Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bursa

Harga Bitcoin Turun di Bawah 80.000 Dolar AS

SENIN, 26 OKTOBER 2026 | 13:01 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga Bitcoin kembali tertekan hingga turun di bawah level psikologis 80.000 Dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah aksi jual investor institusi, arus keluar dana dari ETF Bitcoin, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko geopolitik.

Menurut data CoinMarketCap, Senin 26 Oktober 2026, Bitcoin tercatat turun 0,99 persen dalam 24 jam menjadi 79.997,64 Dolar AS. Penurunan tersebut sejalan dengan kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan yang melemah 1,06 persen, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko.

Tekanan jual juga terlihat dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Produk investasi tersebut mencatat arus keluar bersih sekitar 773,5 juta Dolar AS pada 22-23 Oktober, berbalik dari arus masuk yang terjadi pada pekan sebelumnya. Kekhawatiran mengenai kemungkinan aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran turut mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.


Dari sisi teknikal, Bitcoin telah menembus ke bawah rata-rata pergerakan sederhana 20 hari di kisaran 82.368 Dolar AS dan turun melewati level 80.000 Dolar AS. Pelemahan ini memicu likuidasi posisi beli Bitcoin senilai lebih dari 31 juta Dolar AS dalam 24 jam, meskipun jumlah tersebut turun 82 persen dibandingkan dengan hari sebelumnya.

Perhatian investor kini tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada 28 Oktober dan rilis data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Amerika Serikat untuk September pada 29 Oktober. Kedua agenda tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter AS dan pergerakan aset kripto.

Dalam jangka pendek, kemampuan Bitcoin bertahan di atas 80.000 Dolar AS menjadi perhatian utama. Jika mampu kembali menguat, Bitcoin berpeluang bergerak menuju kisaran 81.500-82.000 Dolar AS. Sebaliknya, jika harga terus bertahan di bawah 80.000 Dolar AS hingga penutupan harian, tekanan jual berpotensi meningkat dengan target penurunan berikutnya di sekitar 77.600 Dolar AS, berdasarkan level acuan yang dipantau Glassnode.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

DPR Minta Pemerintah Perkuat Insfrastruktur Kesehatan

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:28

Obligasi Global Perdana Danantara Laris

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:13

Legislator PDIP Ini Janji Perjuangkan Alsintan

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:57

Pengurangan Angka Pelanggaran Jadi Indikator Keberhasilan Operasi Patuh Jaya 2026

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:44

KNMP Potensi Menjawab Kebutuhan Nelayan Kecil

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30

Sinopsis dan Kisah Kelam Clayface, Musuh Ikonik Batman

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:19

Pemakzulan Gibran Harus Lewat Jalur Konstitusi, Bukan cuma Tekanan Politik

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:15

Jelang Pemilu, Oposisi Israel Klaim Netanyahu Tak Layak Pimpin Negara

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:58

Pemerintah Siapkan Skema Baru Pengadaan Energi, Negara Bakal Deal Langsung dengan Pemasok

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:57

KPU Perlu Fokus Benahi Pemilu 2029

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:53

Selengkapnya