Presiden Prabowo Subianto. (Foto: istimewa)
Ketegangan hubungan Indonesia dan Singapura dinilai tidak menguntungkan kedua negara, terutama jika berkembang menjadi konflik yang lebih luas. Pasalnya, hubungan ekonomi kedua negara telah terjalin erat melalui investasi dan aktivitas bisnis yang saling berkaitan.
Professor of Science, Technology, and Society Sociology Programme, School of Social Sciences Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir, mengatakan Singapura merupakan investor terbesar kedua di Indonesia. Banyak proyek investasi dan perusahaan asal Singapura beroperasi di Tanah Air.
Menurut Sulfikar, besarnya kepentingan ekonomi tersebut membuat Singapura cenderung menghindari konflik yang lebih besar dengan Indonesia karena tidak melihat manfaat dari ketegangan berkepanjangan.
“Tentu Singapura akan selalu mencari cara untuk menghindari konflik yang lebih besar dengan Indonesia. Karena dia tidak melihat manfaatnya,” ujar Sulfikar, lewat kanal Youtube Hendri Satrio, Rabu, 28 Oktober 2026.
Ia menilai dampak kebijakan Indonesia, termasuk pengurangan pasokan gas ke Singapura, tidak terlalu signifikan bagi negara tersebut. Menurutnya, besaran pengurangan pasokan itu belum cukup untuk menimbulkan tekanan besar terhadap Singapura.
“Jadi sebenarnya pemerintah Indonesia tidak mau bikin gara-gara juga sudah ke Singapura, karena pemangkasan gasnya itu cuma sedikit,” jelasnya.
Sulfikar menambahkan, apabila Indonesia memang ingin memberikan tekanan yang lebih besar, pengurangan pasokan bisa saja dilakukan dalam skala lebih tinggi. Namun, langkah semacam itu juga berpotensi menimbulkan persoalan hukum apabila bertentangan dengan kontrak yang telah disepakati.
“Kalau dia mau bikin masalah dengan Singapura, potong 20 persen misalnya. Tapi kalau misalnya itu terjadi di Indonesia, akan dituntut karena sudah ada kontrak,” katanya.
Lebih lanjut, Sulfikar mengingatkan bahwa apabila ketegangan kedua negara terus berlanjut, dampaknya akan dirasakan oleh Indonesia maupun Singapura. Namun, ia menilai Indonesia berpotensi menghadapi konsekuensi ekonomi dan politik yang lebih berat.
Menurutnya, aktivitas ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada hubungan dengan Singapura. Jika ketegangan menghambat kegiatan ekonomi dan memperburuk kondisi masyarakat, pemerintah Indonesia berisiko menghadapi tekanan publik.
“Kalau ketegangan Indonesia-Singapura berlanjut, yang rugi dua negara. Kalau di Indonesia yang paling rugi sudah pasti Prabowo,” ungkapnya.
Sulfikar menilai Singapura memiliki kesiapan lebih besar untuk menghadapi guncangan ekonomi karena memiliki cadangan dan kapasitas fiskal yang kuat. Sebaliknya, apabila kondisi ekonomi Indonesia semakin melambat dan kehidupan masyarakat kian sulit, pemerintah, terutama Presiden Prabowo Subianto, berpotensi menjadi pihak yang paling disorot.
“Kalau Indonesia ekonominya tambah molor, tambah susah kehidupan sehari-harinya, yang disalahin sudah pasti presiden,” tandasnya.