yang jelas dan langkah yang benar. Negara ini tegak bukan demi kepentingan penguasa dan pengusaha, melainkan untuk mengakomodasi kehidupan layak bagi penduduknya. Mari terus suarakan agar pengaturan negara ini dikembalikan secara sistemik sebagaimana kehendak Dzat Yang Menciptakannya. Karenanya wahai emak, percayalah bahwa perubahan itu niscaya.

Nindira Aryudhani

Koordinator LENTERA
EDITOR:

Kolom Komentar


Video

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

Kamis, 08 Agustus 2019
Video

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

Jumat, 09 Agustus 2019
Video

Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

Rabu, 14 Agustus 2019