Besarnya investasi kecerdasan buatan (AI) mendorong Microsoft mencari cara untuk menekan biaya tanpa mengorbankan peluang pertumbuhan bisnis.
Salah satu langkah yang ditempuh perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS) itu adalah menawarkan program pengunduran diri sukarela kepada sekitar 60.000 karyawan.
Dikutip dari CNBC International, Selasa 28 Oktober 2026, program tersebut ditujukan kepada karyawan tertentu di AS, Kanada, India, dan Inggris. Jumlah karyawan yang memenuhi syarat mencapai sekitar 27 persen dari total 223.000 pekerja Microsoft.
Karyawan yang memenuhi syarat harus memutuskan apakah akan menerima tawaran itu pada awal Desember 2026. Mereka yang memilih mengikuti program tersebut dijadwalkan meninggalkan perusahaan pada 31 Desember 2026.
Wakil Presiden Eksekutif sekaligus Kepala Sumber Daya Manusia Microsoft, Amy Coleman, mengatakan program ini memberi karyawan lebih banyak keleluasaan dalam menentukan langkah karier berikutnya.
“Penawaran Pengunduran Diri Sukarela mencerminkan bagian penting dari bagaimana kami mengembangkan pendekatan kami terhadap perubahan: menciptakan fleksibilitas yang lebih besar dan, jika memungkinkan, lebih banyak cara bagi karyawan untuk membentuk babak selanjutnya dalam hidup mereka,” tulis Coleman dalam memo kepada karyawan.
Ia menambahkan, program terbaru tersebut dikembangkan berdasarkan pengalaman Microsoft menjalankan program pensiun sukarela pada awal tahun ini.
Langkah ini muncul ketika Microsoft terus meningkatkan investasi untuk membangun pusat data dan memenuhi lonjakan kebutuhan komputasi AI. Infrastruktur tersebut juga digunakan untuk mendukung layanan komputasi awan bagi perusahaan seperti Anthropic dan OpenAI.
Pada Juli lalu, Microsoft memperkirakan belanja modalnya untuk kuartal yang berakhir pada September akan melampaui US$50 miliar. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan belanja modal dan sewa pembiayaan sebesar US$34,9 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Besarnya kebutuhan investasi itu membuat Microsoft berupaya menjaga efisiensi keuangan. Pada April 2026, perusahaan lebih dahulu menawarkan program pensiun sukarela yang mencakup sekitar 7 persen karyawan di Amerika Serikat. Kemudian, pada Juli, Microsoft mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja terhadap 4.800 karyawan.
Berbeda dari program sebelumnya yang menyasar karyawan hingga tingkat direktur senior, program terbaru ini juga mencakup jabatan yang lebih tinggi, termasuk wakil presiden. Meski demikian, sumber CNBC menyebut Microsoft tidak menetapkan target jumlah karyawan yang harus menerima tawaran tersebut.
Microsoft juga tengah mengubah model bisnisnya dengan semakin mengaitkan biaya layanan dengan tingkat penggunaan AI oleh pelanggan. Perusahaan telah membekali karyawan di bidang pemrograman, penjualan, dan rantai pasokan dengan perangkat berbasis AI untuk meningkatkan produktivitas.
Di tengah perubahan tersebut, Microsoft berupaya memastikan memiliki tenaga kerja dengan keahlian yang sesuai untuk mengejar peluang pertumbuhan baru, sekaligus menjaga kondisi keuangannya.
Pada kuartal kedua, Microsoft masih mencatat arus kas bebas positif sebesar US$19,64 miliar, meskipun turun 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini berbeda dari Alphabet dan Amazon, dua pesaing utamanya di bisnis komputasi awan, yang sama-sama melaporkan arus kas bebas negatif pada periode tersebut.
Microsoft dijadwalkan mengumumkan hasil keuangan kuartal ketiganya pada Rabu, waktu AS. Kinerja tersebut akan menjadi salah satu indikator untuk melihat bagaimana perusahaan menyeimbangkan investasi AI yang besar dengan upaya menjaga efisiensi dan profitabilitas.