Berita

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. (Foto: Istimewa)

Publika

Saking Kesalnya soal Karhutla, Politisi Malaysia Sampai Ngomong Bahasa Jawa

JUMAT, 23 OKTOBER 2026 | 05:37 WIB

KALAU ditanya warga Kalimantan, jawabannya “Udahlah, dah malas nak ngomong, tak gune!” Sudah hafal jawaban Pusat. Gimana kalau ditanya warga Malaysia soal asap. Ternyata mereka juga kesal. Saking kesalnya sampai harus gunakana bahasa Jawa. 

Diplomasi Indonesia-Malaysia sudah memasuki level ilmu gaib. Anggota parlemen Malaysia sampai harus memakai bahasa Jawa untuk mengadu kepada Presiden Prabowo Subianto soal asap karhutla. Bahasa Melayu mungkin kurang sakti, bahasa Indonesia mungkin kurang ampuh. Akhirnya, jurus pamungkas dikeluarkan, “Pak, mbok kobongane dipateni!”

Namanya Kalam Salan, anggota parlemen dari Sabak Bernam. Rabu 21 Oktober 2026, saat membahas Rancangan Anggaran Belanja Malaysia 2027 di Dewan Rakyat, ia meminta Prabowo segera memadamkan karhutla agar kabut asap tidak menjadi agenda tahunan lintas negara.


“Mungkin, pihak kepemimpinan sebelah sana kebanyakan orang Jawa tak paham cakap bahasa Melayu,” kata Kalam.

Waduh, cik! Ini bukan lagi diplomasi bilateral. Ini seperti warga mengadu kepada ketua RT, tetapi suratnya harus ditulis dalam bahasa leluhur supaya tidak berakhir menjadi alas gelas kopi.

Kalam pun mengeluarkan jurus ngoko. “Pak, asap songko kobongan asap kuwi nggawe masyarakat Malaysia susah ambegan. Akeh sing watuk, tenggorokan podo gathel, sesek ambegane. Sekolah nganti tutup, pariwisata dadhi sepi, lan uwong-uwong sing nyambut gawe ning kebun, raiso podho kerja.”

Artinya, warga Malaysia kesulitan bernapas, batuk, tenggorokan gatal, sekolah tutup, pariwisata sepi, dan pekerja perkebunan tak bisa bekerja.

Nuan bayangkan! Kalau bahasa Jawa pun tak mempan, tahun depan Kalam mungkin belajar bahasa Sunda. Tahun berikutnya bahasa Dayak. Kalau masih gagal, terpaksa menggunakan bahasa asap: Uhuk-uhuk, uhuk-uhuk! Atau kuluk-kuluk. Masih juga tak paham, ini bahasa terakhir, bahasa kodok minta hujan. Barangkali itu satu-satunya bahasa langsung dipahami semua pejabat.

Di akhir pesan, Kalam berkata, “Kulo matur suwun, Bapak Presiden.” Sopan sekali. Sudah mengadu soal sesak napas, masih sempat berterima kasih. Sementara asap tak punya tata krama. Masuk perbatasan tanpa paspor, menerobos paru-paru tanpa mengetuk pintu.

Kalam juga menyindir pernyataan seorang pemimpin Indonesia menyebut hutan Indonesia memasok oksigen bagi Malaysia. “Mulo, ojo malah iki digawe guyonan.”

Jangan persoalan ini dijadikan bahan bercanda. Ia mempertanyakan apakah pohon-pohon Malaysia terbuat dari plastik sehingga tak bisa menghasilkan oksigen.

Astaga! Pohon Malaysia ikut terseret dalam perkara internasional. Sebentar lagi pohon karet menggelar konferensi pers. “Kami bukan plastik, Pak. Kami juga bekerja, bukan cuma berdiri!”

Padahal, persoalannya serius. Kabut asap dapat memperburuk asma, mengganggu pendidikan, memukul pariwisata, dan mengancam pendapatan pekerja migran Indonesia. Ketika perkebunan terganggu, keluarga mereka di Tanah Air ikut menanggung akibatnya.

Kalam mengusulkan lima langkah: penegakan hukum bersama, sistem peringatan dini ASEAN berbasis satelit dan titik panas waktu nyata, tim tanggap darurat regional, penguatan pertanggungjawaban melalui Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas, serta dana regional untuk pencegahan kebakaran, pemulihan gambut, dan bantuan korban.

Ia juga meminta Malaysia mendorong Filipina, pemegang keketuaan ASEAN 2026, memperkuat langkah regional.

Pada hari sama, Wakil Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia, Syed Ibrahim Syed Noh, menyebut kedua negara sedang menjajaki nota kesepahaman lingkungan dan perubahan iklim. Malaysia juga menawarkan bantuan untuk kebakaran di Sumatra dan Kalimantan. Indonesia menerima tawaran itu, sementara pengerahannya masih dikoordinasikan.

Nah, inilah komedi bikin hati miris. Asap datang setiap tahun, rapat datang menyusul, nota kesepahaman ikut antre. Rakyat batuk berjamaah, pejabat berkoordinasi berjilid-jilid. Seolah-olah karhutla bisa diatasi pidato lalu rapat, rapat koordinasi. 

Jangan sampai tahun depan Kalam kembali berteriak, “Pak, tulung!” Lalu asap menjawab, “Maaf, saya tak paham bahasa tuan!” Waduh.

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya