Berita

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Bea Cukai mengungkap laboratorium gelap pembuatan sabu jaringan narkotika internasional di Kabupaten Pidie, Aceh pada Jumat, 23 Oktober 2026 (Foto: Divhumas Mabes Polri)

Publika

Dua Ruko, 1,2 Ton Sabu, Dapur Kiamat Ternyata Buka di Aceh

MINGGU, 25 OKTOBER 2026 | 03:01 WIB

SAYA tak bisa membayangkan bagaimana 1,2 ton sabu itu lepas dan beredar luas di masyarakat. Generasi emas pasti kena imbasnya, menjadi generasi kecanduan narkoba. Itu yang ketahuan, gimana yang belum? Korupsi dan narkoba masih sulit dipisahkan dari negeri terkenal religius ini. 

Di Gampong Ulee Tutue, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, dua ruko berdiri begitu kalem. Pintunya tertutup, suasananya senyap, tidak ada spanduk promosi, tidak ada kasir tersenyum. 

Kalau dilihat sepintas, paling-paling orang mengira gudang barang bekas atau usaha bangkrut sebelum sempat menghasilkan keuntungan. Ternyata, di balik pintu itu, ada dapur sedang memasak kiamat!


Rabu, 21 Oktober 2026, tim gabungan BNN, Bareskrim Polri, dan Bea Cukai membongkar laboratorium narkotika ilegal disebut sebagai terbesar di Indonesia. Dari sana, aparat menemukan 1,2 ton sabu cair! Sembilan warga Indonesia dan dua warga negara Tiongkok ditangkap. Kapasitas produksinya disebut mencapai 500 kilogram sabu dalam sekali proses.

Lima ratus kilogram sekali masak, wak! Ini bukan dapur katering untuk pesta pernikahan. Ini pabrik kapasitas produksinya bisa membuat satu kampung kehilangan masa depan apabila racunnya berhasil beredar. Kalau industri beras berlomba mengenyangkan perut, industri haram ini seperti sedang mengikuti olimpiade menghancurkan akal sehat.

Yang bikin bulu kuduk berdiri bukan cuma jumlahnya, melainkan tempatnya. Dua ruko itu baru disewa beberapa minggu. Warga sekitar, termasuk pedagang kelontong di sebelahnya, mengaku tidak mendengar suara aneh atau melihat aktivitas mencurigakan. 

Semuanya tampak normal. Rupanya, kiamat modern tidak perlu datang dengan langit merah, petir menyambar, atau kuda terbang. Cukup menyewa ruko, menutup pintu, lalu memproduksi racun dalam skala industri.

Lokasinya berada di pinggir jalan provinsi Beureunuen–Kembang Tanjong. Di tanah Aceh dikenal religius dan keras terhadap narkoba, justru ditemukan laboratorium dengan kapasitas produksi mengerikan. 

Ironinya seperti menampar wajah kita menggunakan karung berisi 1,2 ton sabu. Masyarakat menjalani kehidupan biasa, sementara di balik dinding tampak biasa, sebuah mesin penghancur generasi diduga sedang bekerja.

Jaringan diselidiki diduga melibatkan sindikat China, Malaysia, dan Indonesia. Ada mengkaitkannya dengan kawasan Golden Triangle di Myanmar, Laos, dan Thailand. Ini bukan lagi cerita pengedar kecil bersembunyi di gang sempit. 

Ini dugaan jaringan lintas negara dengan produksi raksasa. Pidie seolah-olah hendak dijadikan dapur rahasia bagi industri bahan bakarnya adalah kehancuran manusia.

Pada 23 Oktober, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto datang langsung ke lokasi. Ruko kini dilingkari garis polisi, personel Brimob berjaga. Namun, garis polisi tidak otomatis mengakhiri cerita. Ia baru menutup satu pintu. Sementara pintu-pintu lain dalam jaringan itu masih harus ditemukan.

Pertanyaan terbesar justru belum terjawab, ke mana sabu cair tersebut akan diedarkan? Siapa pemodalnya? Siapa pemasoknya? Siapa menunggu keuntungan dari racun sebanyak itu? Sebelas orang ditangkap, tetapi jangan sampai yang tertangkap hanya para pekerja, sedangkan para pengendali tetap duduk nyaman menghitung uang. 

Kita patut mengapresiasi pengungkapan ini. Namun, jangan puas hanya dengan konferensi pers dan angka fantastis. Sebab, jika dua ruko biasa mampu menyimpan dapur kiamat, berapa banyak ruko lain sekarang terlihat tidur, padahal mungkin sedang memasak masa depan bangsa menjadi racun?

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya