Berita

Representative Image (Foto: AI)

Global

Orang Kaya Ramai-Ramai Simpan Emas di Singapura, Jumlahnya Tembus 800 Ton

MINGGU, 25 OKTOBER 2026 | 12:17 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Ketidakpastian politik dan ekonomi global mendorong keluarga kaya serta investor beraset besar memindahkan penyimpanan emas fisik mereka ke Singapura. 

Negara tersebut kian diminati sebagai tempat mengamankan kekayaan oleh investor dari Amerika Serikat (AS), Eropa, hingga Timur Tengah di tengah meningkatnya risiko geopolitik.

Berdasarkan estimasi pedagang logam mulia J. Rotbart & Co. kepemilikan emas pribadi di Singapura meningkat sekitar 16 kali lipat sejak 2014. 


Kemudian total emas yang disimpan secara privat di negara tersebut melampaui 800 ton pada tahun lalu, sebagian besar berasal dari Eropa. Sementara permintaan penyimpanan diperkirakan terus meningkat sepanjang 2026 hingga 2027.

Lonjakan permintaan turut membuat kapasitas fasilitas penyimpanan emas di Singapura semakin padat. Le Freeport, fasilitas penyimpanan logam mulia yang dijuluki Fort Knox of Asia, memiliki kapasitas sedikitnya 1.700 ton emas. 

Pada Mei lalu, pengelolanya menyatakan sebagian besar brankas bawah tanah telah penuh akibat meningkatnya kebutuhan penyimpanan. 

Sementara itu, The Reserve mencatat kepemilikan emas nasabahnya meningkat tiga kali lipat dibandingkan awal 2020. Hingga September 2026, fasilitas tersebut menyimpan 8,6 ton emas, dengan sekitar 90 persen di antaranya milik klien asing.

Co-founder Farro Capital, Manish Tibrewal, mengatakan perpindahan emas ke Singapura tidak hanya dilakukan keluarga kaya yang telah lama memiliki logam mulia fisik, tetapi juga investor baru yang mulai menjadikan emas sebagai bagian dari strategi pengelolaan kekayaan mereka.

"Keluarga-keluarga kaya tradisional yang menyimpan emas fisik di negara lain kini memindahkan sebagiannya ke Singapura. Keluarga-keluarga yang sebelumnya tidak memiliki emas fisik juga membelinya melalui bank swasta atau pedagang logam mulia dan menyimpannya di Singapura," kata Tibrewal, dikutip dari Bloomberg, Minggu, 25 Oktober 2026.

Peralihan tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran terhadap defisit fiskal AS, ketidakpastian politik, inflasi, serta prospek suku bunga jangka panjang. 

Meski harga emas belakangan mendapat tekanan penurunan, minat terhadap logam mulia sebagai aset lindung nilai tetap kuat. 

Pendiri The Reserve, Gregor Gregersen, menilai Singapura menawarkan stabilitas yang dibutuhkan investor untuk menyimpan kekayaan dalam jangka panjang.

"Orang-orang yang ingin menyimpan emas selama 30 hingga 40 tahun umumnya kaya dan lebih memilih negara yang tidak menghadapi krisis pensiun yang mendesak dan dapat mempertahankan diri. Singapura adalah negara yang tepat seperti itu," ujar Gregersen.

Meningkatnya minat investor asing turut memperkuat posisi Singapura sebagai pusat perdagangan dan penyimpanan emas di Asia. J. Rotbart & Co. mencatat pertanyaan daring dari klien Barat meningkat tiga kali lipat dalam setahun terakhir, terutama dari AS, disusul Kanada, Inggris, dan Australia. 

Bahkan, platform logam mulia Gold menyebut sekitar 40 persen kliennya dari Eropa telah memindahkan sebagian emas yang sebelumnya disimpan di Swiss ke Singapura atau memilih negara tersebut untuk menyimpan pembelian emas baru. 

Pemerintah Singapura pun memperkuat daya tariknya melalui pengembangan infrastruktur perdagangan, layanan penyimpanan bagi bank sentral asing, serta perluasan insentif pajak bagi dana dan kantor keluarga yang memenuhi persyaratan investasi logam mulia fisik.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya