Berita

Gedung BEI (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bursa

IHSG Dibuka Menguat, Saham Bank Besar Terkoreksi

SENIN, 26 OKTOBER 2026 | 09:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan awal pekan di zona hijau, tetapi penguatannya masih terbatas. Investor menghadapi pekan padat dengan sejumlah agenda ekonomi global yang berpotensi memengaruhi arah pasar saham.

Pantauan RMOL, IHSG dibuka naik 3,04 poin atau 0,06 persen ke level 5.442,30, dibandingkan penutupan sebelumnya di 5.439,26. Pada awal sesi I, indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.449,35 dan terendah 5.438,75. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp244,76 miliar dengan volume 5,23 juta lot.

Di jajaran saham berkapitalisasi pasar terbesar, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 0,50 persen ke Rp5.050. Sebaliknya, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 1,37 persen ke Rp2.870, saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) melemah 0,55 persen ke Rp180.000, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 1,03 persen ke Rp3.860. Sementara itu, saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) stagnan di Rp10.750.


Pergerakan pasar pekan ini akan dipengaruhi perkembangan geopolitik, keputusan bank sentral, serta data ekonomi utama. Dari China, investor mencermati Sidang Pleno Kelima Partai Komunis China pada 26-29 Oktober yang membahas arah kebijakan ekonomi dan industri. Data laba industri China periode Januari-September juga akan dirilis Selasa, 27 Oktober 2026, setelah pertumbuhannya melambat menjadi 15,7 persen pada Januari-Agustus.

Perhatian berikutnya tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve AS pada Rabu, waktu Amerika Serikat.  Pasar memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75-4,00 persen. Investor juga akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai inflasi dan prospek kebijakan moneter. Sikap yang lebih ketat dapat memperkuat dolar AS dan menekan pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pada Kamis malam, investor juga menunggu data pertumbuhan ekonomi AS kuartal III yang diperkirakan mencapai 3,2 persen, naik dari 2,2 persen pada kuartal sebelumnya. Data inflasi PCE September turut menjadi perhatian karena merupakan salah satu acuan utama The Fed.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya