Berita

Ilustrasi. (Foto: Generate AI)

Makro

Ekonomi Tumbuh 5,47 Persen tapi Rupiah Masih Babak Belur

MINGGU, 08 NOVEMBER 2026 | 07:33 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47 persen (year-on-year/yoy) pada triwulan III 2026 disambut baik Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak.

Capaian ini lebih tinggi dari triwulan II 2026 (5,29 persen) dan triwulan III 2025 (5,04 persen), serta melampaui perkiraan banyak ekonom.

“Ini kabar baik yang patut kita syukuri. Ekonomi nasional masih tangguh di tengah ketidakpastian global,” ujar Amin Ak, Minggu, 8 November 2026.


Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen dan menyumbang 2,62 poin terhadap pertumbuhan. Investasi (PMTB) tumbuh 6,06 persen. Industri pengolahan menjadi sektor penyumbang terbesar dengan 1,20 poin, diikuti perdagangan dan konstruksi.

Sinyal serupa datang dari sektor manufaktur. PMI Manufaktur Indonesia Oktober 2026 naik ke 54,0, tertinggi sejak Maret 2024, dengan pesanan ekspor baru tumbuh tercepat sejak survei dimulai pada 2011.

Amin mengajak semua pihak membaca capaian ini secara jernih. Belanja pemerintah memang komponen yang tumbuh paling cepat, yakni 8,95 persen. Namun demikian, lajunya masih lebih rendah dibandingkan triwulan II (15,97 persen).

Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen dan investasi 6,06 persen. Keduanya tumbuh sedikit lebih lambat dibandingkan triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan total tetap naik karena beban dari impor terhadap perekonomian mengecil. Artinya, mesin pertumbuhan dari dalam negeri belum sepenuhnya menguat.

“Pertumbuhan yang sehat harus berpijak pada daya beli masyarakat dan investasi swasta, bukan hanya belanja pemerintah,” katanya.

Di sisi lain Amin juga menyoroti sejumlah risiko. Pertama, rupiah dan suku bunga. Kurs rupiah sekitar Rp17.985 per dolar AS pada 20 Oktober 2026, BI-Rate bertahan di 5,75 persen, dan cadangan devisa turun menjadi US$146,3 miliar pada akhir September 2026.

Kedua, neraca dagang. Surplus Januari–September 2026 hanya US$10,61 miliar, turun dari US$33,54 miliar tahun lalu karena impor tumbuh lebih cepat daripada ekspor. Ketiga, inflasi pangan. Inflasi Oktober 2026 sebesar 3,23 persen, dengan inflasi harga bergejolak (pangan) mencapai 5,81 persen.

Keempat, APBN. Defisit hingga September 2026 mencapai Rp319 triliun (1,24 persen PDB). Proyeksi akhir tahun sekitar 2,8 persen perlu dijaga agar tetap kredibel.

Amin menambahkan, kemiskinan memang turun menjadi 8,07 persen pada Maret 2026, tetapi rasio Gini naik ke 0,368. Artinya, manfaat pertumbuhan belum sepenuhnya dirasakan secara merata.

“Pertumbuhan tinggi harus diterjemahkan menjadi peningkatan daya beli, lapangan kerja layak, dan harga kebutuhan pokok yang terjangkau,” tegasnya.

Ia pun mendorong pemerintah dan Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi secara terkoordinasi, memperkuat ekspor manufaktur, serta memastikan belanja negara tepat sasaran dan efisien.



Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya