Berita

Gedung Kementerian Pertahanan (Kemhan) (Foto: Facebook Kemhan)

Politik

Kemhan Tidak Boleh Terpecah Kepentingan Kelompok, termasuk oleh Geng Solo

MINGGU, 08 NOVEMBER 2026 | 06:31 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Pertemuan makan siang Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin bersama jajaran pejabat Kementerian Pertahanan (Kemhan) di Jakarta, pada Jumat 6 November 2026, dinilai memiliki arti strategis di tengah meningkatnya ketegangan politik dan persoalan keamanan nasional.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai, pesan soliditas, kesatuan visi, dan kewaspadaan yang disampaikan Sjafrie tidak bisa dilepaskan dari perkembangan situasi nasional, terutama mencuatnya kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret sejumlah perwira tinggi Polri.

Menurut Amir, dalam situasi seperti sekarang, konsolidasi di lingkungan pertahanan menjadi penting untuk memastikan seluruh jajaran negara bekerja dalam satu garis kebijakan dan kepentingan nasional.


“Loyalitas aparatur pertahanan harus ditujukan kepada negara dan Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan sesuai konstitusi,” kata Amir, dikutip Minggu 8 November 2026.

Amir melihat ada pesan strategis di balik penekanan Sjafrie mengenai kekompakan, kesatuan visi, dan kesamaan langkah.

“Kemhan tidak boleh terpecah oleh kepentingan kelompok maupun jejaring kekuasaan yang berkembang di luar garis komando pemerintahan,” kata Amir.

Dalam pembacaan politik Amir, hal ini juga berkaitan dengan munculnya istilah Geng Solo dalam dinamika politik nasional.

“Jajaran pertahanan harus menjaga independensi kelembagaan dan tidak terseret dalam tarik-menarik kelompok politik yang dapat mengganggu konsolidasi pemerintahan Prabowo,” kata Amir.

Amir juga menghubungkan pesan kewaspadaan Sjafrie dengan kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo yang kini memasuki proses hukum.

Bareskrim Polri telah menetapkan empat orang perwira tinggi (Pati) Polri sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh.

Keempat tersangka adalah Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Irjen Ahrie Sonta Nasution, Irjen Eko Hadi Santoso, dan Irjen Pol Slamet Uliandi.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya