Harga Gabah Mulai Anjlok, Petani Desak Bulog Turun Tangan

Rabu, 20 Maret 2019, 15:33 WIB | Laporan: Elitha Tarigan

Gabah petani/Net

Petani minta agar Bulog segera turun untuk menstabilkan harga gabah. Permintaan disampaikan petani yang mulai khawatir dengan penurunan harga gabah.

Sarjia Bolo (53), Ibu rumah tangga asal Takalar, Sulawesi Selatan menyebut harga gabah telah mengalami penurunan secara signifikan di daerahnya.

Dimana harga Gabah Kering Panen (GKP) dengan kualitas paling baik hanya dihargai Rp 4.000 per kilogram, sedang gabah kualitas di bawah rata-rata sekitar Rp 3.800 per kilogram.

“Saya nggak lihat ada Bulog (turun ke lapangan). Tanggal 13 Maret 2019 baru panen di Desa Takalar dan curah hujan tinggi harga Rp 3.800 per kilogram. Saya sangat mengharapkan Bulog cepat turun ke lapangan agar harga stabil. Tahun lalu saja harga sekitar Rp 4.200 per kilogram. Kalau Bulog beli beras kami nanti biar beras di Takalar tidak keluar (di beli pengepul dari kota lain),” pinta Sarjia saat dihubungi, Rabu (20/3).

Hal senada juga disampaikan oleh Lalu Saleh, petani dari Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat mengeluh karena dalam sepekan terakhir inj harga gabah di desanya hanya berkisar di angka Rp 4.000 per kilogram.

"Sudah seminggu ini harga gabah mencapai Rp 4.000 dan cenderung turun terus mencapai Rp 3.800," kata Lalu Saleh.

"Kami mengharapkan Bulog segera turun kelapangan melakukan pembelian," ujarnya.

Redaksi Kantor Berita Politik RMOL juga mencari tahu tentang kondisi harga gabah di Nganjuk, Jawa Timur. Sebagaimana diketahui wilayah ini merupakan satu dari sekian sentra penghasil beras di wilayah Timur Jawa.

"Sepuluh hari lalu harga masih Rp 4.300. Namun saat ini sudah anjlok mencapai Rp 3.700. Hal ini semakin diperparah dengan turunnya hujan," keluh Zainal Abidin (40), petani yang tinggal di Desa Banaran, Kecamatan Pace, Nganjuk, Jawa Timur.

Kepada Bulog Zainal secara khusus meminta agar segera ada tim khusus yang turun ke lapangan yang mau membeli gabah basah petani karena sejauh ini petani di desanya tidak memiliki alat pengering.

"Harapan kami Bulog segera melakukan pembelian, agar kami tidak semakin merugi, apalagi kami tidak punya alat pengering," ujarnya.

Dari wilayah lain di Jawa Timur, yakni Ngawi juga mengalami hal serupa. Bapak Sugeng yang tinggal di Desa Kemiten, Kecamatan Geneng, Ngawi, Jawa Timur mengaku gabah di kampungnya hanya dihargai di angka Rp 3.900 hingga Rp 4.100 per kilogram. Dan pembelian tersebut dilakukan oleh penadah yang berasal dari luar kota, bukan Bulog.

"Gabah kami banyak diambil pembeli dari luar kota dengan harga berkisar Rp 3.900 hingga Rp 4.100 karena Bulog tidak pernah terlihat. Mestinya di saat seperti ini, Bulog hadir melakukan pembelian," ujar Sugeng.

Dari Jawa Timur, redaksi beralih ke petani beras di Jawa Tengah. Ibu Fendi dari Desa Palang Jiwa Tretek, Bantul Yogyakarta justru mengaku harga gabah saat ini hanya berkisar di angka Rp 3.700 hingga Rp 3.800 per kilogram. Kerugian pun menghantui petani disekitar Desa Palang karena hasil panen juga tidak begitu baik.

“Mestinya saat begini Bulog turun membeli gabah kami. Kalau tidak Bulog, kepada siapa lagi kami menjual?” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Ketua KTNA Winarno Tohir mengimbau agar Bulog segera turun ke lapangan dan membeli gaba petani. Tak hanya itu, Winarno juga mengimbau agar Bulog mencari alternatif lain dan lebih gesit dalam mencari pasar baru karena selama ini Bulog dianggap sangat bergantung pada pemerintah, padahal pasar sangat fleksibel dan terus berubah setiap waktu.

"Saya lihat serapan Bulog semakin menurun. Mestinya Bulog harus kreatif mencari pasar agar bisa melakukan penjualan, sehingga bisa menyerap gabah petani," ujar Winarno.

Kolom Komentar


loading