Berita

Anggota DPR RI Fraksi PDIP, Rieke Diah Pitaloka (tengah). (Foto: RMOL/Faisal Aristama)

Parlemen

Legislator PDIP Soroti Regulasi Penghambat Kebijakan di Rezim Prabowo-Gibran

KAMIS, 22 OKTOBER 2026 | 19:35 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Persoalan regulasi, akurasi data pembangunan, hingga kedaulatan digital, dinilai perlu dibenahi untuk memperkuat implementasi kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Hal itu disampaikan Anggota DPR RI Fraksi PDIP, Rieke Diah Pitaloka dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026.

Rieke menilai, dua tahun pemerintahan Prabowo berlangsung di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi global yang tidak mudah. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah dalam merealisasikan visi dan misi pembangunan nasional.


Meski demikian, ia memandang gagasan pembangunan Prabowo sebagai momentum untuk mengembalikan arah pembangunan pada cita-cita kemerdekaan sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

“Indonesia maju belum tentu berarti ada keadilan dan kemakmuran. Karena itu, kita harus kembali pada visi Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,” ujar Rieke.

Menurutnya, pencapaian cita-cita tersebut bukan hanya tanggung jawab presiden, melainkan seluruh elemen negara, termasuk DPR, pemerintah, lembaga yudikatif, dan media.

Rieke menegaskan, pembangunan nasional harus berorientasi pada pemenuhan hak dasar masyarakat, mulai dari kebutuhan sandang, pangan, dan papan, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, jaminan sosial, perlindungan hukum dan hak asasi manusia, hingga infrastruktur serta lingkungan hidup yang layak.

Ia juga menekankan pentingnya data akurat sebagai fondasi perencanaan dan evaluasi pembangunan. Tanpa data yang mencerminkan kondisi riil masyarakat dan potensi daerah, kebijakan pemerintah berisiko tidak tepat sasaran.

Menurut Rieke, data pembangunan harus mengintegrasikan data numerik dan spasial agar pemerintah dapat memetakan persebaran penduduk serta kebutuhan masyarakat di setiap wilayah.

Ia turut menyoroti metodologi pendataan dan penggunaan kategori desil dalam menentukan kelompok masyarakat penerima program. Pembenahan sistem data dinilai penting agar bantuan dan kebijakan pemerintah benar-benar menjangkau warga yang membutuhkan.

Rieke menyebut kebijakan Satu Data Indonesia sebagai salah satu perkembangan penting dalam dua tahun pemerintahan Prabowo. Namun, ia mengingatkan bahwa keberadaan regulasi tidak cukup tanpa aturan pelaksanaan dan tata kelola kelembagaan yang efektif.

“Tidak mungkin pembangunan dilakukan tanpa data yang akurat. Data itu harus menunjukkan kondisi riil kehidupan masyarakat dan potensi Indonesia, dari desa hingga kelurahan di seluruh wilayah,” tegasnya.

Selain persoalan data, Rieke menyoroti sinkronisasi kebijakan dengan peraturan perundang-undangan. Ia mempertanyakan lambannya penyelesaian aturan turunan yang dibutuhkan untuk menjalankan sejumlah kebijakan pemerintah.

Menurutnya, gagasan presiden harus diterjemahkan ke dalam instrumen hukum yang jelas agar implementasinya tidak terhambat persoalan regulasi maupun perbedaan arah kebijakan antarlembaga.

Rieke mengingatkan bahwa DPR tidak cukup hanya menyampaikan kritik, tetapi juga harus menjalankan tanggung jawab konstitusional melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan.

Hambat Program Strategis

Legislator PDIP ini menilai ketidaksinkronan regulasi berpotensi menghambat program strategis pemerintah, termasuk pengembangan koperasi desa dan kebijakan pemenuhan gizi masyarakat.

Terkait program pemenuhan gizi, Rieke mendukung tujuan peningkatan gizi masyarakat. Namun, ia meminta pemerintah membenahi tata kelolanya agar program tersebut tidak sekadar menjadi pembagian makanan, melainkan terintegrasi dengan sistem kesehatan, pendidikan, penguatan produksi pangan, dan industri nasional.

Persoalan lain yang disoroti Rieke adalah penguasaan data dan ekosistem digital pemerintah. Menurutnya, transformasi digital tidak semata-mata berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyangkut kedaulatan negara dan kemampuan pemerintah mengendalikan sistem administrasinya sendiri.

Pemeran Sinetron ‘Bajaj Bajuri’ ini mengingatkan, pengelolaan data nasional dan ekosistem digital yang terpisah berpotensi memunculkan persoalan koordinasi, keamanan, serta efektivitas pelayanan publik.

“Yang perlu kita perhatikan bukan hanya persoalan demonstrasi di jalan, tetapi juga siapa yang mengendalikan data dan ekosistem digital kita,” kata Rieke.

Ia berpandangan, pengelolaan data dan digitalisasi pemerintahan harus ditempatkan dalam kerangka kedaulatan nasional, dengan koordinasi kuat di bawah kepemimpinan presiden.

Sistem pemerintahan digital, lanjutnya, juga perlu terintegrasi dengan berbagai sektor, mulai dari pelayanan kesehatan, kependudukan, imigrasi, hingga pertahanan dan keamanan. Integrasi tersebut diperlukan untuk menjaga keberlanjutan pelayanan publik sekaligus melindungi kepentingan masyarakat.

Rieke mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kerja sama dalam membenahi sistem data nasional, menyelaraskan regulasi, dan memastikan pembangunan berjalan sesuai amanat konstitusi.

Masih kata Rieke, keberhasilan pemerintahan tidak cukup diukur dari banyaknya program atau regulasi yang diterbitkan, tetapi juga dari kemampuan menerjemahkan kebijakan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Ini bukan hanya tanggung jawab Presiden Prabowo. Kita semua, termasuk anggota DPR, harus berhenti sekadar beretorika dan bersama-sama memperjuangkan pembangunan yang benar-benar berpihak kepada rakyat,” pungkasnya.


Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya