Berita

Ilustrasi

Bursa

Saham DCII Bertahan di Rp182.975, Pendapatan Tumbuh 31 Persen hingga Kuartal III

JUMAT, 23 OKTOBER 2026 | 11:00 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) bergerak relatif stabil pada perdagangan Jumat pagi, 23 Oktober 2026, di tengah pertumbuhan pendapatan dan laba bersih emiten pengelola pusat data tersebut hingga kuartal III/2026.

Pantauan RMOL berdasarkan data perdagangan pukul 10.36 WIB, saham DCII tercatat di harga terakhir Rp182.975 per saham. Angka ini sama dengan harga penutupan perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026. 

Pada perdagangan Kamis, saham DCII bergerak dalam rentang Rp182.975 hingga Rp183.000 dan ditutup di level Rp182.975.


Saham DCII sempat menyentuh harga tertinggi Rp182.875 dan terendah Rp181.000, sebelum tercatat pada harga terakhir Rp182.975.

Aktivitas transaksi saham DCII terpantau terbatas. Volume perdagangan tercatat sebanyak 500 saham dengan nilai transaksi Rp91,25 juta dan frekuensi tiga kali transaksi. Adapun volume transaksi di pasar negosiasi mencapai 300 saham.

Di tengah pergerakan harga yang relatif stabil, kinerja keuangan DCII hingga September 2026 menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat, terutama dari sisi pendapatan.

Emiten penyedia layanan pusat data (data center) terkemuka di Indonesia ini  membukukan pendapatan Rp2,52 triliun hingga akhir kuartal III/2026, meningkat 31,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,92 triliun.

Kontributor utama pendapatan berasal dari jasa colocation, yakni penyewaan ruang dan fasilitas pusat data, yang mencapai Rp2,38 triliun. Sementara itu, pendapatan lainnya tercatat sebesar Rp144,7 miliar.

Berdasarkan jenis pelanggannya, pendapatan dari pihak ketiga mencapai Rp2,46 triliun, sedangkan dari pihak berelasi sebesar Rp61,7 miliar.

Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti kenaikan beban pokok pendapatan yang lebih tinggi. Hingga September 2026, beban pokok pendapatan DCII mencapai Rp1,23 triliun, meningkat 46,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp844 miliar.

Kondisi tersebut membuat laba bruto perseroan tumbuh lebih lambat daripada pendapatan. DCII membukukan laba bruto Rp1,29 triliun, naik 19,59 persen dibandingkan Rp1,07 triliun pada kuartal III/2025.

Meski demikian, laba bersih perseroan masih menunjukkan pertumbuhan positif. DCII mencatatkan laba bersih Rp919,8 miliar hingga akhir September 2026, meningkat 11,5 persen dibandingkan Rp824 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba bersih yang lebih lambat daripada pendapatan mengindikasikan bahwa kenaikan biaya perlu dicermati untuk menilai kemampuan perseroan mempertahankan profitabilitas seiring ekspansi bisnisnya.

Dari sisi neraca, total aset DCII per 30 September 2026 mencapai Rp10,06 triliun, meningkat 51,38 persen dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp6,64 triliun.

Pada periode yang sama, total liabilitas meningkat menjadi Rp5,13 triliun, dari Rp2,64 triliun pada akhir 2025. Sementara itu, total ekuitas bertambah menjadi Rp4,92 triliun, dibandingkan Rp4 triliun pada 31 Desember 2025.

Pertumbuhan aset yang diiringi kenaikan liabilitas menunjukkan pentingnya mencermati sumber pendanaan ekspansi DCII, termasuk dampaknya terhadap beban keuangan dan kemampuan menghasilkan laba pada periode berikutnya.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya