Berita

Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PDIP, Komaruddin Watubun. (Foto: RMOL/Faisal Aristama)

Politik

PDIP Anggap Sikap Forum Guru Besar Desak Gibran Mundur Bentuk Kecintaan pada Negara

RABU, 21 OKTOBER 2026 | 22:15 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Desakan ratusan guru besar agar Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mundur dari jabatannya pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait polemik ijazah, merupakan bentuk kecintaan mereka terhadap negara.

Demikian disampaikan Ketua DPP PDIP, Komarudin Watubun kepada wartawan di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Menurut Komarudin, surat terbuka yang disampaikan Forum Guru Besar Indonesia itu merupakan bagian dari tanggung jawab moral para akademisi dalam menyikapi persoalan kepemimpinan nasional.


"Itu kan penyampaian mereka tentang pertanggungjawaban mereka kepada kecintaan mereka kepada negara," kata Komarudin.

Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PDIP ini menegaskan, proses yang telah berjalan tidak serta-merta menghapus dugaan pelanggaran yang menjadi persoalan. Menurutnya, setiap pelanggaran tetap harus dipertanggungjawabkan meskipun proses politik telah berlangsung.

"Orang bilang, "Wah ini kan kalau orang yang otaknya di bawah rata-rata, pasti bilang, 'Ah, kan sudah jadi kok.'" Iya, sekarang kamu kalau apa, apa? Biar proses sudah dilaksanakan, sudah berjalan, tapi pelanggarannya tetap pelanggaran, makanya harus dihukum," tegasnya.

Sebelumnya, Forum Guru Besar Indonesia mendesak Gibran mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden melalui surat terbuka bertajuk “Menjaga Marwah Konstitusi, Etika Bernegara, dan Legitimasi Kepemimpinan Nasional”.

Surat tertanggal 19 Oktober 2026 itu ditandatangani ratusan guru besar dan disampaikan sebagai bentuk keprihatinan atas Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 terkait Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres 2024.

Forum Guru Besar Indonesia menyoroti persoalan moral dan etika terkait keabsahan dokumen pendidikan Gibran. Mereka juga menyinggung pertimbangan hakim yang dinilai belum menemukan bukti meyakinkan mengenai keabsahan dokumen pendidikan luar negeri yang setara dengan pendidikan SLTA sederajat saat pendaftaran Pilpres 2024.

Meski memahami MK tidak menjatuhkan sanksi diskualifikasi karena persoalan kedudukan hukum pemohon dan batasan prosedural, para guru besar menilai polemik tersebut tetap memiliki implikasi moral terhadap legitimasi kepemimpinan nasional.

Mereka mengidentifikasi tiga persoalan utama, yakni merosotnya keteladanan dan etika bernegara, krisis legitimasi di mata generasi muda dan institusi pendidikan, serta beban politik bagi Presiden dan stabilitas nasional.

“Bagaimana mungkin kami, para pendidik di perguruan tinggi, dapat terus menanamkan nilai-nilai integritas akademik, kerja keras, kejuangan, dan kepatuhan hukum kepada jutaan mahasiswa, jika di saat yang sama, posisi Wakil Presiden Republik Indonesia diraih melalui proses yang cacat secara administratif?” demikian petikan surat Forum Guru Besar Indonesia, dikutip Selasa, 20 Oktober 2026.

Forum tersebut menilai polemik legitimasi moral kepemimpinan berpotensi mengikis kredibilitas pemerintah di dalam negeri maupun di mata internasional.

Atas dasar itu, mereka meminta Gibran mengambil langkah kesatria dengan mengundurkan diri demi menjaga kehormatan lembaga kepresidenan dan etika kehidupan berbangsa.

“Oleh karena itu, demi menjaga marwah lembaga Kepresidenan, memulihkan etika kehidupan berbangsa, kebaikan serta keselamatan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan ini kami menghimbau dan mendesak Saudara Gibran Rakabuming Raka untuk segera mengambil langkah kesatria dan berjiwa besar dengan menyatakan Mengundurkan Diri dari jabatan Wakil Presiden Republik Indonesia,” tulis Forum Guru Besar Indonesia.

Surat terbuka itu mencantumkan 13 nama inisiator, yakni: 

1. Prof. M. Din Syamsuddin
2. Prof. Ryaas Rasyid
3. Prof. Ganjar Kurnia
4. Prof. Idrus Paturusi
5. Prof. Nuhfil Hanani
6. Prof. M. Nasih
7. Prof. Amran Razak
8. Prof. La Ode M. Aslan
9. Prof. Rochmat Wahab
10. Prof. Connie Rahakundini Bakrie
11. Prof. Nandang Sutrisno
12. Prof. Fathul Wahid
13. Prof. Lukman Hakim

Adapun, nama-nama Guru Besar Indonesia lainnya yakni: 

14. Prof. A. Zaenurrosyid
15. Prof. Abdul Basit
16. Prof. Abdul Haris Fatgehipon
17. Prof. Abrar
18. Prof. Achmad Nurmandi
19. Prof. Adam Wiryawan
20. Prof. Adang Djumhur Salikin
21. Prof. Agus Taufiq
22. Prof. Ahmad Badawi Saluy
23. Prof. Ahmad Sarbini
24. Prof. Akbar Silo
25. Prof. Alaiddin Koto
26. Prof. Ali Maksum
27. Prof. Aminuddin Ilmar
28. Prof. Aminuddin Mane Kandari
29. Prof. Amung Ma'mun
30. Prof. Andi Faisal Bakti
31. Prof. Andi Iqbal Burhanuddin
33. Prof. Armin
34. Prof. Asep Usman Ismail
35. Prof. Asmawi
36. Prof. Asna Husin
37. Prof. Bambang Irawan
38. Prof. Budi Santoso
39. Prof. Budi Setiadi Daryono
40. Prof. Bukhori Abdul Shomad
41. Prof. Bunyamin Maftuh
42. Prof. Burhanuddin
43. Prof. Chairul A. Nidom
44. Prof. Dedy Takdir Syaifuddin
45. Prof. Denny Indrayana
46. Prof. Deti Nurhayati
47. Prof. Didin Nurul Rosidin
48. Prof. Didin Saripudin
49. Prof. Dikdik Zafar Sidik
50. Prof. Dimyati
51. Prof. Djawahir Hejzziey
52. Prof. Dradjad Irianto
53. Prof. Dwi Agus Sudjimat
54. Prof. Elimartati
55. Prof. Endang Sutisna Sulaeman
56. Prof. Enjang Akhmad Juanda
57. Prof. Fauzan Saleh
58. Prof. Fauziyah Harahap
59. Prof. Firman D. Syah
60. Prof. Ghozali Maski
61. Prof. Hadi Machmud
62. Prof. Heni Noviarita
63. Prof. Herri
64. Prof. Heru Kurnianto Tjahjono
65. Prof. Heru Susetyo
66. Prof. Hesti Armiwulan Sochmawardiah
67. Prof. Ibrahim Siregar
68. Prof. Imam Suprayogo
69. Prof. Irza Sukmana
70. Prof. Jarnawi Afgani Dahlan
71. Prof. Kusman Ibrahim
72. Prof. La Rianda Baka
73. Prof. La Rianda Baka
74. Prof. Lukman Asha
75. Prof. Luqman Hakim
76. Prof. M. Aswin
77. Prof. M. Furqon
78. Prof. M. Janib Achmad
79. Prof. M. Sihab Ridwan
80. Prof. M. Syaom Barliana
81. Prof. Mahsun
82. Prof. Mahyuddin Barni
83. Prof. Mahyuddin K. M. Nasution
84. Prof. Mas Yedi Sumaryadi
85. Prof. Masruchin Rubai
86. Prof. Memed Sueb
87. Prof. Mhd. Buhari Sibuea
88. Prof. Moch. Qasim Mathar
89. Prof. Moch. Tolchah
90. Prof. Muhajir Utomo
91. Prof. Muhamad Syamsudin
92. Prof. Muhammad Chirzin
93. Prof. Muhammad Nur
94. Prof. Muharram
95. Prof. Mukti Ali
96. Prof. Muzakkir
97. Prof. Nadjib Bustan
98. Prof. Naelati Tubastuvi
99. Prof. Noermijati
100. Prof. Normuslim
101. Prof. Nur Hadi Ihsan
131. Prof. Suyata
102. Prof. Nurdin Saidi
103. Prof. Nurman
104. Prof. Nurul Barizah
105. Prof. Ridha Dharmajaya
106. Prof. Rofiaty
107. Prof. Rosdanelli Hasibuan
108. Prof. Roslina Alam
109. Prof. Rukmina Gonibala
110. Prof. Sardjuningsih
111. Prof. Sariffudin Fatmona
112. Prof. Selamat Triono Ahmad
113. Prof. Setyo Widagdo
114. Prof. Siswanto Masruri
115. Prof. Sri Puryono KS
116. Prof. Sri Zul Chairiyah
117. Prof. Suadi Sa'ad
118. Prof. Subandi
119. Prof. Sudarminto S. Yuwono
120. Prof. Sugeng Purwanto
121. Prof. Sugiyanto
122. Prof. Suhadi Ibnu
123. Prof. Suhana
124. Prof. Sukarmi
125. Prof. Sukirno
126. Prof. Sukron Kamil
127. Prof. Sumantri
128. Prof. Suparman Marzuki
129. Prof. Supiana
130. Prof. Suradi Wijaya Saputra
131. Prof Suyata
132. Prof. Syafiuddin
133. Prof. Syafrial
134. Prof. Syafruddin
135. Prof. Syafruddin Syarif
136. Prof. Syahidin
137. Prof. Syahrir Mallongi
138. Prof. Tajul Arifin
139. Prof. Takdir Rahmadi
140. Prof. Triyo Supriyatno
141. Prof. Umar Burhan
142. Prof. Unti Ludigdo
143. Prof. Wahyudi
144. Prof. Widiastuti
145. Prof. Yaslis Ilyas
146. Prof. Yayan Rahtikawati
147. Prof. Yayan Sopyan
148. Prof. Yeni Huriani
149. Prof. Yusri Yusuf
150. Prof. Zainal Muttaqin.


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya