Berita

Kemenag memperingati Hari Santri 2026 (Foto: Kemenag)

Nusantara

Rawat Budaya Nusantara, Kemenag Dorong Gerakan Bersarung Sepekan Sekali

SABTU, 24 OKTOBER 2026 | 17:06 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sarung dan peci tak sekadar menjadi busana khas santri, tetapi juga merepresentasikan identitas dan kekayaan budaya Nusantara. 

Untuk memperkuat kebanggaan terhadap tradisi tersebut, Kementerian Agama (Kemenag) mendorong penggunaan sarung dan peci sebagai bagian dari kebiasaan berpakaian di lingkungan kerja.

Gagasan itu mendapat dukungan Menteri Agama Nasaruddin Umar saat membuka Festival Sarung dan Peci Santri 2026 di halaman Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Jumat  malam 23 Oktober 2026. Kegiatan yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pesantren tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2026.


"Festival sarung dan peci ini sebetulnya harus menjadi sebuah kegiatan rutin di Kementerian Agama. Saya setuju kalau seandainya teman-teman sepakat, sekali seminggu kita pakai sarung dan peci," ujar Nasaruddin.

Meski mendukung, Menag menegaskan penggunaan sarung dan peci tidak perlu diwajibkan. Penerapannya dapat berupa anjuran dengan tetap mempertimbangkan kenyamanan dan kebutuhan pegawai.

Menurut Nasaruddin, sarung dan peci bukan sekadar pakaian tradisional, melainkan bagian dari identitas bangsa yang memiliki sejarah, filosofi, dan nilai sosial. Kemajuan, katanya, tidak harus membuat masyarakat meninggalkan tradisi.

Sejalan dengan gagasan tersebut, Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama Basnang Said mengusulkan gerakan "Selasa Bersarung" di lingkungan unit kerjanya.

"Direktorat Jenderal Pesantren merencanakan, jika disetujui oleh Pak Menteri Agama, kami akan mencoba menetapkan satu hari kerja khusus di lingkungan Ditjen Pesantren untuk menggunakan sarung," kata Basnang.

Hari Selasa dipilih karena dinilai cocok dipadukan dengan pakaian kerja berwarna putih yang biasa dikenakan pegawai.

"Semoga bisa kita anggap Selasa Bersarung. Kenapa? Karena kalau Selasa masih menggunakan baju putih, apa pun bentuk sarungnya tetap nyambung dengan bajunya," tuturnya.

Basnang menjelaskan, gagasan ini bukan sekadar mengubah kebiasaan berpakaian, melainkan juga menghidupkan kembali nilai-nilai pesantren. Sarung dan peci telah menjadi bagian dari keseharian santri, mulai dari beribadah, mempelajari kitab kuning, mengikuti pengajian, hingga menjalani aktivitas pendidikan.

Kedua busana tersebut merepresentasikan tradisi keilmuan, kerendahan hati, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap nilai spiritual dan sosial yang diwariskan para kiai.

Ia mengakui, sarung terkadang masih dikaitkan dengan keterbelakangan dan dianggap tidak sejalan dengan modernitas. Padahal, kemajuan seseorang tidak ditentukan oleh pakaian, melainkan oleh pengetahuan, pemikiran, dan kontribusinya kepada masyarakat.

"Padahal, ukuran modern atau tradisional itu bukanlah terletak pada pakaian yang kita kenakan, melainkan pada cara berpikir dan cara kita memandang sesuatu," tegas Basnang.

Ia mencontohkan banyak kiai dan santri yang tetap mengenakan sarung dan peci, tetapi memiliki pemikiran maju serta mampu menjawab persoalan zaman. Karena itu, pelestarian tradisi dan modernisasi seharusnya berjalan beriringan.


Sarung dan Peci sebagai Identitas Bangsa

Nasaruddin menjelaskan bahwa sarung mencerminkan kebersamaan, kesetaraan, dan kebebasan. Sementara itu, peci telah berkembang menjadi simbol kehormatan, spiritualitas, dan identitas kebangsaan yang digunakan dalam berbagai kegiatan kenegaraan.

"Peci itu adalah pakaian kebangsaan, pakaian spiritual, pakaian budaya, pakaian kehormatan," jelasnya.

Indonesia juga memiliki beragam sarung dan penutup kepala tradisional yang mencerminkan kekhasan daerah, mulai dari sarung Samarinda, sarung Bugis, sarung batik, hingga aneka kain tenun Nusantara.

Menurut Nasaruddin, keragaman tersebut menunjukkan bahwa pakaian tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga merekam sejarah, identitas sosial, dan nilai budaya masyarakat.

Ia berharap generasi muda tidak sekadar bangga mengenakan sarung dan peci, tetapi turut memahami filosofi yang terkandung di dalamnya.

Basnang menambahkan, Festival Sarung dan Peci Santri memiliki dua tujuan utama, yakni memperkuat kebinekaan budaya Nusantara serta menumbuhkan kebanggaan dan kepercayaan diri santri terhadap identitasnya.

"Melalui festival ini, kita membuktikan bahwa berbusana dengan sarung dan peci bukanlah sesuatu yang kuno. Berbusana tradisi pesantren adalah simbol kehormatan, keanggunan, dan keluwesan yang sangat siap menjawab dinamika dunia modern ini," ujar Basnang.

Festival tersebut diharapkan mengubah pandangan masyarakat terhadap busana pesantren agar tidak lagi dianggap terbatas pada lingkungan keagamaan, melainkan menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional.

Semangat ini sejalan dengan tema Hari Santri 2026, "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas", yang mendorong santri meningkatkan kapasitas dan pengabdian tanpa meninggalkan tradisi serta nilai kepesantrenan. 


Pelestarian Tradisi dan Peluang Ekonomi

Selain aspek budaya, Nasaruddin menilai penggunaan sarung dan peci secara lebih luas berpotensi mendukung industri kreatif dan pelaku usaha dalam negeri.

Ia mendorong inovasi desain agar sarung dan peci tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan ciri khasnya.

"Kalau perlu, mungkin juga ada modifikasi-modifikasi tertentu supaya sarung itu berkembang menurut zaman. Siapa tahu ada kreasi-kreasi baru model sarung yang khas, model peci yang khas," ungkapnya.

Festival Sarung dan Peci Santri 2026 juga menjadi ruang promosi bagi produk Nusantara, termasuk hasil usaha pesantren dan produsen nasional. Dengan demikian, pelestarian budaya diharapkan berjalan seiring dengan pengembangan kreativitas dan kemandirian ekonomi.

Bagi Ditjen Pesantren, upaya tersebut memperkuat peran pesantren bukan hanya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, tetapi juga sebagai penjaga tradisi dan penggerak pemberdayaan masyarakat.

Menutup arahannya, Nasaruddin mengingatkan bahwa warisan budaya perlu dirawat agar tetap hidup dan bermakna bagi generasi mendatang.

"Jangan hanya kita dibesarkan oleh budaya, tapi kita pun juga harus membesarkan budaya itu sendiri. Budaya dan diri kita harus saling membesarkan satu sama lain," pungkas Nasaruddin.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya