Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini)

Industri

Temasek dan GIC Punya Jejak Investasi di Indonesia, Kini Peluangnya Makin Luas

KAMIS, 22 OKTOBER 2026 | 08:46 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah Indonesia mendorong perluasan investasi Temasek Holdings melalui penjajakan kerja sama dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). 

Langkah ini sejalan dengan penguatan hubungan ekonomi Indonesia–Singapura, terutama di sektor energi bersih, infrastruktur, dan industri.

Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC) telah memiliki jejak investasi di Indonesia, mulai dari telekomunikasi dan perbankan hingga teknologi. Keduanya menjadi bagian dari lanskap investasi Singapura yang berpotensi mendukung pengembangan sektor strategis di Tanah Air.



Danantara Jajaki Investasi Temasek

Peluang kerja sama Danantara dan Temasek mencakup sejumlah sektor, termasuk energi terbarukan, kawasan industri hijau, dan perdagangan listrik lintas negara.

Pada CNA Summit 2026 di Jakarta beberapa waktu lalu, CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani menyatakan Indonesia terbuka untuk memperluas kolaborasi dengan investor negara lain, termasuk Temasek dan Khazanah Nasional dari Malaysia.

“Saya pikir inilah saatnya kita memperkuat kolaborasi antarnegara ASEAN, bukan hanya dalam perdagangan, tetapi juga investasi. Masih ada potensi yang belum tergarap dan bisa kita kembangkan bersama,” kata Rosan, dikutip redaksi Kamis 22 Oktober 2026. 

Menurut Rosan, investasi yang masuk juga harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Yang terpenting dari investasi berkualitas adalah menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Itu kuncinya jika kita ingin mencapai pertumbuhan yang lebih berkelanjutan,” ujarnya. 

Peluang kerja sama tersebut juga mencakup pengembangan energi bersih. Pada 6 Juli 2026, Indonesia dan Singapura kembali menegaskan komitmen mempercepat perdagangan listrik lintas negara. Danantara ditunjuk memimpin koordinasi dari pihak Indonesia dan menandatangani nota kesepahaman dengan Keppel Electric, Sembcorp Utilities, serta Singapore Energy Interconnections untuk menjajaki berbagai aspek kerja sama.

Kedua negara menargetkan pengembangan proyek perdagangan listrik lintas negara berkapasitas 3,4 gigawatt atau lebih pada 2035. Proyek tersebut diharapkan membuka peluang investasi dan menciptakan lapangan kerja di sektor energi bersih. Namun, kerja sama ini tidak otomatis berarti telah tercapai kesepakatan investasi langsung antara Danantara dan Temasek. 


Jejak Temasek di Berbagai Sektor

Temasek merupakan perusahaan investasi milik pemerintah Singapura yang berdiri pada 1974. Portofolionya mencakup jasa keuangan, telekomunikasi, teknologi, kesehatan, hingga energi dan lingkungan.

Salah satu keterkaitan bisnis Temasek yang dikenal luas di Indonesia berada di sektor telekomunikasi melalui Singapore Telecommunications Limited (Singtel). Perusahaan tersebut memiliki sekitar 35 persen saham Telkomsel, sedangkan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) merupakan pemegang saham mayoritas operator tersebut.

Keterkaitan ini memberikan Temasek eksposur terhadap industri telekomunikasi Indonesia melalui Singtel. Namun, hal itu tidak berarti Temasek secara langsung memiliki saham TLKM.

Jaringan bisnis terkait Temasek juga menjangkau sektor kesehatan dan agribisnis, termasuk Siloam International Hospitals Tbk (SILO) dan Olam International. Di sektor energi dan lingkungan, Sembcorp menjadi salah satu perusahaan yang relevan dengan peluang pengembangan kawasan industri serta energi bersih.

Perluasan investasi pada sektor-sektor tersebut sejalan dengan peluang kerja sama yang dijajaki pemerintah Indonesia, khususnya untuk mendukung transisi energi dan pembangunan industri yang lebih berkelanjutan.


GIC Masuk Perbankan Digital dan Teknologi

Selain Temasek, GIC merupakan pengelola investasi cadangan pemerintah Singapura yang berinvestasi di berbagai kelas aset dan pasar internasional.

Di Indonesia, GIC pernah tercatat berinvestasi pada PT Bank Jago Tbk (ARTO) dan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA). Keterlibatan tersebut menunjukkan eksposur GIC terhadap perkembangan layanan keuangan digital dan ekonomi berbasis teknologi di Indonesia.

Namun, kepemilikan saham dapat berubah seiring transaksi pasar dan aksi korporasi. Karena itu, investasi historis tersebut tidak otomatis mencerminkan posisi kepemilikan GIC saat ini.

Temasek dan GIC memiliki model investasi yang berbeda. Temasek berinvestasi melalui kepemilikan perusahaan dalam portofolionya, sedangkan GIC mengelola investasi pemerintah Singapura pada berbagai kelas aset. Keduanya tidak otomatis terlibat bersama dalam setiap proyek atau perusahaan.


Investasi Singapura dan Peluang bagi Indonesia

Singapura merupakan salah satu sumber utama investasi asing bagi Indonesia. Nilai investasinya di Indonesia mencapai sekitar 17,4 miliar dolar AS pada 2025, berdasarkan data yang disampaikan pemerintah. Angka tersebut mencakup investasi Singapura secara keseluruhan, bukan hanya investasi Temasek dan GIC.

Besarnya arus modal itu menunjukkan luasnya hubungan ekonomi kedua negara, mulai dari manufaktur dan kawasan industri hingga energi dan infrastruktur.

Bagi Indonesia, penjajakan kerja sama Danantara dan Temasek membuka peluang untuk menarik pendanaan jangka panjang bagi proyek strategis. Selain menambah modal, investasi diharapkan mendukung penciptaan lapangan kerja, pengembangan teknologi, dan penguatan industri domestik.

Tantangannya adalah menerjemahkan pembicaraan kerja sama menjadi proyek konkret yang layak secara komersial. Kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur, dan tata kelola yang baik akan turut menentukan keberhasilan upaya tersebut.

Dengan jejak investasi yang telah menjangkau berbagai sektor, Temasek dan GIC menjadi bagian penting dalam melihat hubungan modal Singapura dengan Indonesia. Kini, peluang berikutnya terletak pada kemampuan kedua negara memperluas kerja sama dan memastikan investasi yang masuk memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya