Berita

Ilustrasi

Bursa

Said Didu Soroti Perbedaan Sikap atas Transaksi Saham BYAN

SENIN, 26 OKTOBER 2026 | 08:49 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pengamat kebijakan publik Muhammad Said Didu menyoroti perbedaan respons publik terhadap transaksi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), khususnya pembelian saham oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam dan hibah saham pendiri Bayan, Low Tuck Kwong, kepada anaknya yang berkewarganegaraan asing.

Said Didu menilai, kedua transaksi tersebut perlu dilihat secara proporsional. Ia mempertanyakan mengapa hibah saham yang dilakukan Low Tuck Kwong pada 2024 tidak menuai sorotan serupa, sementara pembelian saham oleh pengusaha Indonesia justru dipersoalkan.

"Ini kan dua kejadian yang berbeda. Coba 2024 itu kan Low Tuck Kwong menghibahkan sahamnya, artinya gratis ke anaknya, tapi kok enggak ada yang persoalkan?” kata Said Didu, Senin, 26 Oktober 2026.


Pada 28 Agustus 2024, Low Tuck Kwong menghibahkan 7.333.333.700 lembar saham BYAN atau setara 22 persen kepada Elaine Low. Nilai saham tersebut diperkirakan mencapai Rp101,8 triliun hingga Rp124 triliun.

Menurut Said Didu, hibah tersebut justru memindahkan kepemilikan aset kepada warga negara asing. Karena itu, ia mempertanyakan perbedaan sikap terhadap transaksi tersebut dan pembelian saham oleh pengusaha dalam negeri.

“Yang pada saat Haji Isam beli kok dipersoalkan? Beli loh. Padahal (hibah) itu memindahkan aset itu dari Indonesia ke luar loh. Karena dari warga negara Indonesia bapaknya, anaknya warga negara asing,” ujarnya.

Said Didu juga menanggapi kritik mengenai harga saham BYAN yang dibeli Haji Isam. Ia mengingatkan bahwa transaksi saham melalui negosiasi tidak bisa serta-merta dibandingkan dengan harga saham di pasar modal.

“Ini kan bukan saham publik, ini saham privat. Terserah dia mau gratis, mau satu rupiah, mau seribu rupiah, itu kan urusannya dia,” kata dia.

Ia menilai, kewajaran harga dalam transaksi tersebut juga perlu dilihat dari alasan penjual melepas saham serta nilai aset yang mendasari perusahaan.

"Kenapa Haji Isam dapat harga saham murah? Ya, tanyalah kenapa dia mau jual murah. Dan pertanyaannya, apakah betul murah?” ujarnya.

Menurutnya, penilaian terhadap perusahaan tambang tidak cukup hanya melihat harga saham, tetapi juga perlu mempertimbangkan besaran cadangan mineral yang dimiliki.

"Apakah betul murah? Belum tentu murah. Karena membeli tambang itu membeli stok yang ada, cadangan. Cadangannya berapa kira-kira? Kalau memang cadangannya segitu, ya segitu lah harganya."

Diketahui, melalui PT Jhonlin Baratama, Haji Isam membeli 10,08 miliar lembar saham BYAN atau setara 30,25 persen pada 16 September 2026. Sebelumnya, Low Tuck Kwong membeli 500 ribu lembar dan 100 lembar saham BYAN pada 13–14 Oktober 2026 dengan harga Rp11.200 per lembar.

Said Didu menduga, pembelian saham oleh Low Tuck Kwong berkaitan dengan upaya mempertahankan posisi sebagai pengendali perusahaan. Menurutnya, perbedaan kepentingan dalam transaksi dapat memengaruhi pertimbangan harga.

“Karena Haji Isam yang paling banyak sahamnya,” ujarnya.

Ia menegaskan, kritiknya berangkat dari persoalan konsistensi dalam menyikapi kepemilikan saham dan nasionalisme ekonomi.

“Yang saya pertanyakan itu kenapa orang menghibahkan sahamnya ke asing, Anda diam? Kenapa ada orang membeli saham di Indonesia, Anda marah? Itu sangat prinsip,” kata Said Didu.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

DPR Minta Pemerintah Perkuat Insfrastruktur Kesehatan

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:28

Obligasi Global Perdana Danantara Laris

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:13

Legislator PDIP Ini Janji Perjuangkan Alsintan

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:57

Pengurangan Angka Pelanggaran Jadi Indikator Keberhasilan Operasi Patuh Jaya 2026

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:44

KNMP Potensi Menjawab Kebutuhan Nelayan Kecil

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30

Sinopsis dan Kisah Kelam Clayface, Musuh Ikonik Batman

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:19

Pemakzulan Gibran Harus Lewat Jalur Konstitusi, Bukan cuma Tekanan Politik

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:15

Jelang Pemilu, Oposisi Israel Klaim Netanyahu Tak Layak Pimpin Negara

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:58

Pemerintah Siapkan Skema Baru Pengadaan Energi, Negara Bakal Deal Langsung dengan Pemasok

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:57

KPU Perlu Fokus Benahi Pemilu 2029

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:53

Selengkapnya