Berita

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah. (Foto: RMOL)

Politik

Waspadai Operasi Intelijen Singapura Menggoyang Prabowo Buntut Bisnis Terganggu

SENIN, 26 OKTOBER 2026 | 13:57 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Isu dugaan pertemuan sejumlah tokoh yang kritis terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dengan Duta Besar Singapura untuk Indonesia memunculkan perdebatan mengenai hubungan politik domestik, kepentingan ekonomi, dan dinamika geopolitik Asia Tenggara.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai, persoalan tersebut perlu dibaca secara lebih luas, terutama dengan memperhatikan kebijakan pemerintah Indonesia terhadap perusahaan besar, pengelolaan sumber daya alam, serta pergerakan kepemilikan saham perusahaan strategis.

Menurut Amir, persaingan kepentingan ekonomi antarnegara dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam analisis intelijen.


Amir berpandangan, Prabowo sangat tegas terhadap perusahaan sawit milik pengusaha Singapura. 

"Ketika bisnisnya terganggu, tidak menutup kemungkinan Singapura melakukan operasi intelijen untuk menggoyang Prabowo," kata Amir, dikutip Senin 26 Oktober 2026.

Amir melihat kebijakan ekonomi yang menyentuh kepentingan perusahaan besar dan jaringan perdagangan internasional berpotensi menimbulkan respons dari berbagai kelompok yang terdampak. 

Dalam situasi seperti itu, menurut dia, pemerintah perlu mencermati kemungkinan adanya upaya memengaruhi opini publik, membangun jaringan, maupun memperkuat tekanan politik.

Sebelumnya, Partai Gerindra menyatakan sedang mendalami informasi mengenai dugaan pertemuan sejumlah tokoh yang disebut berseberangan dengan pemerintah dengan Duta Besar Singapura untuk Indonesia.

Sekretaris Fraksi Gerindra DPR Bambang Haryadi mengatakan, partainya mencermati informasi yang beredar di media sosial. Gerindra melalui anggotanya yang bertugas di Komisi I DPR berupaya mendalami kebenaran kabar tersebut.

Bambang juga menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian yang sah dalam kehidupan demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar kritik tidak disertai kepentingan tersembunyi yang merugikan Indonesia.

Di sisi lain, mantan Wamenlu Dino Patti Djalal membantah kabar yang mengaitkan dirinya dengan pertemuan tersebut. Ia menyebut unggahan yang beredar sebagai informasi fiktif dan menyatakan dirinya berada di Perth, Australia, untuk menghadiri konferensi perubahan iklim pada waktu yang disebut dalam unggahan itu. 

Karena itu, kebenaran isu tersebut tidak dapat diasumsikan hanya berdasarkan narasi media sosial

Amir menilai, analisis geopolitik tidak bisa dilepaskan dari kepentingan ekonomi. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara memiliki hubungan perdagangan, investasi, keuangan, dan rantai pasok yang saling terhubung. Perubahan kebijakan di satu negara dapat memengaruhi kepentingan pelaku usaha dari negara lain.

Singapura merupakan salah satu pusat perdagangan dan keuangan di Asia Tenggara. Sementara itu, Indonesia memiliki sumber daya alam dan pasar domestik yang besar, termasuk dalam industri perkebunan dan pengolahan minyak kelapa sawit.

Menurut Amir, kondisi tersebut membuat kebijakan pemerintah Indonesia terhadap perusahaan besar layak diperhatikan dari perspektif ekonomi politik internasional.

“Kalau pemerintah mengambil kebijakan yang mengubah penguasaan sumber daya alam atau mengurangi keuntungan kelompok usaha tertentu, tentu akan ada pihak yang kepentingannya terdampak. Hal itu perlu dianalisis secara objektif untuk mengetahui siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan bagaimana respons mereka,” pungkas Amir.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya