Terima Kasih, Zidane

Jumat, 01 Juni 2018, 03:45 WIB

Zinedine Zidane/Net

ZINEDINE Zidane mengumumkan pengunduran dirinya dari Real Madrid. Zidane memutuskan pergi setelah sukses meraih trofi Liga Champions yang ke-13 dan ketiga secara beruntun. Kabar tersebut tentunya mengejutkan dan menyisakan tanda tanya. Padahal ia sedang dalam masa jayanya sebagai pelatih Madrid. Perjuangannya tentu tak mudah.

Pada 2013/14, Carlo Ancelotti membawa Madrid meraih gelar Liga Champions setelah puasa 12 tahun. Saat itu, Zizou panggilan Zidane menjadi asisten pelatih Ancelotti. Musim berikutnya, ia tak menempati posisi itu lagi. Ia ditunjuk menangani Real Madrid Castilla.

Pada musim itu, Madrid gagal merengkuh satu pun trofi. Tak puas dengan kinerja Ancelotti, petinggi Real Madrid memberhentikan Ancelotti. Madridistas, fans Real Madrid, saat itu berharap agar pelatih asal Italia tersebut bertahan di Santiago Bernabeu. Namun, petinggi klub memecat Ancelotti dengan berbagai pertimbangannya.

Presiden Real Madrid, Florentino Perez mengaku suka dengan kepribadian dan prestasi yang telah diraih Ancelotti dalam dua tahun. Sebelum pemecatan dirilis, para pemain Madrid ramai-ramai memberi dukungan kepadanya. Tetapi pada akhirnya, pelatih berusia 58 tahun itu dipecat karena Madrid merasa butuh kekuatan baru.

Sejumlah nama masuk dalam daftar. Rafael Benitez menjadi kandidat kuat pelatih tim Ibukota Spanyol. Pelatih Real Madrid Castilla, Zinedine Zidane juga masuk dalam bursa pelatih Madrid. Namun, Perez memberi kode calon entrenador anyar. Ia lebih memilih pelatih yang bisa berbahasa Spanyol dengan baik.

Selain itu, Perez juga menginginkan pelatih yang telah berpengalaman. Dan akhirnya Benitez ditunjuk jadi pelatih klub raksasa tersebut. Benitez dikontrak hingga tiga musim. Tentu banyak harapan di pundak Benitez.

Namun, Benitez gagal mempertahankan konsistensi penampilan Madrid. Kalah dalam laga penting dan tersingkir dari Copa del Rey karena masalah administrasi tentu hal yang memalukan untuk Madrid. Ruang ganti yang tidak harmonis juga membuat beberapa pemain merindukan sosok pelatih Ancelotti yang cenderung lebih baik dari mantan pelatih Liverpool itu.

Petinggi klub akhirnya memecat Benitez dan menjatuhkan pilihan kepada Zidane untuk menukangi Madrid. Perez merasa Zidane orang yang tepat karena lebih tahu seluk beluk Madrid. Zidane pernah menjadi pemain Madrid selama 5 musim saat hijrah dari Juventus pada 2001. Musim pertama Zidane di Madrid sangatlah memuaskan. Tendangan voli spesialnya saat melawan Bayern Leverkusen menjadi pengantar kemenangan sekaligus juara Liga Champions ke-9 pada 2002. Ia juga menjadi pemain terbaik di laga itu.

Kehebatannya saat menjadi pemain diharapkan menular saat menjadi pelatih. Zidane membangkitkan semangat pemain untuk menampilkan yang terbaik pada laga tersisa musim ini. Racikan taktiknya ia buktikan saat Madrid menang lima gol tanpa balas atas Deportivo La Coruna di hadapan publik sendiri.

Publik semakin percaya dengan kepelatihan Zidane. Kemenangan demi kemenangan ia raih dan sukses mengantarkan Madrid menjadi juara Liga Champions ketika berjumpa Atletico Madrid pada 2016. Zidane meraih trofi pertamanya bersama Madrid.

Musim berikutnya, sihir Zidane kembali ditunjukkannya. Ia kembali mempersembahkan dua gelar bagi Madrid, yaitu La Liga dan Liga Champions. Atas keberhasilannya itu, Perez memperpanjang kontrak Zidane hingga 2020.

Namun, pada musim 2017/18, Real Madrid tidak sehebat musim lalu. Madrid terancam gagal mempertahankan gelar La Liga dan Liga Champions karena performa yang menurun. Kritik pun datang bertubi-tubi kepada pemain. Karena itu, Zidane mengatakan tak menjamin bakal bertahan di Madrid. Tapi, Zidane akan berusaha keras untuk memenangkan pertandingan tersisa.

Terbukti ia mengantarkan Madrid di posisi 3 klasemen Liga Spanyol. Zidane juga berhasil membuat Madrid kembali menjadi raja Eropa tiga kali berturut-turut. Gelar terakhirnya itu ternyata menjadi kado perpisahan yang manis bagi klub dan penggemar.

Siapa sangka Madrid dapat kembali juara Liga Champions saat penampilannya yang menurun. Bagaimanapun, saya, sebagai fan Real Madrid, merasa beruntung melihat sosok yang mampu membangkitkan semangat Madrid saat terpuruk hingga sukses meraih 9 trofi. Saya rasa Zidane adalah pelatih terbaik dunia selama saya menonton sepak bola.

Mungkin ia hanya perlu beristirahat di tengah tekanan yang terus menerus datang kepadanya. Saya harap ia dapat melatih Madrid lagi.

Terima kasih, Zidane. [***]

Ramadhan L.Q
Fan Real Madrid tinggal di Jakarta

Kolom Komentar


Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021
Video

RMOL World View • Menjaga Gawang Pertahanan Indonesia

Senin, 18 Januari 2021

Artikel Lainnya

Bacaan Hukum Terkait Bencana Banjir Kalsel
Publika

Bacaan Hukum Terkait Bencana..

22 Januari 2021 02:19
Rizal Ramli Soal Uang Mahar: Di Barat Dianggap Lucu Dan Sangat Tercela
Publika

Rizal Ramli Soal Uang Mahar:..

21 Januari 2021 23:34
Intervensi Kemendikbud Dalam Menyelesaikan Kasus Plagiarisme Di USU, Perlukah?
Publika

Intervensi Kemendikbud Dalam..

21 Januari 2021 21:48
Pupuk Langka Di Pasaran, Stok Melimpah Di Gudang
Publika

Pupuk Langka Di Pasaran, Sto..

21 Januari 2021 18:41
Duh, Anies Dikerjain Lagi!
Publika

Duh, Anies Dikerjain Lagi!

21 Januari 2021 11:45
Perpres Berbahaya, Mau Dibawa Kemana Negara?
Publika

Perpres Berbahaya, Mau Dibaw..

21 Januari 2021 09:58
Sentimen Agama Calon Kapolri
Publika

Sentimen Agama Calon Kapolri

20 Januari 2021 20:13
Tiga Memukul Sinuhun
Publika

Tiga Memukul Sinuhun

20 Januari 2021 14:24