Teknik Bersiasat: Kasus MSD Dan RG Naik Ambulans

Sabtu, 09 Maret 2019, 15:58 WIB

RG dan MSD naik ambulans/Net

DALAM berbagai kesempatan saya gunakan teknik bersiasat dalam mencari solusi terhadap permasalahan mendesak. Teknik bersiasat tersebut kami gunakan saat mencari solusi menghindari terjadinya persekusi acara seminar atau kuliah umum di Universitas Jember bersama Pak Rocky Gerung tanggal 7 Maret 2019.

Pada dasarnya teknik bersiasat adalah upaya mencari solusi tanpa merepotkan atau mempermalukan pihak lain namun tidak mengurangi harkat dan martabat yang kita miliki.

Seperti kita ketahui bahwa sehari sebelum acara terjadi penolakan secara terbuka dan terkesan sangat arogan terhadap acara tersebut, yang setelah ditelusuri adalah salah satu caleg partai Hanura. Bahkan dari video yang beredar keluar kata-kata kasar yang mengancam pimpinan UMJ dan pihak lain yang melaksanakan acara tersebut.

Pada tanggal 7 Maret 2019 rencananya kami akan melakukan dialog, seminar dan talk show di 3 (tiga) tempat di Jawa Timur, yaitu Banyuwangi, Jember, dan Lumajang. Agar menjadi efektif kami memilih penerbangan subuh dari Jakarta menuju Banyuwangi. Saat mendarat kami dapat informasi bahwa acara di Banyuwangi batal karena tidak ada pihak yang "bersedia" lokasinya jadi tempat acara dengan berbagai “alasan”.

Acara kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Jember masih belum pasti karena kondisi di lokasi masih tegang. Laporan dari panitia menyatakan bahwa ratusan aparat dikerahkan sejak pagi berada di lokasi dan Massa sudah berdatangan. Acara yang dinyatakan aman dan kondusif adalah acara di Lumajang.

Kami bertiga sekitar 2 (dua) jam berada di Bandara Banyuwangi untuk memikirkan solusi agar acara di Jember tetap harus berjalan. Kenapa acara ini penting karena kami anggap acara bahwa acara di UMJ sebagai simbol masih tegaknya demokrasi dan masih dilindungunya hak-hak berpendapat di negeri ini.

Kami memiliki 3 (tiga) alternatif solusi untuk acara di Jember : pertama, membatalkan acara di Jember; kedua, naik helikopter dari Banyuwangi ke Jember; dan ketiga pake mobil lewat darat.

Alternatif pertama kami tidak pilih atas pertimbangan, demokrasi tidak boleh mati di negeri ini, kebebasan berpendapat harus ditegakkan,  ribuan peserta sudah berada di lokasi kampus UMJ.

Alternatif kedua kita tidak pilih karena kalau menggunakan helikopter akan mengundang kerumunan massa dan akan merepotkan pihak kepolisian jika ada massa yg kontra menghadang di lapangan.

Akhirnya kami memilih alternatif ketiga, menggunakan mobil lewat darat dari Banyuwangi ke Jember.

Karena belum sarapan, setelah dapat mobil kami mencari tempat sarapan. Seperti biasa di tempat sarapan banyak yang meminta untuk foto bersama pak Rocky Gerung. Saat masih sarapan saya buka medsos ternyata keberadaan kami serta kesiapan berangkat ke Jember sudah muncul di Medsos, maka buru-buru kami segera bergerak.

Sarapan Pak Rocky Gerung tidak selesai bahkan tidak sempat habiskan teh hangat yang dipesan. Karena beliau dan saya sedang flu, maka saya berbagi obat flu sebelum naik mobil agar bisa tidur di mobil. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim kami berangkat.

Saat di mobil kami tanya apakah bahan bakar cukup? Dijawab bahwa kalau tidak ada masalah di jalan, insyaallah cukup. Kami berdua tertidur di mobil dan teman kami, Pak Laode terus komunikasi panitia di Jember.

Betul juga kami harus cari SPBU yang ada solar karena mobil yang kami tumpangi menggunakan solar.

Saat selesai isi bahan bakar kami tanya ke Pak Laode, beliau menyatakan kondisi lapangan belum kondusif tapi massa sudah ribuan.

Kami putuskan untuk tetap sampai ke lokasi demi menyelamatkan demokrasi dan tegakkan kebebasan berpendapat.

Diberikan dua alternatif, pertama cukup ketemu pimpinan UMJ dan berfoto bersama atau tetap orasi di depan massa di Aula UMJ. Keputusan kami yang penting bagaimana cara tiba di lokasi. Nanti kita putuskan di lokasi.

Hal yang kami hindari adalah ketemu aparat dalam perjalanan menuju lokasi adalah dilarang menuju lokasi dengan alasan demi keamanan. Ini kami waspadai karena pengalaman selama ini di berbagai tempat justru pembicara yang ingin tegakkan demokrasi yang dilarang datang-bukan yang menghalangi yang dilarang mengganggu kebebasan berpendapat yang dilarang mengganggu.

Sambil berjalan, dari google maps, saya cek jaraknya sekitar 8 km lagi menuju lokasi acara. Panitia kontak bahwa ada panitia di sekitar tempat kami berada yang menuju lokasi dengan menggunakan ambulans.

Saat itu kami putuskan pindah ke ambulans karena kami perkirakan kalau pakai mobil biasa kemungkinan akan dihadang dan tidak bisa sampai lokasi serta akan merepotkan aparat keamanan.

Kami pindah ke ambulans dalam hitungan detik sampai tangan saya terjepit pintu. Kami bertukar mobil dengan panitia yang sebelumnya menumpang di ambulans. Mobil kami ditumpangi oleh orang lain yang sebelumnya ada di ambulance lewat jalur normal.

Kami memilih jalan tikus tanpa pernah membunyikan sirene.
 
Perjalanan sekitar 20 menit kami tiba lewat pintu belakang sementara mobil kami lewat pintu depan dan informasinya mobil kami dikerumuni massa dan tentunya dicek oleh aparat keamanan, tapi kami tidak ada dalam mobil.

Karena masih memungkinkan kami masuk ruang acara di Aula UMJ. Ternyata massa masih penuh. Demi menjaga agar tidak terjadi sesuatu, pihak UMJ langsung persilahkan Pak Rocky Gerung bicara di hadapan massa yang tetap menunggu sejak jam 08.00 pagi. Kami tiba sekitar jam 12.00.

Pak Rocky Gerung hanya bicara sekitar 15 menit dan saya bicara hanya sekitar 5 menit. Selesai acara kami ke ruangan pimpinan UMJ tempat mereka diancam sehari sebelumnya.

Walau sedang lapar kami hanya sempat makan pisang yg disuguhkan oleh panitia dan meminta izin membawa pisang ke mobil untuk kami makan di mobil. Kami langsung menuju ke mobil dan segera keluar lokasi kampus UMJ.

Kami sempat melambaikan tangan terima kasih kepada aparat atas keamanan yg diberikan sehingga acara bisa berlangsung walau sangat singkat.

Saya sempat teriak kecil di mobil terima kasih ya Allah atas perlindungannya.

Juga sempat berdoa semoga ini yang terakhir terjadi di negeriku ini, sehingga demokrasi dan kebebasan berpendapat tetap tegak.

Kami menuju Lumajang, perjalanan sekitar sejam. Alhamdulillah kami diterima di rumah dinas Wakil Bupati Lumajang dan disiapkan makan siang.

Alhamdulillah kami menyantap soto dan rujak cingur yang sangat enak karena memang sedang lapar. Kami semua kembali bergembira.

Acara di Lumajang sangat kondusif dan berlangsung selama 2 jam (jam 15.00 hingga 17.00). Setelah itu, kami menuju Bandara Juanda kembali ke Jakarta dengan kondisi baik.

Pak Rocky Gerung (RG) terkapar di pesawat sampai penumpang turun belum bangun karena saat mau naik pesawat saya berbagi lagi obat flu.

Artinya siasat yang kami gunakan saat itu, termasuk memilih naik mobil ambulance adalah untuk mendapatkan solusi agar tujuan tercapai tanpa merepotkan pihal lain, termasuk aparat keamanan.

Muhammad Said Didu
(MSD)
Stafsus Menteri ESDM 2014-2016 

Kolom Komentar