Berita

CIO Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Pemerintahan

Diserbu Investor Asing

Obligasi Global Perdana Danantara Laris

SENIN, 26 OKTOBER 2026 | 16:13 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Penerbitan obligasi global perdana Danantara Investment Management senilai 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp26,7 triliun pada Juni 2026 mendapat respons positif dari investor internasional.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir mengatakan, total permintaan yang masuk mencapai 4,6 miliar dolar AS atau setara Rp81,88 triliun, hampir tiga kali lipat dari nilai obligasi yang ditawarkan.

Menurut Pandu, tingginya minat investor tersebut mencerminkan respons positif pasar internasional terhadap penerbitan obligasi Danantara. Penetapan harga yang kompetitif menjadi salah satu faktor yang menarik minat investor.


"(Ini) sangat menarik di pertengahan tahun, tetapi yang dapat saya sampaikan tentang obligasi ini adalah harganya sangat sesuai dengan peringkat utang Indonesia," kata Pandu dalam acara Technology Innovation Investment Forum (TIIF) 2026, di Fairmont Hotel, Jakarta pada Senin, 26 Oktober 2026.

Berdasarkan paparan Danantara, obligasi global tersebut diterbitkan dalam dua seri, masing-masing senilai 750 juta Dolar AS.

Seri pertama memiliki tenor lima tahun dengan kupon 5,35 persen dan jatuh tempo pada 2031. Sementara seri kedua memiliki tenor 10 tahun dengan kupon 5,95 persen dan jatuh tempo pada 2036.

Pandu menjelaskan, imbal hasil obligasi Danantara memiliki selisih atau spread sebesar 34 basis poin di atas surat utang pemerintah Indonesia untuk tenor lima tahun dan 32 basis poin untuk tenor 10 tahun.

Menurutnya, spread yang relatif tipis tersebut menunjukkan bahwa obligasi Danantara ditawarkan dengan harga yang kompetitif dibandingkan surat utang pemerintah.

"Selisihnya sekitar 30 basis poin di atas imbal hasil surat utang pemerintah. Untuk tenor obligasi 5 tahun dan 10 tahun, harganya sangat bagus, sangat sesuai dengan suku bunga pemerintah," kata Pandu.

Dari sisi sebaran investor, sekitar 75 persen permintaan obligasi berasal dari Eropa dan Timur Tengah, sedangkan investor Asia menyumbang sekitar 25 persen.

Pandu juga menyebut investor Amerika Serikat berkontribusi sebesar 50 persen dari total permintaan yang masuk.

"Ada yang mengatakan bahwa orang-orang internasional tidak menganggapnya menarik. Padahal, nilai obligasi yang (masuk) hampir empat kali lipat lebih besar dari nilai sebenarnya," kata Pandu.

Sebelum menerbitkan obligasi tersebut, Danantara menggelar rangkaian roadshow di sejumlah kota di Asia dan Amerika Serikat untuk menjaring minat investor global.

Penerbitan obligasi dilakukan di tengah dinamika pasar keuangan global, mulai dari pergerakan imbal hasil US Treasury, inflasi, konflik di Timur Tengah, hingga kondisi pasar negara berkembang.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

DPR Minta Pemerintah Perkuat Insfrastruktur Kesehatan

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:28

Obligasi Global Perdana Danantara Laris

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:13

Legislator PDIP Ini Janji Perjuangkan Alsintan

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:57

Pengurangan Angka Pelanggaran Jadi Indikator Keberhasilan Operasi Patuh Jaya 2026

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:44

KNMP Potensi Menjawab Kebutuhan Nelayan Kecil

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30

Sinopsis dan Kisah Kelam Clayface, Musuh Ikonik Batman

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:19

Pemakzulan Gibran Harus Lewat Jalur Konstitusi, Bukan cuma Tekanan Politik

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:15

Jelang Pemilu, Oposisi Israel Klaim Netanyahu Tak Layak Pimpin Negara

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:58

Pemerintah Siapkan Skema Baru Pengadaan Energi, Negara Bakal Deal Langsung dengan Pemasok

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:57

KPU Perlu Fokus Benahi Pemilu 2029

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:53

Selengkapnya