Presiden Prabowo Subianto (Foto: BPMI Setpres)
Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia saat ini berada dalam posisi survival atau harus berjuang untuk bertahan di tengah situasi global yang penuh kerawanan.
Hal itu disampaikan Prabowo saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Halaman Tengah Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Dalam pidatonya, Prabowo mengingatkan bahwa keberlangsungan Indonesia bergantung pada kemampuan negara menjaga kekayaan alamnya.
Dia mengibaratkan kebocoran sumber daya alam yang terus terjadi seperti darah yang terus mengalir keluar dari tubuh
“Kita sekarang berada dalam kondisi harus survival. Kita harus bertahan. Kita harus menyelamatkan kekayaan kita. Kekayaan kita, sumber alam kita, itu adalah ibarat darah kita. Kalau darah kita bocor terus, tidak mungkin badan kita selamat,” kata Prabowo.
Menurut Presiden, kondisi yang mengharuskan negara berjuang untuk bertahan tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga banyak negara lain di dunia.
Prabowo mengatakan, Tatanan internasional saat ini semakin tidak menentu dan cenderung diwarnai politik berdasarkan kekuatan, sehingga negara yang tidak mampu memperkuat diri berisiko kehilangan daya tahan.
“Sekarang adalah politik berdasarkan kekuatan. Siapa yang kuat, dia akan survive. Yang tidak kuat, kita lihat apa yang terjadi di Timur Tengah, di mana-mana yang tidak kuat akan punah,” tegasnya.
Prabowo juga mengingatkan bahwa persaingan global telah meluas ke berbagai sektor, mulai dari mata uang, perdagangan, hingga pangan.
Karena itu, ia meminta kalangan elite dan akademisi tidak lagi memandang persoalan politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan secara terpisah, melainkan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan.
“Sekarang mata uang jadi senjata. Sekarang ekspor, impor jadi senjata. Sekarang pangan menjadi senjata, beras menjadi senjata. Jadi bisnis tidak bisa kita pandang hanya murni bisnis, tidak bisa,” ujarnya.