Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bursa

IHSG Ambruk Terseret Badai Wall Street

JUMAT, 06 NOVEMBER 2026 | 09:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tekanan jual langsung membayangi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, 6 November 2026.

Pelemahan saham teknologi di Wall Street yang merembet ke pasar Asia turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), bahkan membuat indeks bergerak semakin dalam di zona merah.

Pantauan RMOL, IHSG dibuka melemah ke level 4.955,83, turun 1,48 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di 5.030,26. Berdasarkan data perdagangan terbaru sekitar pukul 09.28 WIB, penurunan indeks semakin dalam hingga mencapai 1,89 persen atau berada di level 4.955,83.


Sepanjang perdagangan pagi, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 4.969 dan terendah 4.927,45. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp1,742 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 5,308 miliar saham. Frekuensi transaksi mencapai 253.500 kali.

Tekanan jual terlihat mendominasi perdagangan. Sebanyak 525 saham bergerak melemah, jauh melampaui 124 saham yang menguat. Sementara itu, 314 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.

Sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar juga bergerak di zona merah. Saham Bank Central Asia (BBCA) turun 1,46 persen ke Rp5.050, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) melemah 0,37 persen ke Rp2.700, sedangkan Bank Mandiri (BMRI) terkoreksi 0,83 persen ke Rp3.580. Saham Bayan Resources (BYAN) bahkan turun 2,04 persen ke Rp8.400.

Dari dalam negeri, investor mencermati pengumuman cadangan devisa Indonesia periode Oktober 2026. Pada bulan sebelumnya, cadangan devisa tercatat sebesar 146,3 miliar Dolar AS. Pasar juga menantikan data indeks harga properti kuartal III-2026 yang sebelumnya tumbuh 1,32 persen secara tahunan.

Sementara dari Amerika Serikat (AS), perhatian tertuju pada data tenaga kerja nonpertanian atau nonfarm payrolls Oktober. Jumlah penambahan tenaga kerja sebelumnya menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar, dengan perkiraan tingkat pengangguran tetap di 4,2 persen. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi arah suku bunga Federal Reserve (The Fed), pergerakan dolar AS, serta aliran modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya