Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji (kanan) bersama Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Supriadi. (RMOL/Sarah Alifia Suryadi)
Pemerintah mengantisipasi kebutuhan gula rafinasi sebagai bahan baku industri makanan dan minuman menjelang rangkaian libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), puasa, hingga Hari Raya Idulfitri 2027.
Percepatan pasokan pada awal tahun depan menjadi perhatian agar industri tidak terganggu akibat kekurangan bahan baku.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, kebutuhan bahan baku industri, terutama gula, biasanya meningkat menjelang momentum hari besar. Karena itu, pemerintah perlu memastikan ketersediaan gula rafinasi sejak awal tahun.
“Ke depannya banyak hari libur, yaitu Nataru, lalu bersambung dengan puasa dan Hari Raya. Dan itu membutuhkan antisipasi karena biasanya kebutuhan terhadap bahan baku industri dan terutama gula biasanya meningkat dengan momentum-momentum itu,” kata Sarmuji di Kementerian Perindustrian, Selasa, 27 Oktober 2026.
Sarmuji mengungkapkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) untuk mengatasi keluhan salah satu pabrik yang kekurangan gula rafinasi hingga 15.000 ton. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu produksi apabila tidak segera ditangani.
“Sekarang yang mengeluh tadi itu sudah tersedia, 90 persen dari kebutuhannya sudah tersedia dan insya Allah tidak akan ada pabrik yang berhenti produksi karena kekurangan gula rafinasi,” ujarnya.
Ia memastikan pasokan gula rafinasi masih aman hingga Desember 2026. Namun, pemerintah tengah mengupayakan percepatan penyelesaian neraca komoditas agar pemesanan gula rafinasi untuk kebutuhan industri pada awal 2027 dapat dilakukan lebih cepat.
“Insya Allah sampai Desember ke depan aman. Tapi pertanyaannya awal tahun apakah datang lebih cepat, itu yang lagi kita usahakan supaya neraca komoditasnya bisa segera kita selesaikan,” tegas Sarmuji.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Supriadi menyebut kebutuhan gula rafinasi pada 2026 mencapai sekitar 3 juta ton. Jumlah tersebut diperkirakan mencukupi hingga akhir Desember, tetapi ketersediaan pada Januari menjadi perhatian.
Karena itu, AGRI meminta percepatan penerbitan rencana kebutuhan industri dan persetujuan impor untuk 2027 agar pasokan kembali tersedia pada Januari.
“Ini diperlukan untuk tahun 2027 percepatan untuk penerbitan rencana kebutuhan industri dan persetujuan impornya. Agar di bulan Januari bisa tersedia kembali gula rafinasi,” kata Supriadi.
Sementaea itu, besaran kebutuhan gula rafinasi untuk 2027 masih menunggu masukan dari Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) terkait kebutuhan industri makanan, minuman, dan farmasi.