Kementan Genjot Pengembangan Sentra Sayuran Organik Di Karanganyar

Minggu, 21 April 2019, 05:02 WIB | Laporan: Elitha Tarigan

Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi saat meninjau tanaman sayuran di Desa Nglebak, Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (20/4)/RMOL

Sayuran organik dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah berpotensi ekspor memenuhi pasar internasional dan tentunya akan membantu kesejahteraan petani.

Demikian dikatakan oleh Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi saat meninjau tanaman sayuran di Desa Nglebak, Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (20/4).

"Kita targetkan dan dorong sayuran berkualitas, sayuran organik, ramah lingkungan dan menyehatkan, hingga masuk supermarket dan bahkan ekspor agar pendapatan petani dan negara meningkat," ujarnya.

Sayur-sayuran yang jadi target ekspor dari wilayah ini adalah tanaman pakcoy, seledri, kacang capri, cabai, wortel, bawang daun dan lain sebagainya. Selain Karanganyar, sejumlah wilayah lain di Indonesia juga tengah digenjot untuk kebutuhan ekspor. Diantaranya Berastagi, Solok, Kerinci, Puncak, Lembang, Pangalengan, Ciwidey, Magelang, Sleman, Wonosobo, Tawangmangu, Batu malang, Enrekang, Modoinding dan lainnya.

Menurut Suwandi, target ini pasti bisa diwujudkan karena tanaman baby buncis, capri, edamame, kubis dan 30 jenis sayuran lainnya memiliki daya saing yang tinggi dan sudah diekspor. Ekspor sayuran 2018 naik lebih tinggi dibandingkan 2017.

"Tanaman sayuran identik dengan sehat dan segar, di Tawangmangu ini daerah dataran tinggi, udara sejuk, tumbuh berbagai jenis sayuran, bahkan banyak juga tanaman obat dan hias. Di sini letak strategis dan juga menjadi tujuan wisata," terangnya.

Hartono, petani sayuran organik Desa Nglebak, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar mengatakan para petani menanam organik sayuran pakcoy, seledri, kacang capri, cabai merah dan lainnya. Ditanam tumpangsari antar sayuran, lahan sayur di sini masih tersebar kecil kecil (spot spot) dan sudah diatur pola tanam sehingga pasokan bisa kontinue.

"Untuk organik harga lebih mahal, misal seledri dalam ikat seberat 2 ons, harga 5 ikat setara Rp 27.500 per kg, hal sama untuk pakcoy harga Rp 15.000 per kg dan kacang capri Rp 50.000 per kg," katanya.

Hartono menyebutkan biaya produksi organik lebih efisien karena tidak dipupuk dan pestisida kimiawi, misal pakcoy organik biaya total Rp 5.000 perkg. Sayur organik ini sudah sarana pasca panen dan packingnya, rutin masuk swalayan atau supermarket, sedangkan sayuran non organik masuk pasar biasa (pasar tradisional).

"Ini lumayan menguntungkan. Kami terus berupaya memperluas tanam organik," jelasnya.
Editor: Tuahta Arief

Kolom Komentar


loading