Berita

Kebersamaan Prabowo Subianto dan Joko Widodo. (Foto: Setwapres)

Politik

Prabowo Belum Sepenuhya Lepas dari Bayang-Bayang Jokowi

MINGGU, 25 OKTOBER 2026 | 11:35 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Presiden Prabowo Subianto dinilai belum mampu memutus sepenuhnya pengaruh Joko Widodo meski telah memasuki tahun kedua pemerintahannya.

Menurut Guru Besar Universitas Airlangga, Prof Henri Subiakto, Prabowo masih memberi ruang bagi kepentingan dan kesinambungan kebijakan orang-orang Jokowi. Kondisi itu membuat arah kepemimpinan Prabowo dinilai belum menunjukkan ketegasan dalam menghadapi warisan pemerintahan sebelumnya.

“Prabowo itu mix signal. Kesannya dia berkuasa, tapi tak mampu menghilangkan bayang bayang mantan bos yang dulu mengangkatnya jadi jenderal penuh dan jadi kepala negara," kata Henri lewat akun X miliknya, Minggu, 25 Oktober 2026.


Ia menilai gaya kepemimpinan dan komunikasi Prabowo memang berbeda dari Jokowi. Namun, keduanya dinilai masih menjaga hubungan karena memiliki kepentingan masing-masing.

“Walau sekarang sudah tidak seharmonis di awal-awal Pemerintahan, tapi Prabowo nampak tak berani putus total apalagi berhadap hadapan,” ujarnya.

Henri juga menyoroti sikap Prabowo terhadap polemik ijazah Jokowi dan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menurutnya melemahkan Jokowi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dari sisi moral. Ia menilai Prabowo belum memberikan respons tegas terhadap persoalan tersebut.

“Isu ijazah dan putusan MK yg sangat melemahkan Jokowi Gibran dari sisi moral pun tidak direspon tegas oleh Prabowo. Seolah hanya jadi catatan dan simpanan peluru yang tidak harus terburu digunakan,” katanya.

Di sisi lain, Henri mengkritik cara sebagian masyarakat memandang kepemimpinan Jokowi. Ia mengakui pernah percaya pada penampilan dan pernyataan Jokowi, yang menurutnya mampu membangun citra sebagai sosok sederhana dan dekat dengan rakyat.

“Saya pernah percaya dan tertipu juga dengan ucapan dan penampilan yang penuh polesan Jokowi. Sekarangpun masih banyak yang buta terhadap sosok ini, hanya karena suka dengan hasil kerja pemerintahannya dulu yg terlihat sukses membangun infrastruktur,” tulisnya.

Henri menilai keberhasilan pembangunan infrastruktur yang terlihat secara fisik tidak cukup untuk menilai keseluruhan kinerja pemerintahan. Ia menyoroti konsekuensi utang pembangunan, kondisi politik, serta dampak terhadap etika dan tatanan demokrasi.

“Padahal pembangunan infrastruktur yang ‘nampak sukses’ itu aslinya membawa bom waktu, saat tagihan tagihan hutang harus dibayarkan. Stabilitas politik yg seolah tenang, sejatinya menyimpan jeratan jeratan politik penyanderaan pada hampir semua partai politik,” ungkapnya.

Ia juga memperingatkan dampak jangka panjang dari kerusakan tatanan demokrasi dan ketergantungan pada pihak asing. Menurut Henri, persoalan tersebut belum menjadi perhatian mendalam bagi sebagian besar masyarakat.

Henri menambahkan, harapan agar Prabowo memperbaiki berbagai persoalan warisan pemerintahan sebelumnya berpotensi berujung pada kekecewaan apabila tidak diikuti langkah tegas.

“Mudah mudahan rakyat melihat ini semua bisa bersabar dengan ketidakjelasan dan ketidaktegasan di tengah keadaan sosial ekonomi dan politik negara yang makin memburuk ini,” pungkasnya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya