Berita

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat kabinet. (Foto: Setpres)

Politik

Prabowo Diminta Serius Benahi Kabinet dan Tuntaskan Polemik Gibran

RABU, 21 OKTOBER 2026 | 13:46 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menghadapi situasi kritis yang membutuhkan pembenahan serius, mulai dari memulihkan kepercayaan publik, mengevaluasi komposisi kabinet, hingga menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pengamat politik Ray Rangkuti mengingatkan, berbagai persoalan yang berkembang tidak bisa dianggap sepele karena berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Ia juga menyoroti kondisi pasar modal dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang menurutnya menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk berbenah.

“Yang pertama adalah selesaikan dulu kasus Gibran. Semua orang menunggu. Jangan dipikir ini hanya masalah politik, ini juga berhubungan dengan kepercayaan publik,” ujar Ray di kanal Youtube Bambang Widjojanto, Rabu, 21 Oktober 2026.


Menurut Ray, pemerintah juga perlu mengevaluasi penempatan pejabat kabinet agar lebih mengutamakan profesionalitas dan kompetensi dibandingkan kepentingan partai politik.

Ia menilai komposisi kabinet saat ini terlalu didominasi kalangan partai politik, sehingga penempatan pejabat perlu ditinjau kembali agar sesuai dengan kapasitas dan bidang yang ditangani.

“Dari dulu kita mengingatkan betul-betul cari anggota kabinet yang profesional. Ini 80 persen kabinet kita partai, ketua umum partai. Ditempatkan bukan pada tempatnya,” katanya.

Ray kemudian menyinggung Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang menghadapi tantangan dalam mengelola sektor kehutanan. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti bagaimana Raja Juli menjalankan tugasnya, namun menilai meluasnya karhutla perlu menjadi bahan evaluasi.

“Saya melihat dia (Raja Juli) orang baik dengan idealisme yang cukup waktu dulu sama-sama ketika mau mendirikan PSI. Nah, dia ditempatkan di Menteri Kehutanan. Saya tidak tahu bagaimana Raja Juli ini mengelola hutan. Terbukti sekarang ada karhutla yang luas sekali,” tuturnya.

Atas kondisi tersebut, Ray bahkan menyarankan Raja Juli mundur dari jabatannya apabila merasa posisi tersebut tidak sesuai dengan kapasitasnya. Menurutnya, pengunduran diri dapat menjadi teladan bagi pejabat lain untuk bersikap terbuka ketika menghadapi tanggung jawab di luar kemampuannya.

Di sisi lain, Ray mengkritik respons Prabowo terhadap berbagai persoalan nasional yang dinilainya cenderung menganggap enteng kritik. Ia mengingatkan bahwa kritik dari masyarakat, akademisi, maupun pengamat semestinya menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah.

“Pak Prabowo responsnya terhadap situasi anggap enteng semua,” tegasnya.

Ray menilai, berbagai persoalan yang muncul seharusnya menjadi momentum bagi Prabowo untuk mengevaluasi kebijakan dan mendengarkan masukan dari berbagai pihak.

“Pada akhirnya alamlah yang memberi pelajaran kepada Prabowo. Kalau dia mengabaikan pernyataan-pernyataan yang ia sebut sebagai antek asing, londo ireng, pakar goblok dan seterusnya, di sini kita melihat alam mulai berbicara kepada Prabowo. Tinggal Prabowo saja yang melihat apakah ini isyarat atau ini hanya sekadar permainan,” pungkasnya.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya