Berita

Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto. (Foto: Istimewa)

Politik

Hasto ke Generasi Muda: Pemimpin Hebat Tak Boleh Menindas Rakyat Marhaen!

RABU, 21 OKTOBER 2026 | 21:27 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kristiyanto memberikan motivasi politik dan gemblengan mental kepada puluhan generasi muda saat menyampaikan materi dalam acara Muda-Mudi Sekolah Partai PDIP di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu petang, 21 Oktober 2026. 

Hasto meminta agar para pemuda-pemudi calon pemimpin bangsa ini banyak belajar dari semangat dan kepemimpinan intelektual serta narasi pembebasan rakyat Marhaen dari Proklamator RI, Bung Karno dan kepiawaian Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri di dalam menyelesaikan krisis multidimensi serta pelembagaan Partai.

"Mengapa Bung Karno dan Ibu Megawati bisa menjadi pemimpin? Syarat menjadi pemimpin itu, Anda harus membangun intellectual leadership dan membumikannya dalam kebijakan strategis yang menjawab persoalan rakyat. Pemimpin yang seperti ini menggelorakan harapan dan tidak boleh menindas rakyat Marhaen," tegas Hasto.


Hasto menuturkan, banyak orang yang mengaku pemimpin, sepertinya menunjukkan ketegasan, namun itu hanya di hadapan rakyat kecil, sementara di depan negara besar dan oligarki malah menunjukkan ketertundukan. Menurutnya, hal itu tidak boleh terjadi. 

“Bung Karno menjadi pemimpin karena berani melawan kolonialisme Belanda dan memiliki agenda dekolonialisasi yang mengguncangkan kemapanan negara-negara Barat. Ibu Mega menjadi pemimpin karena mendengarkan suara rakyat tertindas pada masa Orde Baru dan melakukan perlawanan terhadap Rezim Otoriter Orde Baru," tegasnya lagi.

Hasto menyatakan jika ada yang mengaku pemimpin, tetapi hanya berani pada rakyat kecil, maka itu cerminan mentalitas seperti seorang pecundang.

"Syarat menjadi pemimpin, kata Bung Karno, digerakkan oleh ide-ide besar bagi rakyat dan bangsanya, dan memiliki nyali untuk melawan tatanan kekuasaan yang jauh lebih besar, namun menindas," ungkapnya berapi-api.

Hasto pun menjelaskan, pada usianya yang masih sangat muda (16 tahun), Soekarno sudah melatih kepemimpinan intelektualnya.

Bung Karno terus mempertanyakan mengapa peradaban bangsa Indonesia yang begitu besar bisa terjajah oleh negara kecil. Dari sanalah, nyali perlawanan itu muncul.

"Yang dilawan oleh Bung Karno itu apa? Adalah apa yang dirasakan rakyat, ketidakadilan, kebodohan akibat sistem, penindasan, dan penyalahgunaan hukum. Itu yang dilawan. Meskipun lawannya adalah pemerintah kolonial Belanda," beber Hasto.

Nilai-nilai dan nyali kepemimpinan Bung Karno itu, kata Hasto, kemudian dipraktikkan secara nyata oleh Megawati Soekarnoputri.

Hasto mencontohkan bagaimana Megawati pada masa lalu berani berdiri melawan rezim otoriter Orde Baru di bawah komando Presiden Soeharto.

"Ibu Mega melihat rakyat terjajah, enggak bisa bersuara, enggak bisa berserikat, dan partai politik dibonsai," kata Hasto.

Kondisi tersebut tak lantas membuat nyali Megawati ciut. Ia justru melawan dengan ide-ide demokratisasi yang cemerlang.

"Bu Mega melawan dengan ide bahwa kekuasaan presiden itu tidak tak terbatas. Harus ada pemilu yang jujur dan adil. Ada kedaulatan rakyat untuk ikut menentukan nasibnya," ungkapnya lagi.

Lebih lanjut, Hasto mendesak para kader muda PDIP untuk tidak hanya mengandalkan otot, tetapi juga terus menggembleng diri dengan kekuatan intelektual guna menjawab berbagai persoalan rakyat.

“Membaca buku, berdiskusi, dan rajin mencari jawaban atas berbagai persoalan rakyat,” tutur dia.

Hasto meyakini, melalui pendidikan kaderisasi yang diimbangi dengan kepemimpinan intelektual tersebut, PDIP akan melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang dengan kemampuan komunikasi yang baik, berdiri kokoh membela kepentingan rakyat.


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya