Berita

Presiden Prabowo Subianto saat memimpin rapat kabinet. (Foto: Setpres)

Politik

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

JUMAT, 23 OKTOBER 2026 | 06:57 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Para menteri dan kepala lembaga Kabinet Merah Putih diingatkan agar tidak cepat berpuas diri setelah Presiden Prabowo Subianto menyebut kinerja pemerintahannya selama dua tahun cukup membanggakan.

Pengamat politik Hendri Satrio alias Hensa menilai, pujian presiden seharusnya menjadi penyemangat untuk meningkatkan kinerja, bukan alasan bagi para pembantunya untuk terlena. Menurutnya, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dibenahi di sisa masa pemerintahan.

“Pujian presiden itu vitamin buat menteri. Asal jangan berubah jadi obat tidur, harusnya mereka sadar juga kalau ini kembali dibela kinerja mereka,” kata Hensa, Jumat, 24 Oktober 2026.


Ia menegaskan, penilaian terhadap kinerja kabinet tidak cukup hanya mengacu pada pernyataan presiden. Sebab, ukuran keberhasilan pemerintah yang sesungguhnya adalah dampak kebijakan yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“Yang bilang membanggakan itu Pak Prabowo, dan sah-sah saja. Tapi ‘membanggakan’ itu kata sifat. Rakyat butuhnya kata kerja, misal harga terjangkau, lapangan kerja ada, dapur tetap ngebul, kebijakan kelas menengah,” ucap dia.

Menurut Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu, keberhasilan pemerintah akan tercermin dari respons masyarakat, termasuk melalui hasil survei kepuasan publik.

“Kalau rakyat ikut bangga, enggak perlu diumumkan. Nanti kelihatan sendiri di survei,” imbuhnya.

Hensa juga menanggapi analogi sepak bola yang digunakan Prabowo ketika meminta pejabat yang merasa belum banyak berperan agar tidak frustrasi. Ia menilai, dinamika kabinet memang menyerupai tim sepak bola yang membutuhkan upaya pelatih untuk menjaga semangat seluruh pemain.

“Kabinetnya memang mirip tim sepak bola. Bedanya, bangku cadangannya panjang sekali. Wajar kalau pelatihnya harus rajin kasih semangat supaya yang duduk di bangku enggak ngambek,” kata Hensa.

Meski menganggap dua tahun pertama pemerintahan sebagai masa pemanasan, Hensa mengingatkan bahwa tiga tahun tersisa harus dimanfaatkan untuk menunjukkan hasil nyata. Menurutnya, pemerintah tidak bisa terus berada dalam tahap percobaan karena ekspektasi masyarakat terhadap kinerja kabinet semakin besar.

“Dua tahun pertama anggaplah pemanasan. Tiga tahun sisanya sudah harus cetak gol. Penonton di tribun itu sabar, tapi ada batasnya,” tandas Hensa.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya