Sebuah rumah bisa menjadi lebih dari sekadar tempat tinggal. Di dalamnya, kegiatan rumah tangga dan usaha kecil dapat berjalan beriringan, bahkan menjadi sumber penghasilan keluarga.
Bagi Susi, pemilik usaha kue Brownies Omar di kawasan pinggiran Jakarta Timur, listrik menjadi bagian penting yang memungkinkan aktivitas tersebut berlangsung.
Selama sekitar tujuh tahun menjalankan usaha, Susi pernah memproduksi 70 hingga 100 kue sehari ketika pesanan sedang ramai. Oven listrik, mixer, kulkas, dan freezer menjadi peralatan yang mendukung proses produksi sekaligus menjaga kualitas kue.
Namun, persaingan usaha yang semakin ketat membuat produksinya kini berkisar 30 hingga 50 kue sehari. Di tengah kondisi tersebut, ia harus lebih cermat mengatur pengeluaran, termasuk biaya listrik yang bisa mencapai Rp1,2 juta per bulan.
Untuk menekan biaya, Susi beralih menggunakan oven gas dan mengurangi pemakaian pendingin ruangan. Meski demikian, kebutuhan listrik tetap tidak dapat dipisahkan dari kegiatan usahanya, terutama untuk mengoperasikan mixer, kulkas, dan freezer.
Perubahan penggunaan peralatan itu juga membawa konsekuensi dalam proses produksi. Dengan oven gas, ia harus lebih sering memeriksa kematangan kue. Sementara oven listrik memungkinkan waktu pemanggangan diatur dan perangkat mati secara otomatis ketika proses selesai.
"Listrik mati sebentar aja kita keder," ujar Susi menggambarkan pentingnya pasokan listrik bagi kegiatan usahanya.
Pengalaman Susi memperlihatkan bahwa ketersediaan listrik yang andal bukan hanya menyangkut penerangan. Bagi pelaku usaha kecil, energi menjadi bagian dari proses produksi, efisiensi, hingga kemampuan menjaga kualitas produk.
Namun, manfaat listrik tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang telah menjalankan usaha. Bagi keluarga yang sebelumnya belum memiliki sambungan sendiri, kehadiran listrik bahkan dapat mengubah kebiasaan sehari-hari dan membuka akses terhadap berbagai kesempatan baru.
Hal inilah yang dirasakan Ono Taryono, warga Dusun Prau Bosok, Desa Muara Baru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Sebelum memperoleh bantuan sambungan listrik gratis, ia harus menumpang aliran listrik dari rumah tetangga. Penggunaannya pun terbatas. Listrik hanya bisa dimanfaatkan mulai pukul 18.00.
"Sebelum ada listrik sendiri, anak-anak kesulitan belajar karena kondisi gelap dan mereka juga takut. Sekarang, dengan adanya listrik di rumah, mereka bisa belajar dengan lebih nyaman," kata Ono.
Kehadiran sambungan listrik mandiri kini memberi keleluasaan bagi keluarganya untuk menjalankan aktivitas rumah tangga. Pemerintah baru saja membangun sambungan listrik BPBL di desanya.
Menteri ESDM sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia yang meresmikan sambungan listrik BPBL di Dusun Prau Bosok, Desa Muara Baru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada Kamis, 15 Oktober 2026 menegaskan bahwa akses listrik merupakan hak seluruh rakyat Indonesia sesuai pengejawantahan sila kelima Pancasila.
"Jadi itu yang pemerintah lakukan, agar semua desa dan dusun wajib untuk mereka mendapatkan hak yang sama, yaitu manfaat pelayanan daripada listrik. Dan listrik ini keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," tegas Bahlil.
Pengalaman Ono menjadi gambaran bahwa pemerataan energi memiliki arti lebih luas daripada sekadar menghadirkan penerangan. Akses listrik juga berkaitan dengan kesempatan memperoleh pendidikan, memanfaatkan teknologi, serta meningkatkan kualitas kehidupan keluarga.
Perluasan akses tersebut dijalankan melalui dua program yang saling melengkapi, yakni Program Listrik Desa (Lisdes) dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL).
Lisdes diarahkan untuk membangun dan memperluas jaringan listrik hingga wilayah yang belum terjangkau. Sementara BPBL membantu rumah tangga kurang mampu memperoleh sambungan listrik sendiri, termasuk instalasi rumah, Sertifikat Laik Operasi (SLO), daya 900 VA, serta token perdana senilai Rp100.000.
Kedua program ini menunjukkan bahwa pemerataan energi tidak cukup hanya dengan membangun jaringan. Masyarakat juga perlu memperoleh akses langsung agar manfaat listrik dapat dirasakan di rumah masing-masing.
Di balik sambungan listrik yang kini dinikmati warga, terdapat pembangunan infrastruktur yang membutuhkan perencanaan dan pekerjaan di lapangan.
Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN, Edwin Nugraha Putra, mengatakan PLN terus membangun jaringan dan gardu distribusi untuk menjangkau wilayah yang sebelumnya belum terlayani.
"PLN siap menjalankan amanah pemerintah untuk menghadirkan listrik hingga ke dusun-dusun yang belum terjangkau. Kami terus membangun jaringan dan gardu distribusi agar masyarakat dapat menikmati layanan listrik yang layak," ujarnya.
Sepanjang 2025, PLN membangun infrastruktur kelistrikan di berbagai titik di Jawa Barat. Pembangunan tersebut meliputi Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 46,82 kilometer, Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 182,78 kilometer, serta gardu distribusi dengan total kapasitas 3.700 kVA.
Khusus di Dusun Prau Bosok, infrastruktur yang dibangun mencakup JTM sepanjang 0,549 kilometer, JTR sepanjang 0,91 kilometer, dan gardu berkapasitas 50 kVA untuk mendukung penyambungan listrik bagi calon pelanggan rumah tangga.
General Manager PLN UID Jawa Barat, Muhammad Joharifin, menjelaskan bahwa pembangunan jaringan dilakukan berdasarkan pemetaan kebutuhan masyarakat agar infrastruktur yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
"Melalui program Lisdes, kami terus memperluas jaringan listrik hingga ke pelosok dusun. Infrastruktur yang telah dibangun juga kami optimalkan untuk mendukung penyambungan listrik melalui program BPBL, sehingga masyarakat yang sebelumnya belum memiliki sambungan listrik sendiri dapat menikmati layanan listrik secara langsung, aman, dan andal," tuturnya.
Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat, Tukus Arifan, juga pernah menggambarkan perubahan yang terjadi setelah sebuah keluarga memperoleh sambungan listrik mandiri. Pengeluaran listrik mereka meningkat dari sekitar Rp20.000 menjadi Rp100.000 per bulan. Namun, peningkatan tersebut diikuti keleluasaan dalam menggunakan peralatan rumah tangga, menjaga nasi tetap hangat dengan penanak nasi, hingga memanfaatkan internet untuk komunikasi.
"Setelah dicek, rupanya saat muncul kemandirian energi, kualitas hidup mereka berubah," ujar Tukus dalam sebuah acara peresmian PLTS Atap di Bekasi.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa akses listrik turut membuka ruang bagi masyarakat untuk memanfaatkan teknologi dan menjalankan aktivitas secara lebih produktif. Di wilayah pedesaan, pasokan energi yang stabil juga berpotensi mendukung pengembangan usaha kecil, mulai dari pengolahan hasil pertanian hingga pemanfaatan mesin pendingin dan layanan digital.
Bagi Ono, listrik memberi kesempatan kepada anak-anaknya untuk belajar dengan lebih nyaman. Bagi Susi, pasokan energi menjadi bagian penting agar kegiatan produksi kue tetap berjalan. Keduanya menunjukkan bahwa listrik memiliki peran berbeda dalam kehidupan masyarakat, tetapi sama-sama menjadi penopang untuk berkembang.