Etika Politik Dalam Al-Qur'an (54)

Pelajaran Diplomasi Publik (20)

Menghindari Gratifikasi Spiritual (2)

Selasa, 26 Maret 2019, 09:24 WIB

Nasarudiin Umar/Net

GRATIFIKASI spiritual banyak bentuknya. Gratifikasi spiritual Iblis kepada Abu Hurairah, sebagaimana di­uraikan dalam artikel terda­hulu, membuat Abu Hurai­rah betul-betul menyesal. Pengalaman Abu Hurairah juga sering terjadi di dalam masyarakat kita. Mungkin bentuknya berbeda tetapi sifatnya sama, yaitu membuat seseorang terpedaya yang pada akh­irnya melakukan sesuatu yang sesungguhnya menyalahi ketentuan dan perundang-undangan atau kaedah-kaedah sosial yang berlaku umum.

Seseorang mendatangi ahli spiritual, boleh jadi Kiyai, ulama sepuh, resi, pendeta, pastor, atau mungkin dukun, untuk sebuah hajat lebih besar dan memohon bantuan sang tokoh spiri­tual. Sang Tokoh Spiritual bersedia menolong dengan acaranya sendiri dengan catatan, bila­mana berhasil maka ia harus memenuhi per­syaratan yang biasanya akan ditentukan ke­mudian. Setelah berhasil, maka Sang Tokoh Spiritual meminta macam-macam, mau-tidak mau, yang bersangkutan harus mengabulkan­nya karena ia berada dalam under pressure. Terkadang Sang Tokoh Spiritual membawa se­orang rekanan untuk dimenangkan, membawa anggota keluarganya untuk dipegawaikan atau dipekerjakan di instansinya, membawa pro­posal (tidak peduli itu proposal fiktif atau ber­masalah), minta diumrahkan, mengundang sang pejabat untuk datang memberikan le­gitimasi lembaga yang dipimpinnya sehingga kelihatan lembaga Sang Tokoh Spiritual itu le­gitimed karena dihadiri pejabat, tentu selanjut­nya menjadi "PR" (public relation) untuk peng­guna jasa berikutnya.

Terkadang gratifikasi spiritual ini lebih ber­bahaya daripada sekedar gratifikasi uang atau materi. Sang Tokoh Spiritual boleh jadi terus menerus menyandera sang pejabat yang diban­tunya dengan ancaman super natural. Apa lagi jika Sang Tokoh Spiritual memang professional di bidang ini. Banyak tokoh spiritual semacam ini gentayangan di mana-mana. Ada yang me­nawarkan benda-benda sakral seperti cincin permata, keris, jimat-jimat "bertuah". Ada juga seorang perantara yang memanfaatkan keung­gulan Sang Tokoh Spiritual. Mungkin Sang To­koh memang baik-baik, tetapi ada tokoh peran­tara yang secara professional mengomersialkan kewibawaan dan keajengan Sang Tokoh Spiri­tual. Akhirnya dengan memperatas namakan Tokoh Sang Spiritual, pejabat yang sudah dito­long harus menerima kenyataan sebagai "sapi perah" sang makelar spiritual tadi.

Termasuk indikasi gratifikasi spiritual jika se­orang pejabat rajin mengunjungi tokoh-tokoh tertentu, tempat-tempat tertentu yang diang­gap sakral, semisal pondok pesantren yang dipimpin oleh Kiyai atau pemilik padepokan spiritual yang dianggap mumpuni, kemudian dengan sendirinya ia harus balas jasa terh­adap kebaikan sang tokoh spiritual. Atas dasar ketundukan spiritual itu keluarlah kebijakan untuk membangun jalan akses ke lokasi itu, merehab bangunan yang tua, dan memberi bantuan kendaraan operasional, atau bantuan materi lainnya dengan biaya tidak sedikit, yang sesungguhnya berada di luar kewenangan pe­jabat yang bersangkutan. Akibatnya terjadilah kasus relokasi anggaran besar-besaran.

Bayangkan jika sekiranya 10% pejabat pub­lik kita, dan mungkin bisa lebih karena ini seperti fenomena gunung es, yang berada di bawah pressure tokoh spiritual, maka boleh jadi uang negara dalam jumlah besar berada di dalam kontrol tokoh spiritual. Tidak heran jika di ma­na-mana beberapa tokoh spiritual memiliki ke­kayaan yang tidak wajar, misalnya rumah me­wahnya ada di mana-mana, isterinya juga di mana-mana, mengoleksi mobil-mobil mewah, anak-anaknya juga hidup di dalam kemewahan. Bayangkan jika Sang Tokoh Spiritual memiliki 10 orang saja "anak asuh", dikalikan 1% dari to­tal jumlah proyek yang berada di bawah control sang pejabat, maka wajar jika Sang Tokoh Spir­itual hidup di dalam dunia gemerlapan. Tahun 2019 ini bisa dipastikan Sang Tokoh Spiritual akan panen karena tahun ini adalah tahun poli­tik. Semuanya ingin menang! Astagfirullah.
Editor:

Kolom Komentar