"Apalagi bila sentimen etnis dan agama itu terus dimunculkan sementara urusan kesejahteraan rakyat diabaikan," kata pengamat politik dari Universita Indonesia (UI), Andrinof A Chaniago, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Minggu, 8/7).
Menurut Andrinof, yang juga Direktur Center For Indonesian Regional And Urban Studies (Cirus), berdasarkan survei yang dilakukan pada Mei lalu, sekitar 54 persen masyarakat Betawi miskin dan 30 persennya hidup pas-pasan. Artinya, 84 persen warga Betawi tetap hidup susah.
Data ini, ungkap Andrinof, memperkuat hasil penelitian skripsi mahasiswanya, yang menunjukkan bahwa 90 persen lebih penerima bantuan tunai langsung (BLT) tahun 2008 di Depok adalah warga Betawi.
"Ini bukti, masyarakat Betawi tetap terpinggirkan dan hanya menjadi korban elit yang hanya kejar kekuasaan dengan jualan sentimen etnis dan agama," demikian Andrinof.
[ysa]
BERITA TERKAIT: