Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Indonesia vs Singapura: Gas Dipotong, WiFi Diancam, Otot Militer Mulai Pamer

RABU, 28 OKTOBER 2026 | 10:51 WIB

HUBUNGAN Indonesia dan Singapura sekarang macam suami istri rebutan remote AC. Padahal, rumahnya cuma dipisahkan selat. Biasanya senyum di ASEAN, sekarang urusannya gas, kabel internet, sampai tank. Tinggal tunggu siapa duluan mengirim karangan bunga bertuliskan, “Semoga hubungan kita tetap dingin meski gas mulai panas.”

Drama bermula ketika Indonesia memangkas pasokan gas ke Singapura sebesar 31 mmscfd atau sekitar 8 persen. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bilang tidak melanggar kontrak karena pasokan masih di atas ambang minimum 91-92 persen.

Logikanya begini, wak. Gas itu milik Indonesia, jadi kalau dapur sendiri masih banyak ngos-ngosan, masa kompor tetangga harus terus dimanjakan? Rakyat sendiri mau masak nasi goreng, bukan disuruh menghirup aroma kemakmuran Singapura.


Singapura mengaku dampaknya kurang dari 2 persen. Mereka punya terminal LNG kedua dan mulai melirik reaktor nuklir modular kecil alias SMR yang konon akan diinspeksi IAEA.

Baru kehilangan gas sedikit, sudah melirik nuklir! Ini bukan negara. Ini manusia kehilangan korek api, langsung menelepon NASA minta dikirim matahari cadangan.

Singapura memang mungil, tetapi kalau panik, imajinasinya bisa seluas galaksi. Indonesia punya gunung, hutan, laut, dan sumber daya alam. Singapura punya gedung tinggi, modal besar, serta kemampuan mengubah sebidang tanah menjadi mesin pencetak uang. Satu kaya sumber daya, satu kaya strategi. Kalau kawin, anaknya mungkin bernama Republik Kalkulator.

Belum selesai urusan gas, muncul pula isu kabel internet bawah laut. Ada bicara kemungkinan memutus kabel, suasananya mendadak seperti dua budak warkop saling mengancam mematikan WiFi.

“Putuskan kabelmu!”

“Silakan, rekening bankmu ikut puasa!”

Padahal internet lintas negara menopang transaksi keuangan, perdagangan saham, komunikasi, dan bisnis. Memutus kabel bukan seperti mencabut charger HP mantan. Banyak jaringan, banyak kepentingan, banyak pihak bisa ikut pingsan. 

Yang paling menderita mungkin bukan pemerintah, melainkan budak yang sedang mengirim pesan cinta, tiba-tiba statusnya cuma centang satu. Hubungan internasional berubah menjadi hubungan tanpa kepastian.

Kemudian media mengeluarkan meteran otot militer. Menurut Global Firepower 2026, Indonesia berada di peringkat 13 dunia, Power Index 0,2582, sedangkan Singapura di peringkat 29, skor 0,5272.

Indonesia memiliki sekitar 404.500 personel aktif dan 401.000 cadangan. Singapura punya 51.000 aktif dan 252.500 cadangan. Anggaran pertahanan Singapura mencapai 18-19,5 miliar dolar AS, hampir dua kali Indonesia yang sekitar 11-11,6 miliar dolar AS.

Pesawat Indonesia sekitar 460 unit, Singapura 235 unit. Kapal perang Indonesia 300-338 unit, termasuk kapal patroli, sementara Singapura sekitar 40-100 unit. Kapal selam sama-sama 4 unit. Tank Indonesia 120-330 unit, Singapura 170 unit. Namun, jet tempur Singapura sekitar 100 unit, Indonesia 400-70 unit.

Indonesia ibarat gajah punya halaman seluas benua. Singapura ibarat udang beracun memakai kacamata teknologi, kecil-kecil tetapi jangan diinjak. Indonesia unggul kuantitas dan kedalaman strategis; Singapura mengandalkan kualitas, teknologi, dan doktrin pertahanan. Kalau terdesak, sang Paman siap bantu, Amerika Serikat.

Tapi ingat, angka persenjataan bukan jaminan kemenangan. Perang bukan lomba tujuh belasan mengumpulkan tank.

Ada pula narasi Singapura sebagai debitur terbesar Indonesia. Namun, klaim ini mesti diperjelas berdasarkan jenis utang dan sumber data. Utang luar negeri Singapura tidak otomatis berarti pemerintahnya berutang langsung kepada Indonesia.

Kesimpulannya, satu punya sumber daya, satu punya modal dan teknologi. Gas saling terkait, internet saling terhubung, ekonomi saling membutuhkan. Jangan sampai gara-gara rebutan gas, dua negara malah sibuk menghitung peluru, padahal duitnya masih harus dihitung bersama!

“Bang, nampaknya kita mesti ngopi lagi Alchemist Plaza Singapura ni.”

“Boleh juga, wak. Mau tahu reaksi warga Singapura soal ini.” Ups

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Usai DPR, Guru Besar IPB Desak BPK Evaluasi WTP Kemenhut

Rabu, 28 Oktober 2026 | 08:24

HLN ke-81: PLN Perkuat Listrik sebagai Penggerak Kehidupan dan Kemandirian Bangsa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:47

IKA FH Undip Gelar Konsolidasi, Ini yang Dibahas

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:55

Tolak Usul Luhut, PKS Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:25

Telkom Perkuat Transparansi Ekosistem Pengadaan Digital Nasional Lewat SPSE V5

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:57

Konser Andrea Bocelli Turut Serukan Solidaritas Palestina Tuai Apresiasi

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:28

Menanti Negarawan di Tengah Oase Pragmatisme

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:55

InfraNexia Perkuat Kesiapan Infrastruktur Dukung Pertumbuhan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:25

Revitalisasi Intisab Siapkan Kepemimpinan Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:59

Kemerdekaan yang Belum Selesai: Dari Cita-Cita 1945 ke Amarah Gen Z

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:30

Selengkapnya