UAS Ke Prabowo, Jokowi Kelar

Jumat, 12 April 2019, 21:20 WIB

Prabowo Subianto dan Ustaz Abdul Somad/Net

MENDEKATI tanggal 17 April Prabowo-Sandi kebanjiran dukungan.

Sejumlah tokoh dengan pengaruh dan nama beken berbondong-bondong. Mulai kalangan pengusaha, militer hingga ulama. Kalau artis? Tak terhitung jumlahnya.

Dimulai dari Ustaz Bachtiar Nasir, ketua Majelis Pelayan Indonesia (MPI). Terang-terangan deklarasi dukung Prabowo-Sandi. Dan dua kali hadir di acara kampanye Prabowo, di GBK Jakarta dan Sriwedari Solo.

Erwin Aksa, pengusaha muda nan kaya dari keluarga Kalla pun terpaksa meninggalkan posisinya di Golkar dan balik badan untuk mendukung Prabowo-Sandi. Tak tanggung-tanggung, Erwin ajak serta 1.000 pengusaha. Bawa duit tidak? Nah itu yang publik tidak tahu.

Selain Erwin, ada Dahlan Iskan. Pemilik koran Jawa Pos yang dikenal sebagai sosok idealis dan bersih ini pun merapat ke Prabowo. Kendati kedua pengusaha ini merapat di injury time.

Kenapa umumnya pengusaha dukung di injury time? Ada dua kemungkinan. Pertama, karena menghindari benturan dengan penguasa. Mana berani pengusaha-pengusaha besar dukung oposisi? Ijin usaha dan pajak bisa jadi masalah. Begitulah kira-kira yang terjadi. Represif dong? Kedua, atau karena arah angin sudah mulai berubah. Umumnya pengusaha ikut petunjuk angin. Ke mana angin kemenangan itu bertiup ke situlah mereka menaruh uang dan modalnya. Dan satu lagi kelebihan pengusaha lihai menyalib di tikungan. Dan di tikungan itulah seringkali ulama dan relawan ditinggalkan. Alasannya macam-macam. Mulai dari kompetensi sampai keikhlasan.

Dari kalangan militer ada Gatot Nurmantyo. Mantan Panglima TNI yang dicopot Jokowi sebelum waktunya ini juga merapat ke Prabowo. Setelah hampir enam bulan melihat-lihat, menghitung, mengkalkulasi, dan entah berapa berinteraksi akhirnya merapat juga ke Prabowo. Hadir di acara pidato kebangsaan Prabowo Jumat ini (12/4) di Surabaya.

Selain nama-nama beken itu, ada dua tokoh yang paling fenomenal. Sultan Hamengkubuwono X dan Ustaz Abdul Somad (UAS). Keduanya memiliki cerita unik dan heroik.

Sebelumnya, sempat sang raja Jogja disowani Jokowi. Diantar Megawati, ketum PDIP dan sejumlah orang penting di Istana. Keluar dari rumah raja, wajah Jokowi dan Mega terlihat lesu. Menolak wawancara dengan wartawan. Kabarnya sang raja tak bersedia mendukung. Berani ya? Padahal belum ada satu pun kepala daerah yang berani menolak pinangan Istana.

Tapi ketika Prabowo hadir, sang raja tampak lebih hangat dan bersemangat. Masyarakat lalu menyimpulkan bahwa sang raja condong ke Prabowo-Sandi.

Dan Kamis (11/4), giliran ustaz kondang UAS ketemu Prabowo. Entah di mana mereka bertemu. Hingga hari ini, tempat dan jam pertemuan dirahasiakan. Kok pakai rahasia segala? Kabarnya, ada pihak yang tak ingin UAS dukung 02. Netral saja!

UAS nekat. Temui Prabowo. Berbincang berdua. Dan, pembicaraan keduanya direkam. Rekamannya dikirim ke TV One dan tayang.

Gempar. Akhirnya publik tahu ternyata UAS dukung Prabowo. Serius? Kalau nonton rekamannya itu asli. Otentik, bukan hoax.

"Dua hal yang saya minta dari bapak jika nanti terpilih jadi presiden. Pertama, jangan undang saya ke Istana. Kedua, jangan kasih saya jabatan apapun."

Legitimed! Narasinya merepresentasikan kelasnya sebagai ulama. Dukungan yang polos dan ikhlas. Narasi ini tidak saja melegitimasi UAS sebagai seorang ulama tapi juga melegitimasi apa yang UAS sampaikan.

Di antara yang UAS sampaikan bahwa Prabowo akan terpilih jadi presiden. Pertama, dari pengamatan UAS di lapangan. Ketika UAS ceramah dari Sabang sampai Merauke selalu dihadang salam dua jari. Dan kedua, dari pengamatan mata batin. Sejumlah ulama khos yang disowani UAS mengatakan bahwa Prabowo akan menang.

Kombinasi nalar dan mata batin UAS melihat fenomena politik di pilpres kali ini disampaikan ke Prabowo. Apa adanya. Soal benar tidaknya tetap tanggal 17 April jadi penentu takdirnya.

Denny JA, surveyer Jokowi-Maruf yang sekaligus merangkap sebagai timses ini pernah bilang: kalau UAS netral Jokowi-Maruf menang. Sekarang UAS sudah dukung Prabowo-Sandi. Apakah berarti Jokowi-Maruf kelar? Biar Denny JA yang jawab.

Tony Rosyid
(pengamat politik dan pemerhati bangsa)

Kolom Komentar