Tekanan pasar saham Indonesia akibat potensi penurunan status dari emerging market menjadi standalone market oleh MSCI membuat investor perlu lebih selektif dalam menentukan strategi.
Salah satu peluang yang dicermati adalah saham dengan imbal hasil dividen (dividend yield) tinggi, meski risiko penurunan harga dan keterbatasan likuiditas tetap perlu diperhitungkan.
Dalam riset tertanggal 20 Oktober 2026, UOB Kay Hian menyaring 45 emiten berdasarkan dividend yield, rekam jejak pembagian dividen, valuasi, dan kondisi neraca keuangan. Hasilnya, terdapat 10 saham yang dinilai menawarkan peluang pendapatan dividen, dengan karakteristik dan tingkat risiko berbeda.
Tiga Saham dalam Cakupan RisetUOB Kay Hian memberikan rekomendasi beli (buy) untuk tiga saham yang masuk dalam cakupan risetnya, yakni PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
AADI memiliki proyeksi dividend yield 11,9 persen untuk 2026, dengan potensi melampaui 12 persen apabila perseroan membagikan dividen khusus setelah divestasi tambang Kestrel. Prospeknya turut ditopang permintaan batu bara musiman. Target harga saham ini ditetapkan Rp14.300.
ELSA menawarkan proyeksi dividend yield 12,8 persen, didukung ekspektasi peningkatan permintaan jasa minyak dan gas serta pendapatan jasa seismik pada semester II-2026. Target harganya Rp1.450 per saham.
Sementara itu, ASII memiliki proyeksi dividend yield 11,8 persen. Daya tariknya turut ditopang program pembelian kembali saham senilai Rp8 triliun yang berlangsung Juli 2026 hingga Juli 2027, serta kebijakan rasio pembayaran dividen minimal 45-50 persen. Target harga ASII ditetapkan Rp7.100 per saham.
Tujuh Saham di Luar Cakupan RisetSelain ketiga saham tersebut, UOB Kay Hian menyoroti tujuh emiten lain yang memiliki potensi dividen tinggi, tetapi perlu dicermati dari sisi likuiditas dan keberlanjutan pembagian dividen.
PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), produsen kemasan plastik dengan pangsa pasar sekitar 32-35 persen, mencatat kenaikan laba bersih 112 persen secara tahunan menjadi Rp410 miliar pada semester I-2026. Kenaikan harga jual menopang kinerja perseroan, sementara permintaan kemasan dinilai relatif bertahan saat daya beli melemah. Dividend yield berpotensi mencapai 15,6 persen berdasarkan asumsi laba bersih 2026 Rp618 miliar dan rasio pembayaran dividen 95 persen. Dalam skenario lain, yield secara teoritis dapat mencapai 19,7 persen jika laba semester pertama disetahunkan dan 90 persen laba dibagikan.
PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) memiliki kas bersih Rp1,66 triliun per Juni 2026, setara sekitar 66 persen kapitalisasi pasar. Yield historisnya mencapai 14,1 persen, tetapi pembagian dividen pada 2025 melampaui laba per saham. Selain itu, laba bersih semester I-2026 turun 11 persen menjadi Rp205 miliar, di tengah persaingan perdagangan daring dan tekanan belanja masyarakat.
PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) mencatat dividend yield historis 12,2 persen dengan arus kas bebas (free cash flow/FCF) Rp342 miliar. Kemampuan mempertahankan dividen tetap bergantung pada volume penanganan kendaraan dan kebutuhan investasi terminal.
PT Master System Infotama Tbk (MSTI), penyedia infrastruktur teknologi informasi, memperoleh sekitar 54 persen pendapatan dari sektor perbankan. Perseroan memiliki kas bersih Rp832 miliar per Juni 2026. Dengan asumsi rasio pembayaran dividen 70 persen dan mengacu pada estimasi konsensus laba bersih 2026, yield berpotensi mencapai 11,5 persen.
PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO), distributor eksklusif perlengkapan kamar mandi TOTO di Indonesia, memiliki yield historis 12 persen. Perseroan mencatat FCF Rp324 miliar selama 12 bulan terakhir dan rasio utang terhadap ekuitas 0,11 kali. Meski demikian, kebutuhan persediaan, permintaan sektor perumahan, dan investasi manufaktur dapat memengaruhi pembagian dividen.
PT Delta Djakarta Tbk (DLTA), produsen bir, menawarkan yield historis 11 persen. Kas bersihnya setara 56 persen kapitalisasi pasar, dengan rasio utang terhadap ekuitas 0,01 kali. Namun, arus kas bebas dalam tiga tahun terakhir belum sepenuhnya menutup pembayaran dividen tunai.
Adapun PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM), penyedia jasa pemanduan dan penundaan kapal, memiliki pendapatan berulang dari layanan kapal di pelabuhan. Namun, kenaikan biaya bahan bakar menekan laba bersih semester I-2026 sebesar 24 persen secara tahunan. Dengan asumsi penurunan laba berlanjut dan rasio pembayaran dividen 70 persen, yield diperkirakan sekitar 8,1 persen.
Saham-saham di luar cakupan riset tersebut perlu dicermati karena likuiditas perdagangan yang relatif rendah dapat menyulitkan investor saat masuk maupun keluar dari posisi.
Saham Berkapitalisasi Besar Juga DicermatiUOB Kay Hian turut mencermati peluang pada saham berkapitalisasi besar, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), ASII, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).
Meski menawarkan potensi pendapatan dividen, saham-saham tersebut tetap berisiko terkena tekanan jual karena menjadi konstituen indeks MSCI.
Strategi InvestasiUOB Kay Hian menyarankan investor mempertimbangkan akumulasi saham secara bertahap ketika valuasi semakin menarik, alih-alih membeli sekaligus. Investor juga perlu memperhatikan likuiditas, kekuatan neraca, kemampuan menghasilkan kas, serta keberlanjutan dividen.
Dividend yield yang tinggi tidak otomatis menjamin keuntungan, terutama jika harga saham terus turun atau pembagian dividen tidak dapat dipertahankan. Karena itu, keputusan investasi perlu mempertimbangkan fundamental perusahaan dan risiko perdagangan, bukan hanya besarnya imbal hasil dividen.