Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud dan Menteri Agama Naruddin Umar dalam Istighotsah Kebangsaan Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat (Foto: Istimewa)
Santri tidak hanya memiliki tanggung jawab menjaga agama dan tradisi keilmuan, tetapi juga berperan aktif mengawal pembangunan serta menjaga keutuhan bangsa.
Karena itu, santri didorong menyampaikan kritik dan masukan kepada pemerintah secara bijak, objektif, dan konstruktif.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud dalam Istighotsah Kebangsaan Hari Santri Nasional 2026 bertema “Bersatu dalam Doa, Bersinergi Menjaga Negeri” di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat, baru-baru ini.
Kiai Marsudi mengapresiasi program pembangunan yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia berharap program yang telah memberikan manfaat bagi masyarakat dapat diteruskan.
"Malam hari ini saya mengapresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto beserta Gibran yang telah melaksanakan program-program pembangunannya. Mudah-mudahan apa yang sudah bisa diterima masyarakat, kita bersyukur alhamdulillah dan terus dilanjutkan," ujar Kiai Marsudi, dikutip redaksi di Jakarta, Sabtu 24 Oktober 2026.
Meski mengapresiasi capaian pemerintah, ia mengingatkan bahwa pembangunan tetap membutuhkan pengawasan dan perbaikan. Menurutnya, santri dan masyarakat tidak perlu ragu menyampaikan hal-hal yang dinilai masih kurang, selama dilakukan dengan niat memperbaiki keadaan.
"Yang masih belum bisa diterima karena ada kurang ini atau kurang itu, mestinya begini atau begitu, ayo bareng-bareng kita sampaikan. Masih ada yang kurang, oh ini perlu diperbaiki, oh ini masih harus dijalankan terus. Kita sampaikan kritik-kritiknya, tapi jangan kritik yang merusak. Itu semua adalah demi membangun," tegasnya.
Ia menilai, kritik yang disampaikan secara tepat merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk memastikan pembangunan berjalan demi kepentingan masyarakat. Sikap tersebut juga sejalan dengan amanah santri untuk menjaga dan membela tanah air.
Kiai Marsudi mengingatkan prinsip hubbul wathan minal iman (cinta tanah air merupakan bagian dari iman) dan wad-difafu anil wathoni fardhu ain (membela tanah air merupakan kewajiban individual). Menurutnya, Indonesia tidak lahir begitu saja, melainkan melalui perjuangan panjang para ulama dan santri terdahulu.
Karena itu, menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak cukup dilakukan dengan mengenang sejarah. Santri juga perlu mengambil bagian dalam kehidupan berbangsa, termasuk mengawal kebijakan dan pembangunan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Lebih lanjut, Kiai Marsudi mengingatkan tiga pilar utama tugas santri sebagaimana pesan pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. Ketiganya adalah menjaga agama, menjaga guru beserta sanad keilmuan, serta menjaga negara dan bangsa.
Ia menekankan, ketiga tanggung jawab tersebut saling berkaitan. Menjaga agama berarti merawat nilai-nilai keislaman, sedangkan menjaga guru dan sanad keilmuan berarti mempertahankan kesinambungan ilmu serta tradisi keilmuan pesantren. Sementara itu, menjaga negara merupakan wujud pengabdian santri dalam merawat persatuan dan membangun kehidupan masyarakat.
"Membangun bangsa adalah suatu keharusan, baik membangun dari segi fisik dan infrastruktur maupun membangun kemaslahatan warganya, seperti yang dilakukan pesantren lewat pendidikan dan MUI lewat perekat persatuan," tambahnya.
Istighotsah Kebangsaan Hari Santri Nasional 2026 diselenggarakan melalui kerja sama Kementerian Agama RI dan Komisi Pesantren MUI. Acara tersebut dihadiri Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, serta sejumlah pejabat dan tokoh organisasi keagamaan.
Dalam kesempatan yang sama, panitia juga meluncurkan Program Pesantren Aman (Himayatuth Thullab bil Ma'ahid al-Islamiyyah). Peluncuran dilakukan KH Choirul Sholeh Rasyid selaku Ketua Panitia Istighotsah Kebangsaan Hari Santri MUI sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Pesantren, dilanjutkan dengan tabuh hadrah oleh para tokoh yang hadir.