Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Palestina dan Percaturan Imperium Global

SABTU, 07 NOVEMBER 2026 | 05:59 WIB

KAWASAN Palestina memiliki arti unik dalam pembangunan global. Keunikannya pula yang menjadikannya saksi sejarah perebutan kekuasaan, antara kekuatan imperium global di tiap lini masa sejarah, yang termutakhir adalah konflik Israel dan Palestina yang berkepanjangan ini. Konflik ini merupakan salah satu yang terpanjang dalam sejarah manusia, telah seratus tahun konflik berlangsung namun belum ada titik temu solusi damai. Atau dalam kata lain, kontestasi di kawasan ini bukanlah kontestasi biasa. Dinamika dan baku tikam di kawasan Palestina selalu melibatkan kekuatan besar pada tiap zamannya, lantas yang menjadi pertanyaan menarik, fitur penting apa di balik kawasan ini sehingga ia harus diperebutkan?

Fitur unik yang pertama dan yang menjadikannya mewah dari kawasan ini adalah Tanah Levant. Tempat yang membentang dari Terusan Suez sampai utara dataran tinggi Golan. Levant adalah jembatan darat Asia-Afrika. Kawasan ini menjadi kunci bagi akses strategis dalam geopolitik global. Sejak era Mesir Kuno, Levant adalah wilayah vital bagi geopolitik, karena ia menjadi wilayah penghubung antar benua dan bermakna strategis bagi pergerakan dan manuver militer. Salah satu pertempuran terhebat dalam sejarah Mesir Kuno yang dikenal sebagai The Battle of Megiddo 1457 SM terjadi dan memperebutkan wilayah Levant. Pertempuran ini antara Kerajaan Mesir Kuno yang dipimpin Thutmose III melawan koalisi pemberontak Kanaan dikomandoi Raja Kadesh (Afkar, 2020).

Tercatat dalam sejarah, dua kali perang dunia, di mana sekutu menguasai Levant, dua kali pula sekutu keluar sebagai pemenang perang. Kawasan ini sangat strategis secara geopolitik dan militer. Siapa yang menggenggam jalur Levant, dia menguasai akses pergerakan militer, baik Asia maupun Afrika. Siapa yang menguasai kawasan ini, ia bisa menjadi penguasa dunia. Perebutan kawasan ini akan selalu melibatkan kekuatan-kekuatan global dan penguasa-penguasa terpenting pada tiap zaman, mulai dari Mesir Kuno, Babilonia, Romawi, hingga Ottoman pernah menguasai kawasan Levant di masa kejayaannya. Semua ambisi imperial harus mendominasi Levant. Karena posisinya yang benar-benar strategis, pada abad 20 itu tidak hanya bermakna akses penetrasi militer, tapi akses terhadap kawasan-kawasan penghasil minyak dan efisiensi dan distribusi bagi industri berskala global.


Fitur kedua yang tak kalah menarik adalah Terusan Suez, jalur transportasi penghubung antara Laut Mediterania dan Laut Merah. Jalur Gaza yang berada di Palestina hanya hitungan jengkal dari Terusan Suez. Dan ini adalah perairan paling sibuk dari jalur perdagangan internasional. Sekitar 12 persen perdagangan global dan 30 persen lintas peti kemas global terdistribusi melalui Terusan Suez. Jumlah itu senilai lebih dari 1 triliun Dolar AS per tahun (MFAT 2021). Sebabnya ini yang membuat Palestina sebagai kawasan yang sangat penting untuk dikuasai. 

Kemudian mengapa bukan Mesir? mengapa berusaha mengendalikan Terusan Suez dari Palestina? Karena pada momen terjadinya gelombang kemerdekaan negara-negara terjajah, gerakan nasional Mesir adalah gerakan yang bersatu. Meski dibombardir saat perang dunia kedua dengan pertempuran yang dikenal Battle of Alamein II. Gerakan rakyat Mesir sukses membentuk front bersama, terdapat tokoh Gamal Abdel Nasser yang membentuk koneksi yang solid antara kepemimpinan politik dan gerakan massanya. Ini yang tidak terjadi pada gerakan kemerdekaan Palestina. Ini yang tak dimiliki perjuangan rakyat Palestina.

Israel-Palestina: Konflik Antar Imperial, Bukan Konflik Agama

Timur Tengah memiliki keistimewaan dengan letaknya yang strategis. Ia berada di antara persimpangan 5 laut dan persinggungan 3 benua. Ia menjadi jalur lintas regional dan lintas benua. Dan wilayah Levant, Palestina merupakan jantung dari kawasan Timur Tengah. Sebagai jembatan darat Asia dan Afrika, wilayah Palestina menjadi perlintasan berbagai kebudayaan dan peradaban yang masyhur. Seperti Baghdad sebagai kota peradaban, menjadi mercusuar saat masa keemasan Islam. Wilayah Palestina adalah pewaris dari interaksi peradaban dan kultur yang beragam dan amat kaya. Di sini terdapat kota suci dari tiga agama: Yerusalem.

Konteks Palestina hari ini dan kekelaman yang terjadi di dalamnya, tak lepas dari akibat kolonialisme. Dari kolonialisme memunculkan kapitalisme dan kehidupan modern. Yang dibangun dari perampokan besar-besaran negara-negara utara di bumi selatan. Walter Benjamin menyebutnya sebagai moments of danger (Löwy 2012), momentum yang disesaki bahaya. Laju modernitas-kapitalisme melahap ragam aspek yang berkelit-kelindan antara ruang, wilayah, dan bangsa. 

Dengan sifat kapitalisme yang ekspansif, memaksa penyeragaman dengan standar industri, dan surplus yang tersentralisasi. Fenomena ini mengoyak dunia. Menghasilkan kesenjangan yang terlampau lebar dan penderitaan berkepanjangan entitas-entitas terhisap dan terjajah. Dan bangsa Palestina pasca 1948 lewat pendirian negara Israel tertimpa nasib naas dengan settler colonialism, pendudukan Tanah Air secara langsung. Bangsa Palestina mengalami bentuk kolonialisme yang paling primitif kala dunia bergerak dalam arus kehidupan modern.

Tatkala kolonialisme melahap dunia dan meninggalkan dunia yang busuk. Palestina bagaikan tertimpa tangga dua kali. Kawasan ini dicacah oleh para kekuatan Imperialis. Kubu yang satu dengan kubu yang lain menggunakan proxy war atau pion geopolitik untuk memenangkan kawasan Levant. Berbicara kekuatan imperialis di Palestina, yang kekuatan imperialis bukanlah Israel. Melainkan AS dan Inggris. Inggris mengawali kiprahnya di Timur Tengah dengan menaruh modal segar di Terusan Suez. 

Kala itu Mesir sedang bergejolak antara penduduk Mesir pada tahun 1881, dengan pemerintahan Ottoman yang menaungi wilayah Mesir saat itu. Bertengger di Terusan Suez, memberi ruang bagi Inggris mendulang keuntungan ekonomi dan politik sekaligus. Kekuatan ekonomi yang terus bertumbuh, menguatnya posisi geopolitik, dan momentum sejarah yang tiba pada perang dunia 1, membawa perubahan konstelasi di Timur Tengah. Inggris menggusur kekuasaan Turki Utsmaniyah. Inggris mengarsiteki bangunan imperial di Jazirah Arab.

Lewat dokumen Balfour (1917), Inggris menginisiasi pembentukan negara Israel bagi orang-orang Yahudi setelah dinamika politik panjang di Eropa. Dari sinilah Negara Israel mulai terbentuk. Proyek imperialisme memasuki babak baru dengan Israel sebagai proxy. Geopolitik di Timur Tengah dihiasi konflik tak berkesudahan Israel dan Palestina. Setelah kekuatan Inggris memudar pasca perang dunia kedua, AS menggantikan Inggris sebagai kekuatan hegemonik global dan memainkan orkestra dalam geopolitik di kawasan ini. Karena gelombang anti penjajahan yang membara, AS tak bisa berkuasa langsung, yang artinya harus memakai proxy. Pasca 1948, menyempurnalah Israel sebagai proxy bagi kekuatan imperial yang posisinya diambil alih oleh AS.

Hingga hari ini menjadi cerminan konstelasi di kawasan ini. Baik, di Inggris dan AS, betapapun sengitnya persaingan Partai Demokrat dan Republik di AS dan Partai Buruh dan konservatif di Inggris, keduanya sama-sama mendukung Israel. Karena Israel adalah kepanjangan tangan mereka di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, dalam dinamika politik nasional dan internasional. Pion politik bukanlah benda mati. Ia memiliki independensi relatif atau dalam kata lain memiliki dinamika internalnya sendiri. Tapi AS sebagai negara adidaya berupaya memastikan, kelompok yang selaras dengan kepentingannya yang memenangkan pemilu. Untuk mengamankan agenda-agenda AS tetap pada jalurnya. Yang secara umum tak bertentangan dengan politik luar negeri AS. Selama AS masih mendukung penuh Israel dan Israel dominan menguasai kawasan. AS akan terus berjaya di panggung global.

Partai yang dominan di Israel adalah Partai Likud. Ia merupakan ekstrem sayap kanan. Partai Likud berkuasa sejak 1997, hampir berbarengan dengan kekuasaan Ronald Reagan di AS dan Margaret Thatcher di Inggris. Bersamaan pula dengan naiknya Neoliberalisme sebagai sistem hegemonik dunia. Usia kekuasaan Neoliberalisme sama dengan usia kekuasaan Partai Likud di Israel. Partai Likud sangat bergantung dengan kekuasaan hegemonik Neoliberalisme, dan kekuatan hegemoni Neoliberalisme yang terus memberikan insentif untuk Partai Likud terus berkuasa.

Kubu yang berbeda, terdapat Rusia dan Tiongkok yang berada di belakang Palestina. Rusia berperan tidak secara langsung di kawasan Levant, melainkan melalui Suriah. Jejak Rusia di Suriah telah berlangsung sejak 1950-an. Rusia memiliki Suriah sebagai proxy dan disertai kedekatan Hizbullah dengan Suriah secara militer dan politik. Rusia memakai pola projecting power, seperti pertarungan di Afrika Selatan dalam membantu gerakan pembebasan. Rusia berkiprah lewat Kuba, meneruskan ke Angola, dan Angola mengirim bantuan ke Afrika Selatan. Seperti bermain karambol, untuk menyasar bola yang dituju, perlu memantulkan bola ke arah lain sebelum kena bola yang diincar.

Sementara Tiongkok melakukannya dengan terang-terangan di era Mao Zedong, Tiongkok mengirim bantuan senjata kepada Palestine Liberation Organization (PLO), organisasi pembebasan Palestina. Tiongkok membantu persenjataan dan memberikan pelatihan militer kepada empat unit PLO (Oppenheimer 2019). 

Semakin ke sini, Tiongkok lebih gencar menggunakan medium soft power, dengan menginisiasi proposal perdamaian yang pertama kali diajukan pada 1989, langkah serupa pada 2014, dan dengan aura berbeda saat menyodorkan kembali di DK PBB pada tahun 2021. Tiongkok menapaki dirinya sebagai kekuatan yang berpengaruh di kawasan dan di kancah internasional.

Kondisi politik global saat ini, telah berubah dan menimbulkan kemungkinan baru. Saat ini tidak diwarnai dengan penaklukkan ke berbagai wilayah dan menguasainya atau seperti era imperium politik. Melainkan dengan kekuatan finansial. Kekuatan modal menjadi pondasi tatanan kapitalisme, kini dunia memasuki era imperium ekonomi.

Terdapat perbandingan menarik antara AS dan Tiongkok dalam menghiasi konstelasi dunia. AS mengukuhkan pengaruh dengan pendekatan militer dan keamanan. Membangun pangkalan militer di berbagai negara. Sedangkan Tiongkok menjadi kekuatan besar global dengan pendekatan ekonomi, melalui formula integrasi ekonomi dan interkonektivitas dengan skema BRI sebagai sajian di muka. Tiongkok adalah raksasa ekonomi. Pada 2022, Brand Finance merilis peringkat Bank terbesar di dunia, posisi empat besar didominasi oleh Bank asal Tiongkok: ICBC, China Construction Bank, Agricultural Bank of China, dan Bank of China. Ini menunjukkan kondisi kapital Cina yang membesar. Daya ekonomi meningkatkan kekuatan Tiongkok dalam lanskap global, dan Timur Tengah sebagai arena penting untuk menguatkan kedudukan Tiongkok sebagai kekuatan besar.

Soft power Tiongkok, hadir dalam skema Belt Road Initiative (BRI). BRI dapat dimaknai pembangunan global ala Tiongkok. Ia bercirikan menjalin konektivitas lintas benua untuk mengamankan rantai pasok energi dan jalur perdagangan. 50 persen kebutuhan energi Tiongkok berasal dari Timur Tengah (Mazel 2022). Ini tak lepas dari kebutuhan energi Tiongkok yang amat besar dengan populasi besar. Ini menunjukkan interest besar Tiongkok di kawasan Timur Tengah, di Tanah Levant.

Makna Timur Tengah bagi Tiongkok, adalah bagian integral pembangunan global Tiongkok. Wilayah ini fitur untuk menjahit konektivitas antar regional, Asia Tengah, Eropa, dan Afrika. Tiongkok memiliki konsep interkoneksi industrial park dan port (Dua roda-dua sayap), untuk mengkreasikan Zona Ekonomi Khusus. Tiongkok gencar berinvestasi di wilayah pelabuhan dan kereta api di Timur Tengah. Dan Terusan Suez adalah jalur penting bagi Tiongkok, berkisar 60 persen ekspor Tiongkok ke Eropa melewati Terusan Suez (Lyall 2019).

BRI menjaring simpul strategis, yang meliputi Selat Hormuz, kawasan Levant, dan Terusan Suez. Menjahit konektivitas lintas benua. Dengan konektivitas lintas benua membantu meluaskan pangsa manufaktur lokal dan menopang industri global Tiongkok. BRI membantu mendongkrak tumbuhnya wilayah tengah dan barat kota-kota Tiongkok seperti Xinjiang, Zhejiang, Guanxi, Ningxia, dan Yunan. Memiliki volume produksi yang besar, Tiongkok membutuhkan perluasan pasar dan ruang yang selalu segar untuk kapital Tiongkok. Dengan integrasi ekonomi dan konektivitas Tiongkok mendesain sebuah imperium ekonomi. Membangun tata pembangunan global yang berkiblat ke Tiongkok. Ini indikasi ambisi imperial Tiongkok.

Realitas ini, menunjukkan kepentingan kekuatan adidaya di tanah Levant. Tempat ini menjadi arena sengit para kekuatan besar untuk menjadi penguasa global. Kondisi ekonomi politiklah yang mendasari kondisi tanah Levant saat ini. Bukan konflik agama. Atau pengaburan lewat konflik Israel dan Palestina semata. Melainkan tersembunyi konflik antar imperial, yang mengusung kepentingan dan agenda besar. Membangun imperium. Menahbiskan diri menjadi penguasa dunia.

Fitur istimewa yang tak terpisahkan adalah kawasan Levant atau Jembatan Darat Asia dan Afrika dan Terusan Suez. Kedua fitur ini adalah akses strategis dalam perdagangan global dan akses menuju ke tempat-tempat penghasil minyak di Timur Tengah. Ini menjadi jantung konflik. Menjadi pertarungan kapital kekuatan-kekuatan besar. Tempat bersemayam ambisi imperial.

Menguak konflik antar imperial adalah membuka watak konflik sesungguhnya. Mencari akar masalah dan tak berhenti dengan apa yang tampak di permukaan, yakni Konflik Israel dan Palestina. Selama ini konflik yang dikipasi dengan bumbu agama, dengan mengadu ultra nasionalisme dan ultra religius di antara proxy yang ada. Itu akan menjadi lingkaran kekerasan yang tiada henti, hal itu akan membuat semakin jauh dari perdamaian. Hanya menghasilkan bidak mana yang lebih kuat bagaikan bandul yang silih berganti mengikuti dinamika para kekuatan imperial. Sementara realitas menunjukkan masyarakat sipil menanggung resiko paling buruk.

Solidaritas Global untuk Menandingi Konflik Imperialisme

Semangat kemanusiaan universal mesti dimajukan dalam konflik ini seraya mencoba memahami akar masalah. Seperti jaring laba-laba yang saling terkait, konflik ini berkelindan dengan pembuangan demi pembuangan yang dialami bangsa Yahudi dalam beberapa periode sejarah. Ditambah pemburuan dan penindasan luar biasa kaum Yahudi di Eropa. 

Dalam tulisan, Los Hijos De Los Dias, Eduardo Galeano menggambarkan dengan apik, “Berburu Yahudi selalu menjadi olahraga kegemaran Eropa. Kini, Orang Palestina yang tak pernah memainkannya harus membayar tagihannya”. Kemalangan sejarah yang menimpa Bangsa Palestina dan Bangsa Yahudi adalah akumulasi dari ketidakadilan yang terjadi sepanjang sejarah.

Upaya perdamaian dari konflik ini, harus membuka kesadaran bahwa ini konflik antar imperial, bukan konflik agama. Maka yang mesti dilakukan adalah dengan membangun gaung anti imperialisme atau menekan ambisi imperialisme negara adidaya. Jika kedok mainstream tidak dibuka, mustahil perdamaian yang abadi dapat terwujud di Tanah Palestina.

Pada pemilu belakangan, Partai Likud yang biasanya dominan di Knesset (Parlemen Israel) ditandingi dengan sengit karena menguatnya Partai Kiri di Israel yang dihuni oleh orang-orang Arab (salah satunya Partai Raam yang tergabung dalam koalisi). Salah satu program dari oposisi adalah solusi dua negara untuk merajut upaya damai. Mungkin bagi sebagian kalangan ini tak ideal. Tapi realistis ketika melihat perimbangan kekuatan. Selangkah lebih dekat pada penghapusan penjajahan di atas dunia.

Begitu pula, di kubu Palestina. Rakyat Palestina yang menghadapi ketertindasan ganda dari dalam negeri oleh elite Palestina yang mengeruk keuntungan dari konflik dan dari luar oleh kepentingan imperial dengan Israel sebagai pion. Solidaritas dan penguatan rakyat harus diarahkan kepada perjuangan rakyat Palestina bukan kepada Hamas. Agar kekuatan rakyat bisa menggusur organisasi sayap Kanan, dan menatap pembebasan nasional yang lahir dari perjuangan rakyat Palestina.

Kedua entitas ini, masyarakat sipil Israel dan Palestina mesti terbangun komunikasi dan memajukan solidaritas untuk menandingi agenda imperial. Untuk menggerus kekuatan elite politik yang menjadi kepanjangan tangan imperial dan menjauhkan pada penghormatan kemanusiaan bagi masing-masing pihak. Kesadaran membangun solidaritas sesama masyarakat sipil menjadi langkah kunci untuk menggeser konfigurasi narasi konflik. Sedangkan untuk menandingi keserakahan kekuatan imperial dibutuhkan solidaritas global. Solidaritas antar rakyat pekerja Israel dan Palestina sebagai garda terdepan. Dan Solidaritas komunitas internasional yang turut membantu dan memperkuat dari belakang.

Identitas dan Hak hidup kedua entitas harus dihormati dan tak menegasikan antara satu dengan yang lain. Kemanusiaan universal harus dibentangkan masyarakat global. Komunitas internasional harus bertanggung jawab untuk menjamin hak hidup, baik untuk bangsa Yahudi dan bangsa Palestina. Setiap bangsa berhak hidup dan merasakan kedamaian di muka bumi ini.

Mesti dibangun persepsi dunia bahwa ini pembebasan nasional dan masyarakat internasional harus mengulurkan solidaritas untuk kedua bangsa ini dan mendorong agar keluar dari cara berpikir rasis. Mengenai solusi dalam bentuk apa, solusi dua negara atau satu negara itu tidak terlalu mencemaskan. Ketika solidaritas antar rakyat sudah terbangun. Penyelesaian masalah harus berada di tangan kedua rakyat itu sendiri.


Mikhail Adam
Pegiat Literasi Mazhab Tebet


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Hari Bakti, Lapas Cianjur Gelar Aksi Bersih-Bersih melalui Imipas Peduli

Jumat, 06 November 2026 | 22:35

Kejagung Sita Rp11,7 Miliar dalam Kasus Nikel Arif Kurniawan

Jumat, 06 November 2026 | 22:31

Kapolri Banjir Dukungan Bongkar Kasus Penyadapan

Jumat, 06 November 2026 | 22:21

Bank Mandiri Bukukan Laba Bank Only Rp46,5 Triliun

Jumat, 06 November 2026 | 22:19

Aturan Berubah, Ekspor ke Jepang hingga Uni Eropa Masuk Daftar Relaksasi

Jumat, 06 November 2026 | 22:06

11 Kreator Indonesia Siap Bersaing di TikTok Awards Southeast Asia 2026

Jumat, 06 November 2026 | 21:48

Singgung Jokowi-Gibran, Penyadapan Prabowo Diduga Bermuatan Politik

Jumat, 06 November 2026 | 21:39

Pegasus di Indonesia: Sekadar Mitos atau Ancaman Nyata?

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

MedcoEnergi Umumkan Penerbitan Obligasi Senilai 300 Juta Dolar AS

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

Ketika Listrik Membuka Peluang: Dari Rumah Tangga hingga Ekonomi Desa

Jumat, 06 November 2026 | 21:03

Selengkapnya