Waspada Upaya Membenturkan Nasionalisme Dengan Islam

Selasa, 05 Maret 2019, 00:07 WIB | Laporan: Hendry Ginting

Pangi Syarwi Chaniago/Net

. Kebhinnekaan sebuah keniscayaan membuat Indonesia semakin kuat. Namun rakyat harus mewaspadai adanya fenomena yang ingin membenturkan antara nasionalisme dan Islam.
Demikian disampaikan pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago dalam Diskusi Empat Pilar MPR bertema "Merawat Kebhinnekaan Indonesia" di Media Center DPR, Jakarta, Senin (4/3).

Dia menegaskan dengan kebhinnekaan, sebenarnya tidak perlu lagi rakyat Indonesia diajarkan arti toleransi.

"Bahkan NU dan Muhammadiyah tidak mau lagi diajarkan soal toleransi. Karena kedua organisasi besar itu sudah clear tentang pluarisme, kebhinnekaan, dan keindonesiaan. Kalau kita ajarkan ormas itu tentang toleransi keberagamaan, kita jadi mundur lagi," ujarnya.

Namun di tengah kuatnya kebhinnekaan tersebut ada fenomena yang cukup mengganggu.

Dia menyebut saat ini ada fenomena yang membenturkan antara nasionalisme dan Islam. Juga dihadap-hadapkan antara "saya Pancasila" dan "tidak Pancasila", "toleran" dan "intoleran", nasionalisme dan Islam (radikal).

"Antara yang paling Pancasila dan tidak Pancasila. Antara yang paling toleran dan tidak toleran. Antara yang nasionalis dan Islam. Ini dibenturkan terus menerus. Ini sangat berbahaya. Sampai kapan ini bisa selesai?" tanyan Pangi.

Namun karena fenomena ini terus muncul untuk recoverinya agak lama.

"Kita tidak selesai berpancasila, bertoleransi. Marilah kita bernarasi tentang keadilan, kesejahteraan, kebangsaan, merawat keindonesiaan, kebhinnekaan itu penting," demkian Pangi.

Kolom Komentar


loading