Magelang Surga Bibit Sawo, Alpukat Dan Klengkeng Raksasa Di Indonesia

Jumat, 19 April 2019, 00:50 WIB | Laporan: Elitha Tarigan

Foto/Kementan

Dusun Teki, Desa Kebonrejo, Kecamatan Salaman, Magelang dapat menjadi tujuan utama dalam mencari bibit budidaya buah sawo dan klengkeng.   

Pembibitan yang tengah jadi perhatian Kementerian Pertanian itu menghasilkan sawo raksasa atau disebut mamey sapote asal Meksiko dan klengkeng keteki.

"Sementara untuk alpukat raksasa bisa berkunjung ke Dusun Brengkel Satu, Desa Brengkel Kecamatan Salaman," jelas Dirjen Hortikultura Suwandi saat berbincang dengan redaksi, Kamis (18/4).

Dia menjelaskan, Kementan terus berupaya meningkatkan produksi buah-buahan lokal yang tidak hanya dikonsumsi di dalam negeri namun juga diekspor. Salah satu upaya yang dilakukan mendorong perkembangan sentra pembibitan di berbagai daerah.

"Bibit buah di daerah ini merupakan bibit unggul. Bibitnya tersedia kapan saja dan jumlahnya banyak. Buah yang dihasilkan berkualitas sangat bagus," beber .

Dia mengaku optimis dengan berkembangnya sentra pembibitan, produksi dan kualitas buah lokal semakin meningkat. Dengan demikian buah lokal semakin mendominasi pasar domestik dan ekspor. Upaya pemerintah guna menekan impor melalui substitusi pun optimis bisa dilakukan lebih cepat.

"Bagi petani di seluruh Indonesia bisa datang belajar ke Magelang belajar pembibitan. Bagi yang mau beli silahkan datang juga ke Magelang. Kita majukan budidaya buah lokal. Kualitas buah kita jauh lebih bagus," papar Suwandi.

Pembibit sawo, alpukat dan klengkeng Mugiyanto menuturkan jenis sawo raksasa mamey sapote yang dikembangkan antara lain magana, loreta, havana dan qiwes. Berat sawo raksasa bisa di atas dua kilogram per buah yang rasanya mirip ubi Cileumbu.

"Sawo raksasa sudah dikembangkan lima tahun. Sepanjang waktu berbuah terus, tidak mengenal musim. Buahnya dari kembang sampai bisa dipanen kurang lebih sembilan bulan," tuturnya.

Di Dusun Teki, Desa Kebonrejo Mugiyanto pun melakukan pembibitan klengkeng yang mencapai 30 jenis. Diantaranya Klengkeng Kateki, Itoh, Mata Lada, dan Merah yang produksinya setiap tahun mencapai 130 ribu batang.

Teknik persilangan atau perbanyakan bibit klengkeng yang dilakukan ada empat yakni sambung sisip, tempel mata, sambung pucuk, dan sambung susu.

"Teknik sambung sisip membutuhkan waktu 20 sampai 30 hari. Sambung mata butuh waktu yang lebih lama, 25 sampai 35 hari. Keberhasilan sambung pucuk tergantung cuaca dan sambung susu butuh waktu 1,5 bulan," paparnya.

Selain sawo dan klengkeng, Mugiyanto yang masih aktif sebagai anggota TNI menambahkan, pembibitan buah yang dikembangkannya yakni alpukat. Terdapat beberapa jenis alpukat seperti kendil dan aligator.

Alpukat kendil sudah dilepas varietasnya. Berat buah mencapai 1,5 hingga 2,5 kilogram per buah dan satu pohon umur tujuh tahun bisa berbuah di atas satu ton per tahun yang berbuah sepanjang waktu. Harga buah di petani Rp 35.000 per kilogram.

"Ada juga Alpukat Aligator berat 0,9 sampai 1,5 kilogram per buah. Bisa berbuah di atas satu ton per pohon per tahun," pungkas Mugiyanto.
Editor:

Kolom Komentar


loading