Lokarya pelatihan AI. (Foto: Istimewa)
Akselerasi pemanfaatan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) di era digital saat ini menuntut kesiapan talenta muda yang mumpuni.
Penyedia solusi teknologi informasi di Tanah Air membidik lebih dari 28.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia agar mampu menguasai teknologi AI secara fasih hingga tahun 2027 mendatang.
Pengembangan talenta digital ini direalisasikan melalui metode pelatihan AI komprehensif berbahasa Indonesia, lokakarya (workshop) luring dan daring, hingga pengenalan teknologi AI untuk menunjang pengembangan perangkat lunak secara mandiri.
Menariknya, sasaran pelatihan ini tidak hanya menyasar pada kelompok mahasiswa di bidang Teknologi Informasi (TI) semata. Mahasiswa dari disiplin ilmu yang berbeda, seperti bidang hukum dan kesehatan, juga turut digembleng.
CEO Hacktiv8, Juventia Vicky Riana, menegaskan bahwa penguatan keterampilan AI kini menjadi sangat krusial seiring dengan melonjaknya tren adopsi teknologi tersebut oleh berbagai perusahaan di Indonesia.
"Bisnis di Indonesia mengadopsi AI secara pesat. Sehingga, sangat penting memiliki tenaga kerja terampil yang memiliki pola pikir berkembang (growth mindset)," kata Juventia dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.
Untuk mengeksekusi visi tersebut, peserta dihadapkan pada ajang Hackathon. Ajang ini menjadi wadah praktik langsung bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan teori teknologi ke dalam bentuk solusi pengembangan inovasi yang nyata.
Kurikulum materi yang disampaikan mencakup agentic AI, yakni teknologi yang dirancang untuk menjalankan serangkaian tugas secara spesifik dan cerdas.
Dari lebih dari 200 peserta, sebanyak 25 orang terpilih untuk mengikuti semifinal hackathon yang didukung Garuda Spark.
Sebagai gambaran inovasi, sejumlah peserta hackathon saat ini tengah memaparkan proyek pengembangan perangkat lunak, di antaranya sistem pemantauan regulasi Ketenagakerjaan.
Ada pula inovasi yang menyasar layanan kesehatan berkesinambungan tanpa henti bagi pasien rawat jalan di rumah, hingga pengembangan sistem deteksi dini bagi warga di daerah rawan bencana seperti Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Hingga saat ini, program pelatihan AI gratis dan terstruktur ini tercatat telah diikuti oleh lebih dari 14.200 mahasiswa.
Peran Inkubator Pemerintah
Di sisi lain, Head of Partnerships Garuda Spark Innovation Hub (GSIH) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) RI, Mizan Lazuardi menyambut positif pergerakan inovasi dari kalangan mahasiswa ini.
GSIH yang diproyeksikan sebagai pusat inkubasi (hub) inovasi nasional ini, berkomitmen untuk mendampingi para perintis perusahaan rintisan (startup) hingga mampu berdiri sendiri dan laku di pasaran.
"Ketika teman-teman graduate (lulus) dari program inkubasi, kami punya Startup Studio Indonesia sebagai akselerator. Kami juga punya program Hub.id, dan itu program nasional," jelas Mizan.
Mizan menegaskan, ekosistem yang dibangun oleh pemerintah tidak hanya berupa pelatihan dan infrastruktur fisik workspace semata, tetapi juga didukung dengan bimbingan ratusan mentor spesialis dari berbagai latar belakang industri.
"Kalau butuh mentor teknis IT, hukum (legal), perpajakan, kesehatan, hingga manufaktur, kami punya orangnya," ujar Mizan.
Sementara itu, Head of Government and Regulatory Affairs IBM Indonesia, Angga Airlangga, berharap penuh agar inisiatif pelatihan lintas disiplin ilmu ini mampu mereduksi ketimpangan akses teknologi.
Selain ilmu teknis, setiap peserta nantinya akan mengantongi kredensial resmi. Sertifikasi ini diharapkan dapat melengkapi kekuatan ijazah formal mereka sebagai bekal tambahan untuk bersaing di kerasnya dunia kerja.
"Kami berharap dukungan penuh dari berbagai komunitas maupun pelaku industri untuk mengenali dan membuka peluang bagi talenta-talenta yang sedang kami kembangkan ini," pungkas Angga.