Maaf, Saya Mau Coblos Prabowo Saja

Rabu, 20 Maret 2019, 06:36 WIB

Foto/Net

KALAU cuma punya presiden seperti Donald Trump di USA yang membangun tembok perbatasan dan mengerahkan pasukan bersenjata untuk memblokir imigran gelap Meksiko serta negara lainnya, buat rakyat Indonesia tidak pernah dianggap hebat.
Di sini, cukup dengan pasal karet UU ITE sudah bisa menciduk para tokoh, ulama dan aktivis yang kritis.
Kalau cuma mennyatakan perang dagang dengan Tiongkok untuk melindungi kepentingan nasional warga USA dan industrinya, itu gaya diplomasi internasional yang sudah lama diterapkan oleh Bung Karno dan Pak Harto.
Di sini, semangat rakyat selalu dipacu agar bekerja keras menghidupi keluarganya. Mulai dari menanam cabai di halaman saat harga meroket, makan keong ketika harga daging tinggi, ternak kalajengking karena racunnya mahal di pasaran, hingga saran beralih dari menanam sawit yang murah dengan menanam durian untuk suplai ke Tiongkok. Inovatif kan...
Kalau di Eropa dan Jepang seorang pemimpin menyatakan mundur ketika baru terjerat dugaan korupsi ini sih cemen. Nggak banget buat kami penikmat reality show di Indonesia. Di sini, sudah pakai jaket oranye KPK saja masih bisa cengar-cengir, berkacamata hitam dan melontarkan pernyataan cetar membahana bahwa dirinya dijebak di depan televisi. Bahkan, merevisi doa dan pernyataan kenegaraan adalah hal lumrah, rakyat dianggap mahfum. Isuk tempe sore dele. Luar biasa!

Kalau di Afrika Selatan dilangsungkan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk menghapuskan politik apartheid dan menghilangkan trauma segregasi antar ras, pola ini pasti tidak pas diterapkan di Indonesia. Di sini, persoalan HAM masa lalu terus dikelola menjadi adegan teater menarik lima tahunan untuk menarik suara. Mulai dari peristiwa 1965 hingga kasus orang hilang tahun 1998. Padahal, tiap pemilu pasti ada saja calon presiden yang berjanji akan menuntaskannya, tapi ujungnya hanya jadi dagelan menjengkelkan karena tak jelas akhirnya.

Kalau di USA, Eropa, Jepang hingga Afrika Selatan, seorang tokoh akan tahu diri dan malu untuk maju kembali karena gagal mewujudkan visi misi kampanyenya. Kerap kali malah, pemimpin keok di sana mengundurkan diri sebelum akhir masa jabatan. Di sini, banyak janji lama tak terpenuhi malah sibuk produksi janji baru. Selangit dan mengagumkan, hingga mendapat puja-puji berbagai kalangan serta banjir dukungan dari perangkat pemerintahan di berbagai bidang yang notabene digaji dari pajak rakyat dan kekayaan alam Indonesia.

Kalau di USA, Eropa, Jepang hingga Afrika Selatan seorang pemimpin berusaha untuk realistis dan membumi, bahkan pembiayaan kampanyenya transparan dan akuntabel, model ini sulit menang di Indonesia. Di sini, seorang pemimpin harus visioner dan banyak program mercusuaris, dekat dengan kalangan pengusaha kelompok tertentu yang merupakan mitra industrial kaum buruh, hingga bina relasi akrab dengan berbagai lembaga pakar statistik perpemiluan yang pandai beri advis pencitraan.

Sebenarnya, saya kagum dengan kualitas dan kepedean pemimpin seperti itu. Langka, mungkin hanya lahir segelintir tiap 200 tahun. Rakyat semestinya bahagia dan pandai bersyukur, bahwa di tengah penderitaannya di era resesi dunia saat ini masih diberkahi dengan kehadiran pemimpin visioner tersebut. Mungkin saja, rakyat USA, Eropa, Jepang hingga Afrika Selatan, iri dengan SDM pemimpin yang kita miliki, yang mampu selalu menyemangati rakyat agar kerja keras, tak boleh stagnan dan mengeluh.

Berat rasanya bagi saya untuk berpaling dari pemimpin visioner tersebut. Apalagi, banyak media massa yang terus menyajikan keberhasilan prestasinya, yang mungkin tak disadari oleh mayoritas rakyat Indonesia, apalagi turut merasakannya. Bisa jadi rakyat tak tertarik membaca media itu-itu lagi, atau karena sudah terlanjur pindah ke lain hati.

Pemimpin kita itu visioner, tapi (maaf) saya mau coblos Pak Prabowo saja di Pemilu, Rabu, 17 April 2019 nanti. Kapasitas intelektual dan kemampuan akademik saya belum mumpuni untuk menjangkau berbagai janji baru dari pemimpin visioner yang ingin lanjut berkuasa. Untuk apa pemikiran setinggi langit tapi realisasi hanya sebatas bukit. Tak elok banyak berucap, cuma pemanis laksana kecap.

Buat saya, program dan visi misi Pak Prabowo Subianto dan Bang Sandiaga Uno lebih pas dinanti, juga realistis dan membumi. Menjadi waras dan berakal sehat adalah kemewahan terakhir yang ingin saya nikmati. Saya berharap, rakyat Indonesia melihat jernih dan mencatat berbagai janji dan visi misi 02 Prabowo-Sandi Indonesia Menang serta terus berdoa agar mereka mampu menepati dan tak boleh mengkhianati kepercayaan rakyat.

Semoga yang lama biarlah sirna yang baru teruslah bersinar. Walau tanpa spanduk bagus dan logistik berlimpah, kami akan terus berjuang mendukungmu. Kami titip masa depan anak cucu dan NKRI tercinta di tanganmu.

Ricky Tamba
Jurubicara Jaringan '98/Fanbase Militan 02 Prabowo-Sandi
Editor:

Kolom Komentar