Metakomunikasi Pasca Debat

Kamis, 21 Februari 2019, 20:35 WIB

Ilustrasi/Net

PERDEBATAN terjadi, sesaat ketika tirai panggung debat telah tertutup. Tampilan kontestan Pilpres saat fase debat berlangsung, menjadi objek perdebatan baru. Situasi ini dapat dimaknai dalam bentuk metakomunikasi, yakni berkomunikasi di atas komunikasi. Para pendukung dan penentangnya, kemudian membicarakan apa yang terlontar di arena perdebatan.

Terkadang kondisi perdebatan tersebut, justru berlangsung jauh lebih sengit. Padahal, bisa jadi apa yang hendak disampaikan sang aktor saat bertindak selaku komunikator dalam wilayah debat, sesungguhnya tidak sedemikian seperti yang dipahami oleh para pengusungnya, bahkan mungkin bersifat lebih spontan tanpa disengaja. Disitulah permainan interpretasi diperagakan oleh mesin pendukung para kandidat.

Dinamika politik ini dipastikan semakin menghangat, seiring dengan ajang debat selanjutnya sekaligus mendekati tenggat waktu pemilihan. Lantas apa pentingnya memahami metakomunikasi? Komunikasi politik adalah persuasi, dalam upaya memperoleh dukungan material, berupa suara sah sebagai legitimasi.

Pada kajian metakomunikasi, setidaknya ada beberapa hal yang perlu dikelola, diantaranya (a) makna implisit, (b) pesan eksplisit, (c) aspek verbal, hingga (d) faktor non verbal. Kemampuan untuk mengelola metakomunikasi, menjadi penting pasca sebuah tindakan komunikasi. Mengapa demikian? Karena komunikasi bersifat irreversible, dimana sebuah aksi komunikasi tidak dapat dikembalikan.

Meski koreksi dapat dilakukan, tetapi situasi hasil akhirnya bisa berbeda dengan apa yang diharapkan terjadi pada awal proses komunikasi berlangsung. Dengan begitu, perlu kemampuan untuk melakukan upaya reinterpretasi, guna menjelaskan ulang apa yang hendak disampaikan kepada khalayak. Bagi tim pemenangan, analisis metakomunikasi dapat diarahkan dalam dua posisi, (a) menjelaskan maksud dari kandidat yang diusung, dan (b) mematahkan argumentasi kandidat lain.

Pemakaian analisis metakomunikasi juga penting untuk dilakukan oleh publik, dalam mempersepsikan apa yang hendak ditawarkan oleh para calon, dengan menggunakan kriteria-kriteria yang muncul dari perdebatan yang terjadi.

Pada posisi tersebut, literasi politik publik meningkat menjadi kualitas baru, partisipasi politik bukan pada faktor kesukaan akan figur personal, melainkan pada substansi kebenaran yang disampaikan. Meski demikian, faktor pilihan atas subjektif individual tokoh juga bukan merupakan sebuah kesalahan, karena aspirasi demokrasi memberi ruang kebebasan dalam persoalan pilihan.

Interaksi dan Integrasi

Analisis metakomunikasi harus dikaitkan dengan apakah sebuah pesan komunikasi yang dikomunikasikan ulang, dapat mendorong terjadinya interaksi yang meluas, dan membangun terbentuknya integrasi secara semakin kohesif. Dimana poin interaksi dikaitkan dengan konten, sementara integrasi diselaraskan pada konteks sosialnya.

Apa yang menjadi kajian dari metakomunikasi pasca debat kemarin? Terkait tema: energi, pangan, sumber daya alam, dan lingkungan hidup, maka gagasan besar sebagai wacana yang hendak dibawa, seharusnya adalah hendak kemana arah pembangunan ditujukan berkaitan dengan sektor-sektor tersebut. Maka kita perlu mengurai komunikasi di dalam debat menjadi bagian terinci.

Pada makna implisit, debat harus membawa hal detail, maka data perlu ditampilkan. Keberadaan data sebagai sarana menghantarkan diri pada program yang ditawarkan. Bagi petahana, soliditas data dipergunakan untuk menyatakan keberhasilan, sementara bagi oposisi maka data adalah senjata untuk melayangkan serangan memukul. Detail penting, meski tidak dibutuhkan rinci, bisa berupa gambaran besar berupa taksiran atau estimasi yang representatif. Terkait dengan kajian wacana, hal ini akan bersangkut paut dengan discourse (d kecil), yakni pilihan kata dalam linguistik.

Sedangkan pada pesan eksplisit, para pelaku debat harus mampu membawa situasi pernyataan sebagai penegasan konsep. Hal tersebut dikenal sebagai Discourse (D besar) berupa pandangan serta identitas. Dalam hal ini debat yang dibawakan oleh para kandidat harus mengusung bentuk narasi besar, maka wujud gagasan Indonesia Maju, maupun Indonesia Menang harus lebih rigid.

Pertanyaan yang harus dijawab diantaranya: Bagaimana hendak maju? Lantas mau maju kemana? Apa saja langkah menuju kemajuan? Demikian pula bagi oposisi, dengan menentukan apa identifikasi menang? Menang dari apa? Lalu bagaimana mencapai kemenangan?. Pemaparan secara deskriptif memberi gambaran, bisa pula eksplanatif dengan gaya menjelaskan, harus mampu mengeksplorasi apa yang menjadi tawaran paradigmatik.

Bagian verbal dan non verbal akan selaras dengan intonasi, gesture, raut wajah, kekerapan dan tensi pembicaraan, arah emosional, gerak gerik bahkan hingga tingkat keheningan beserta diam, saat menyimak pertanyaan ataupun menyusun jawaban, menjadi bagian penting dalam memaknai kompleksitas pesan yang hendak disampaikan sang kandidat sebagai komunikator, kepada audiens.

Panggung Drama

Di tengah keriuhan perdebatan di atas debat, toh kita mafhum bila ini memang merupakan show performance diatas panggung, yang mengalami gema pada pikiran dan hati publik. Para aktor akan memainkan peran masing-masing, dari panggung belakang saat persiapan -preparation, menuju panggung depan untuk penyajian -presentation.

Drama disajikan diatas panggung, peran protagonis dan antagonis dimainkan, mengaduk emosi pemirsa, membangun ketertarikan. Karakter dimainkan, dan kemudian audiens terpolarisasi mendukung aktor-aktor pujaan. Kuncinya persiapan prima dan presentasi yang paripurna, dengan tampilan yang meyakinkan. Disini titik kuncinya, panggung debat harus diposisikan sebagai gelanggang bagi optimalisasi menggaet simpati.

Serangan dibutuhkan untuk menekuk lawan, jangan sisakan waktu untuk justru seolah mempersetujui pikiran kandidat lain. Dialektika dimainkan, kontradiksi diperhadapkan, untuk mencapai satu fase kesetimbangan baru. Terlebih bagi kelompok penantang alias oposisi, dalam waktu yang tersisa harus seoptimal mungkin menggaet dukungan, bukan hanya pada kesepahaman rasional, tetapi juga masuk ke wilayah emosional dengan memanfaatkan paparan serta ekspose debat yang massif, termasuk menguasai teritori pasca debat yang ditandai sebagai wilayah metakomunikasi. Formula harus tepat, sesuai dengan skenario, agar mencapai tujuan yang happy ending![***]

Yudhi Hertanto
Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid
Editor: Ade Mulyana

Kolom Komentar


loading